Budi Waseso: Saya Berhadapan Pembunuh Berencana

WARSESOSIAPA yang tak kenal Komisaris Jenderal Budi Waseso. Namanya tenar sepanjang 2015. Bukan hanya karena dia Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), tetapi sikap tegas yang dimilikinya, membuat semua orang mendadak memperhatikan Buwas, sapaan Budi Waseso.

Awal mula tenar pada 2015, ketika Buwas tiba-tiba diangkat menjadi kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, menggantikan Komisaris Jenderal Suhardi Alius. Sepanjang menjabat sebagai orang nomor satu di reserse Polri itu, gerak-gerik Buwas disorot.

Pria berusia 54 tahun kelahiran 19 Februari 1961 ini disorot lantaran dikait-kaitkan dengan wakil kepala Kepolisian Republik Indonesia, Budi Gunawan. Buwas dianggap sebagai tangan kanannya setelah banyak mendampingi Budi Gunawan ketika dia dicalonkan menjadi kapolri.

Puncak karier Buwas di Bareskrim Polri yakni berani menindak tegas ketua dan wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad dan Bambang Widjojanto. Aksi Buwas dan anak buahnya ketika itu memancing perseteruan antara kedua lembaga, yakni Polri dan KPK, bahkan sempat disebut Cicak vs Buaya jilid III.

Meski dicap sebagai “perusuh”, Buwas tak gentar. Anggota polisi lulusan akademi polisi tahun 1984 ini malah makin naik daun. Dia semakin menunjukan prestasinya dalam setiap pengungkapan kasus narkoba yang tengah jadi tanggung jawabnya sekarang.

Tim VIVA.co.id baru-baru ini berkesempatan mewawancarai Buwas secara langsung di kantornya di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Dalam wawancara tersebut, Buwas blak-blakan menceritakan mulai dari kehidupan pribadi hingga karier di kepolisian. Berikut petikan wawancaranya:

Kalau boleh tahu, sebenarnya apa cita-cita Anda?

Ya, saya ini kan cita-cita dari dulu menjadi polisi. Saya dari keluarga TNI Angkatan Darat. Tapi, pada akhirnya, saya sudah memilih profesi sebagai polisi. Sebenarnya hanya bertanggung jawab saja pada polisi, itu pilihan saya.

Karena di kala hidup ini pilihan, Siapa pun manusia, di kala sudah memilih hidupnya itu adalah pilihannya dia. Jadi, dia harus bertanggung jawab, karena kan pilihan itu tidak dipaksa atau terpaksa. Dan sekarang kita harus bisa membuktikan bahwa pilihan kita itu tidak salah. Dengan apa? Ya, kita kerja benar, kerja keras. Tidak lagi membanding-bandingkan dengan yang lainnya, gitu. Ya, itulah saya sebenarnya.

Orangtua dari kesatuan TNI, kenapa tidak mengikuti? Apa alasannya untuk lebih memilih polisi?

Saya kan hidup dari kecil dengan situasi di militer, ceritanya dulu kan anak kolong lah ya. Nah, mungkin ada faktor kejenuhan. Lalu, juga ingin melihat hal yang lain. Kalau zaman dahulu, hidup di asrama militer itu tidak bergaul dengan masyarakat, tidak seperti sekarang. Dulu itu kan mereka terisolir betul, jauh dari mana-mana dan tidak mudah bergaul.

Kita dalam lingkungan asrama keluar masuk harus ada penjagaan, melewati penjagaan, sehingga pada saat itu, saya mungkin berpikiran. Bukan hanya saya, tetapi semua putra-putranya ayah saya, berpikiran keluar lingkungan seperti itu.

Saya pada saat itu salah satunya kan melihat, ayah saya itu, kan salah satu profesi yang dia tidak suka kan polisi. Karena zaman dulu, polisi selalu diartikan dengan kegiatan yang negatif. Perilakunya, pekerjaannya, dulu terkenal pada zamannya ayah saya itu prit jigo.

Artinya, priiiiiit terus jigo (Rp25 ribu). Dan sebenarnya, itu yang menjadi salah satu rasa penasaran saya. Memang ada apa di kepolisian itu. Kok seperti itu. Citranya kok negatif. Itu mungkin yang menjadi salah satu pemicu saya untuk ingin tahu. Akhirnya, pada saat itu saya memilih jadi polisi.

Pada saat itu didukung ayah?

Enggak.

(Kutipan lebih lengkap klik. www.viva.co.id)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *