Apa Hukum Wudhu dengan Air Hangat?

wudhuWudhu termasuk salah satu rukun sahnya sholat. Seseorang yang ingin mendirikan sholat wajib berwudhu. Barangsiapa sholat tanpa wudhu atau tidak benar cara berwudhunya maka tidak sah sholatnya. Jika sholat kita tidak sah maka sama saja dengan tidak sholat. Untuk itu kita harus benar-benar memperhatikan wudhu sebelum sholat, tak perlu tergesa-gesa sehingga ada bagian yang terlewat dan membuat tidak sahnya wudhu.

Sebagaiama tertulis dalam ayat Alquran dan berdasarkan penjelasan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa urutan wudhu yang wajib mulai dari membasuh wajah, kedua tangan hingga siku, mengusap kepala, dan membasuh kaki hingga mata kaki.

Wudhu hanya salah satu cara bersuci dengan air dari hadats kecil sebelum melakukan sholat. Jika tidak ada air maka bisa dilakukan dengan tayamum. Air yang digunakan adalah air keran biasa. Akan tetapi pada beberapa keadaan ada seseorang yang berwudhu menggunakan air hangat, bagaimana hukumnya dalam Islam?

Air hangat ada dua macam jenis berdasarkan prosesnya. Pertama air yang dihangatkan menggunakan kompor atau direbus dan lainnya hangat karena paparan sinar matahari. Bagi Anda yang memiliki tandon di atap tentu airnya akan menghangat ketika siang hari. Sedangkan air hangat akibat perebusan baik melalui periuk maupun water heater kamar mandi biasa digunakan saat subuh dikala udara sekitar dingin.
Mengenai hal itu telah tersebar hadits tentang larangan bersuci dengan air hangat yang terkena matahari berikut ini:

‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masuk menemuiku sementara saya telah menghangatkan air dengan sinar matahari. Maka beliau bersabda, “Jangan kamu lakukan itu wahai Humaira (Aisyah) karena itu bisa menyebabkan penyakit sopak.” [HR Ad-Daraquthni, Ibnu Adi, Al-Baihaqi]

Hadits yang berasal dari jalan Khalid bin Ismail ini dikatakan tidak shahih oleh para ulama. Ibnu Adi bahkan mengatakan bahwa Khalid bin Ismail sering membuat hadits palsu sehingga tidak bisa dijadikan dalil atau dasar hukum larangannya.

Begitu pula riwayat yang sama dari jalan Urwah, sebagaimana berikut:

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang kami untuk berwudhu atau mandi dengan air yang dihangatkan dengan sinar matahari. Dan beliau bersabda, “Itu mengakibatkan penyakit sopak.”

Jadi kedua hadits tentang hukum wudhu dengan air hangat yang terkena sinar matahari adalah tidak benar. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Kesimpulan:

Air hangat yang terkena sinar matahari boleh digunakan untuk air wudhu selama tidak membahayakan kesehatan. Begitupun dengan air hangat yang direbus. Dr. Musthafa Bagha menjelaskan bahwa air hangat dari sinar matahari yang membahayakan jika berada di bawah daerah sangat terik, di dalam wadah logam selain emas dan perak, juga ketika digunakan untuk mandi seluruh badan.
Intinya air hangat boleh digunakan untuk berwudhu selama tidak membahayakan kesehatan dan selama air tersebut suci dari najis. Air tandon yang terbuat dari polyethylene di atas tidak mengapa digunakan untuk berwudhu pada siang hari karena tidak membahayakan, insya Allah. ( Kutipan lengkap lihat www.viva.co.id)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *