DPPK Wacanakan Rise Mill Unit Petani Butuh, Realisasi Tidak Jelas

tanam pagi2SELATPANJANG--Dinas Pertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Kepulauan Meranti, berencana akan membangun pabrik penggilingan padi (Rice Mill Unit).

Selain sangat dibutuhkan oleh petani watan. Rice Mill Unit tersebut juga sangat dibutuhkan untuk mengimbangi produksi padi, yang diprediksi akan bertambah pasca program cetak sawah di Kabupaten Kepulauan Meranti, Namun terkait kepastian realisasi pembangunan masih tanda tanya.

“Jika hasil panen melimpah, rencananya akan dibangun di Kecamatan Rangsang Barat dan Rangsang Pesisir. Ini masih rencana, bisa saja pembangunannya ditunda, tergantung hasil panen petani,” ujar Kepala DPPKP Kabupaten Kepulauan Meranti, Yulian Norwis, Minggu (2/10).

Kata dia, dua kecamatan itu merupakan daerah penghasil padi di Kabupaten Kepulauan Meranti dengan luas lahan sawah produktif sekitar 4 ribu hektar. Hingga tahun lalu, produksi rata-rata 3 ton per hektar. Periode pertama tahun ini terjadi kenaikan, produksi rata-rata 4 ton per hektar.

“Kami akan mendukung upaya masyarakat, mulai dari pengadaan bibit, pupuk serta pembukaan lahan baru. Selain itu, kami juga akan mendukung peningkatan pembangunan irigasi dan peralatan pasca panen,” ujarnya

Yulian Norwis mengatakan, rencana pembangunan penggilingan padi tersebut bisa diajukan melalui program Kementan RI dalam merevitalisasi penggilingan padi berskala kecil. Ia menjelaskan Rice Mill Unit (RMU) tersebut akan diprioritaskan pada daerah-daerah yang memiliki lahan sawah luas dan masih minim mesin penggilingan padi.

“Meski demikian kita akan prioritaskan daerah yang memiliki lahan sawah luas namun, minim penggilingan padi seperti di Desa Bina Maju,” kata dia.

Menurut dia, mesin penggilingan padi modern tersebut sangat dibutuhkan bagi masyarakat khususnya petani karena daerah itu masih belum memiliki banyak RMU modern yang bisa menjamin baiknya kualitas hasil penggilingan gabah pascapanen. Ia tidak menampik, jika selama ini beras hasil produksi petani masih kurang berkualitas, karena pengolahannya belum dilakukan secara modern.

“Dengan meningkatnya mutu gabah, maka harga jual beras juga akan meningkat. Ini nantinya akan berdampak pada ekonomi petani,” ujarnya.(*/FR).

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *