Adi Sasono dan Mitos Manusia Berbahaya

ADI SASONOBILA Amien melangkah bersama Tauhid Sosial, Adi aktif menyuarakan soal dominasi Cina yang sudah tiga dekade dimanjakan Orde Baru.

Suara dan aksinya sebelum dan setelah duduk di pemerintahan (era B.J. Habibie) masih konsisten. Soal koperasi dan kedaulatan ekonomi rakyat tema yang digeluti Adi. Sasarannya: pengusaha Cina kelas kakap. Terutama para konglomerat.

Entah bagaimana, keberpihakan Adi pada rakyat pengusaha pribumi dipandang “aneh” lagi berbahaya. Masa krisis keuangan 1997-1998 yang direspons Adi dengan menyoroti perilaku konglomerat hitam China, malah ditanggapi sebagai kebijakan rasial. Asian Week memopulerkan, bersama Far Eastern Economic Review edisi ujung Desember 1998, Adi sebagai “Indonesia’s Most Dangerous Man”!

Adi pun tidak sekadar dikritik, tapi juga mulai “digarap”. Beberapa cendekiawan yang tidak suka ICMI, meski muslim sekalipun, mulai menyerang kebijakan dan retorika Adi. Yang disuarakan Adi sebetulnya fakta. Entah kenapa ihwal yang biasa saja terkesan begitu politis dan SARA. Seorang Gus pimpinan ormas Islam kala itu tidak sungkan mengamini pelabelan seram media asing pada Adi.
Baca Juga :

Adi, juga Amien, sejatinya suara jujur anak bangsa dari kantong Islam. Mereka tidak berjuang sempit demi kelompok atau primordialisme. Bukan pula takut asing dan investasi. Keduanya hanya perjuangkan keadilan. Amien vokal dalam kasus Freeport, pun bukan berarti tanpa misi kebaikan bagi negeri ini. Sayang, suara-suara tulus semacam keduanya acap dihadang kalangan sendiri yang memihak pihak lain dengan dalil dan dalih tafsirnya.

Adi dan Amien tidak selalu sejalan. Pernah keduanya di era partai politik marak selepas lengser Pak Harta, dipertarungkan. Seakan keduanya berseberangan. Perjuangan lama di era ICMI, Republika pun seakan pudar oleh euforia partai. Amien dengan PAN; Adi dengan PDR.

Saya menikmati tulisan mereka semasa keduanya duduk aktif di redaksi ahli Republika. Kolom “Resonansi” begitu terang, menohok, tak perlu puitis di kata-kata layaknya sebuah kolom halaman belakang sebuah majalah yang pernah dibreidel Pak Harto. Reputasi kolom di koran Republika adalah kejujuran. Dan gagasan kedua nama di atas dengan mudah ditemui di kolom tadi.

Adi dan Amien juga aktif menulis di tabloid besutan awak Republika: Tekad. Saya melanggani tabloid bernas dan analitis ini. Bersama tabloid sepupu jauh yang sempat populer era Orde Lama: Adil. Sayang analisis keduanya tidak dapat dibaca lagi sekarang seturut matinya kedua tabloid. Tabloid yang banyak seimbangkan aspirasi umat di tengah transisi demokrasi masa itu.

Saya sebetulnya hendak menampilkan foto sampul kedua tabloid yang mengulas kedua tokoh di atas. Sayang karena alasan teknis, belum dapat dilakukan. Semacam memorabilia atas wafatnya Adi Sasono yang saya dengar Sabtu malam lalu. Adi barangkali asing bagi anak muda era digital. Apatah lagi bila namanya diiringi label “seram” bikinan media asing, yang juga diam-diam disepakati beberapa koran lokal di sini. Adi tidak bakal utuh ditangkap sebagai sosok pejuang ekonomi kerakyatan, tapi sebagai lawan etnis tertentu. Dan ini mudah diseret sebagai sosok penggaung anti-kerukunan. Barangkali di sisi ini nama Adi “dipantaskan” dilupakan oleh banyak media pagi ini. Kecuali tentu saja Republika. Keterlaluan bila koran yang kini dimiliki penguasa grup Mahaka enggan memuat berita wafatnya Adi di halaman muka.  (Lebih lengkap klik www.islampos.com)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *