Dua Nelayan Meranti Ditabrak Kapal, Satu Tewas Terapung, Pompong Pecah

KARAM2SELATPANJANG — Nasib tragis dialami dua nelayan Desa Bungur dan Desa Sonde, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti. Berniat mencari ikan, perahu pompong yang digunakan tenggelam di perairan Desa Telesung, Kecamatan Rangsang Pesisir, Rabu (9/12) kemarin. Hancurnya perahu dua nelayan bernama Agus ( 48) warga Desa Bungur dan Safarudin alias Pendi (39), warga Desa Sonde, diduga ditabrak kapal. Puing-puing perahu nelayan itu pun terombang-ambing bersama perlengkapan penangkap ikan di perairan Telesung selama dua hari.

“Dua hari yang lalu (Rabu (9/12), red), kami dapat informasi dari seorang nelayan warga Desa Telesung. Mereka menemukan kapal nelayan yang biasa digunakan Agus dan Pendi hancur lebur di tengah laut. Puing-puing perahu nelayan dan alat tangkap ikan yang terombang-ambing di tengah laut itu membuat warga nelayan lain risau dan mengkhawatirkanAgus dan Pendi, karena di sekitar puing perahu itu mereka tidak ada, dan dikhawatirkan mereka hilang, tenggelam diperairan Telesung. Semua peralatan nelayan mereka mengapung dan berserakan di tengah perairan Telesung,” ujar Kepala Desa Telesung, Syamsuddin kepada wartawan, Jumat (11/12), melalui sambungan telepon gengam.

Syamsuddin menambahkan, menurut keterangan warga nelayan lainnya, setelah melihat puing-puing hancurnya perahu nelayan tersebut, diduga perahu tersebut ditabrak oleh kapal yang melintasi perairan Telesung-Selatsunda.

“Dari informasi yang ada, saat Agus dan Pendi tengah menangkap ikan di laut, saat itu ada sejumlah kapal ponton dan kapal besar lainnya melintasi perairan ini. Malam itu (Rabu 8/12)red) semua perahu nelayan yang ada di perairan itu, selain perahu Agus dan Pendi ini, segera ketepian pantai untuk menghindar dari kapal ponton dan kapal besar tersebut.Kemudian, esoknya (Kamis (10/12), red), perahu Agus dan Pendi sudah menjadi puing yang mengapun di tengah laut. Setelah diperiksa oleh warga nelayan Desa Telesung, Agus dan Pendi tidak ada diantara puing-puing perahu 6 GT milik Agus itu. Saya dan wargapun tak lengah melaporkan temuan ini kepada pihak kepolisian terdekat,” ungkap Syamsuddin.

Menurut Syamsuddin, setelah melaporkan peristiwa naas tersebut kepada pihak Kepolisian, sedikitnya 50 orang warga nelayan dari Desa Telesung, Sonde, dan Bungur, langsung melakukan pencarian terhadap kedua korban yang diduga tenggelam akibat tabrakan yang terjadi antara perahu nelayan dan kapal ponton tersebut, di perairan Desa Telesung-Selat Malaka.

“Sejak Kamis (10/12) pagi, saya bersama anggota Pospol dan Babinsa di Desa Telesung,bersama sekitar 50 orang warga nelayan  lainnya melakukan pencarian korban. Pencarian dua orang korban ini dilakukan dengan tiga kapal nelayan dan satu kapal Basarnas Riau. Alhamdulillah, jasad Agus kami temukan Jumat (11/12), tepatnya pukul 13.00 WIB di perairan Telesung, tak jauh dari lokasi puing perahu milik korban. Tinggal satu orang korban lagi yang belum ditemukan,” kata Syamsuddin.

“Saat ini jasad Agus yang ditemukan sudah tidak bernyawa dengan luka di kepala ini, dibawa ke rumahnya di Desa Bungur, dan akan diidentifikasi oleh pihak Kepolisian,” lanjut Syamsuddin.Syamsuddin menambahkan, pencarian nelayan korban tenggelam tersebut terus berlanjut, dengan dibantu Tim Basarnas Riau dan pihak Kepolsian jajaran Polres Kepulauan Meranti dan TNI, puluhan warga terus melakukan pencarian dengan memasang berbagai macam jaring tangkap ikan guna menemukan korban tenggelam bernama Pendi (39) yang diketahui merupakan warga Desa Sonde tersebut.

“Setelah berhasil menemukan korban Agus, kita tetap terus melakukan pencarian korban Pendi. Bersama Tim Basarnas, Polisi, TNI AD dan puluhan warga, kita akan terus berupaya maksimal menemukan korban,” kata Syamsuddin.Begini cerita naas itu. Dinginnya embun dan hembusan angin pada dini hari itu, tak dihiraukan Agus dan Wan Safarudin alias Pendi (39). Mereka berdua tetap melaut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, lagian pekerjaan ini memang sudah bersebati dengan mereka sebagai nelayan.Pada malam naas itu, bukan hanya Agus dan Safarudin saja yang menembus malam dengan kapal pompong untuk pergi melaut, tapi sejumlah warga lainnya juga melakukan rutinitas itu, menjaga jaring gumbang yang telah terpasang di prairan Desa Telesung.

Namun, sekira pukul 04.00 WIB, cerita Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Zahwani Pandra Arsyad SH MSi yang mendapat laporan, saat nelayan lain sudah merapat ke tepi, lampu pompong Agus dan Safarudin tidak terlihat berkedip lagi sehinga awalanya pencarianpun dilakukan keluarga dan dibantu warga setempat.Kepala Desa Telesung dan Bhabinkamtibmas yang juga ikut melakukan pencarian, sekira pukul 16.00 WIB, menemukan pompong yang digunakan korban, tenggelam dan dilakukan penarikan ke pinggir pantai. ”Sayangnya, sejauh ini baru satu korban yang ditemukan,” sedih Pandra.

Upaya pencarian terus dimaksimalkan, sehingga Polres Meranti melakukan koordinasi dengan Tim SAR Provinsi Riau dan tim terdekat dari Bengkalis untuk diminta bantuan. “Tim sudah berkerja bersama dengan warga setempat, termasuk TNI dan Polri. Kita juga mengimbau kepada seluruh warga masyarakat Kepulauan Meranti untuk selalu waspada, dan membawa peralatan keamanan lengkap ketika hendak melaut,” kata Pandra.Di tengah kesibukannya mengawal dan mengamankan pelaksanaan Pilkada, Pandra mengaku pihaknya jelas melakukan penyelidikan terkait kasus ini. Sebab, sesuai informasi yang dia peroleh dari pihak BMKG pada saat kejadian cuaca cukup baik, tidak ada angin ribut dan badai. Bahkan, diketahui tingginya gelombang tak sampai satu meter.”Kita melakukan penyelidikan terhadap kasus ini dengan memintaketerangan dari saksi pada kejadian itu, yakni nelayan lainnya. Dan memang sesuai informasi yang kita peroleh, pada saat kejadian cuaca cukup baik,” ungkap mantan Bujang dan None Jakarta itu.(net/FR)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *