Belajar di Masa Pandemi, Belajar Mematangkan Kemandirian

Oleh: Emilya, S.Pd, Guru Mapel Biologi dan PKWU SMAN 1 Bengkalis

SUDAH lebih dari satu semester dan berjalan dua semester sejak dinyatakan pandemi COVID-19 sebagai bencana global. Dampaknya, dimana proses belajar mengajar mulai dari jenjang TK, SD/MI, SMP/MTS, SMA/SMK/MA dan PT dilakukan secara jarak jauh atau daring. Begitu pula dengan kelulusan anak, dimana diistimewakan dengan kelulusan siswa masa pandemi tanpa ada UN dan lainnya.

Timbul pertanyaan, sampai kapan proses belajar ini akan berakhir. Yang jelas, tidak ada yang bisa memastikan dan yang pasti proses belajar mengajar dari rumah akan terus berlangsung. Di tengah ketidakpastian itu, banyak sekolah juga melakukan kebijakan-kebijakan dilapangan dengan tidak bertentangan kebijakan nasional. Bagaimana siswa dan guru tetap mengikuti proses belajar mengajar secara lancar.

Interaksi fisik antara guru dan siswa sejatinya menjadi kunci pembelajaran di sekolah. Namun, sejak imbauan belajar jarak jauh di masa darurat COVID-19 dikeluarkan, aktivitas tersebut secara otomatis berubah drastis. Proses belajar mengajar dirasa semakin sulit, apalagi untuk kelas-kelas yang sifatnya membutuhkan banyak praktik, seperti misalnya kelas-kelas seni. Belajar ilutrasi, animasi, belajar instalasi seni, belajar bikin lukisan yang ukurannya dan lainnya. Makanya, disinilah kemandirian dalam belajar diharapkan dan guru yang berinovasi serta kreatifitas menjadi kuncinya.

Apalagi sesuai data dari hasil sebuah studi PBB melaporkan sepertiga siswa yang terkena dampak COVID-19 di seluruh dunia tidak memiliki akses ke pendidikan virtual. Anak-anak di Maharashtra, India terpaksa harus melewatkan kelas online karena tidak memiliki akses internet. Badan anak-anak PBB, UNICEF merilis laporan pada hari Rabu (26/08 2020) yang mencatat 463 juta anak di seluruh dunia kekurangan peralatan atau akses elektronik untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh.

PBB juga memperkirakan 1,5 miliar anak di seluruh dunia telah terpengaruh oleh kebijakan penutupan sekolah yang disebabkan oleh pandemi COVID-19. Laporan tersebut menggarisbawahi peran kondisi geografis terhadap akses anak-anak ke pendidikan jarak jauh. Dalam hal ini, Eropa lebih diuntungkan, dibandingkan misalnya di Afrika atau sebagian Asia. Laporan PBB didasarkan pada data yang dikumpulkan dari sekitar 100 negara, dengan mengukur akses publik ke internet, televisi, dan radio.

Bahkan anak-anak dengan akses yang memadai sekali pun, pembelajaran jarak jauh menciptakan kendala lain. Seperti minimnya ruang kerja yang baik di rumah, tekanan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, atau kurangnya dukungan teknis saat masalah komputer muncul, menurut laporan UNICEF. Di antara siswa di seluruh dunia yang tidak dapat mengakses pendidikan virtual, 67 juta berada di Afrika bagian timur dan selatan, 54 juta di Afrika bagian barat dan tengah, 80 juta di kawasan Pasifik dan Asia Timur, 37 juta di Timur Tengah dan Afrika Utara, 147 juta di Asia Selatan, dan 13 juta di Amerika Latin dan Karibia.

Ancaman ketimpangan pendidikan benar-benar berada di depan mata, kalau tidak disebut dengan keadaan darurat pendidikan global. Dampaknya akan bisa dirasakan pada ekonomi dan masyarakat selama beberapa dekade mendatang. Oleh sebab itu, menemukan kemandirian belajar yang mardeka sebagaimana konsep pendidikan ditawarkan era kepemimpinan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarrim adalah salah satu jalan yang bisa dilakukan. Konsep merdeka belajar adalah kemerdekaan berpikir. Dan terutama esensi kemerdekaan berpikir ini harus ada di guru dulu. Tanpa terjadi di guru, tidak mungkin bisa terjadi di murid. Tanpa guru melalui proses interpretasi, refleksi dan proses pemikiran secara mandiri, bagaimana menilai kompetensinya, bagaimana menerjemahkan kompetensi dasar, ini menjadi suatu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang baik.

Sedangkan, pembelajaran justru terjadi ketika guru bisa menerjemahkan kurikulum dengan mencari jalannya sendiri, baru keluar lagi kepada murid. Dengan terjadinya proses refleksi dan meta kognitif guru, maka barulah terjadi proses refleksi murid dan meta koginitif siswa. Ini adalah proses wajib dilaksanakan semua guru. Dan disinilah semua guru harus berpikir secara mandiri. Pembelajaran tidak akan terjadi jika hanya administrasi pendidikan yang akan terjadi. Paradigma merdeka belajar adalah untuk menghormati perubahan yang harus terjadi agar pembelajaran itu mulai terjadi diberbagai aspek disetiap sekolah.

Sedangkan kemandirian belajar, seperti dijabarkan oleh Benson dalam Teaching and researching autonomy in language learning (2011) adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan pembelajarannya. Selanjutnya, kemampuan ini berhubungan dengan proses penentuan tujuan belajar, pemilihan strategi, serta mengevaluasi apa yang telah dipelajari.
Dengan memiliki kemandirian belajar, seseorang akan cenderung menunjukkan beberapa karakter seperti berpikir kritis, memiliki motivasi intrinsik yang kuat, antusias dan bertanggung jawab pada pembelajaran, serta mengetahui pasti bakat dan minatnya. Karakter-karakter tersebutlah yang pada akhirnya akan menjadi penentu kesuksesan di masa depan.

Untuk bisa melihat anak didiknya sukses dimasa akan datang maka sebagai seorang guru, tentu akan sangat bahagia jika menemukan siswa menunjukkan tanda-tanda kemandirian belajar. Bekerjasama dengan individual yang memiliki motivasi besar untuk menaklukkan sebuah tantangan dalam pembelajaran adalah idaman setiap guru profesional.

Tapi terkadang dalam kenyataannya, memang terkadang didesain tidak melulu seirama dengan impian. Masih banyak siswa belum dapat menunjukkan sifat kemandirian belajar. Hal ini pada akhirnya berimbas pada performa yang tidak maksimal selama mengikuti pembelajaran, baik di sekolah ataupun rumah.

Pertanyaannya, bagaimanakah proses tumbuhnya kemandirian belajar? Menurut Nunan (1997), proses kemandirian belajar terjadi dalam lima tahapan yakni kesadaran akan pembelajaran, keterlibatan dalam memilih tujuan dan materi pembelajaran, intervensi dalam proses belajar, menciptakan tugas belajar secara mandiri, serta kemampuan menghubungkan pembelajaran dengan dunia luar.

Munculnya kelima tahap ini maka akan memberikan angin segar bagi tumbuh dan berkembangnya kemandirian seorang siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah. Oleh sebab itu, belajar mandiri di masa pandemi bukan berarti pula guru dan siswa bisa bersantai-santai di rumah. Belajar di masa pandemi justru menjadi ajang untuk melatih kemandirian dan tetap serius dalam mengejar setiap materi pelajaran yang diberikan. Tentunya, memerlukan beberapa strategi agar belajar mandiri di masa pandemi tetap berjalan efektif. Semoga covid-19 cepat berlalu***

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *