Eddy A Mohd Yatim: Selalu Berpegang Teguh Fatsun Politik

edyBERPOLITIK tidak hanya sekadar berharap mendapatkan posisi dan kekuasaan. Seorang politisi harus memiliki fatsun (etika, red) dengan pola pikir berbuat dan berjuang untuk kepentingan orang banyak. Bukan hanya mengedepankan kepentingan pribadi serta kelompoknya semata. Demikian pandangan politik Eddy A Mohd Yatim, S.Sos, M.Si yang kembali duduk di kursi DPRD Provinsi Riau periode 2014-2019.

Sebagai wakil rakyat, politisi Partai Demokrat ini mengaku akan memegang teguh amanah yang diembannya saat ini. Dengan satu tujuan, mengangkat serta memperjuangkan marwah masyarakat Riau dari sisi politik dan peradaban.

“Soal politik di Riau hari ini dan kedepan, saya berharap cepat sampai pada proses pendewasaannya. Artinya, mereka yang memilih jalur politik sebagai profesi mesti berpegang teguh pada fatsun. Berpolitik bukanlah proses saling membunuh, jika kita mempunya tujuan dan kepentingan yang sama. Namun bagaimana memenej-nya secara ellegant tanpa merugikan teman, orang lain dan masyarakat,” urai Eddy Yatim.

edy2edy3Sehingga dengan kedewasaan berpolitik seperti itu, masyarakat tidak semakin berpandangan miring terhadap seorang politisi. Tapi kan ini, kata Eddy Yatim, sangat bergantung kepada siapa orangnya dan bagaimana integritas personalnya.

“Sebenarnya berperan dalam jalur politik itu profesi yang mulia. Sebab, dari jalur inilah kebijakan-kebijakan strategis yang dilahirkan untuk kepentingan masyarakat, daerah dan negara. Coba saja lihat para politisi masa lalu yang menjadi negarawan seperti Soekarno, Hatta dan lain-lain. Mereka menjadi besar karena integritas personalnya,” jelas Eddy Yatim lagi.

Eddy yang besar dan tumbuh dari dunia jurnalistik ini menilai, berpolitik itu sama halnya menjadi seorang jurnalis. Intinya, menjadi penyambung aspirasi bagi masyarakat. Sebagai jembatan kepentingan masyarakat, politisi harus kokoh pada etika dengan mengedepan kehendak rakyatnya.

“Jadi berpolitik dalam pandangan saya bukanlah proses saling membunuh. Ini kan tidak, jika kita punya tujuan dan kepentingan yang sama untuk menjadi bupati/ gubernur atau jabatan politik apalah namanya, kita cenderung melihat para politisi berubah menjadi kanibal. Tidak mau membuka ruang humanis-nya, dikarenakan takut jika kekuasaan yang direbut tidak didapatkannya. Ini sangat merusak, sehingga dunia perpolitikan kita terkesan saling bunuh,” kata Eddy Yatim.

Eddy Yatim dengan tegas mengatakan bahwa sebagai anak jati Melayu, dan pewaris sah negeri ini, dia sangat menyayangkan berpolitik dengan imej negatif seperti ini tertanam di tengah-tengah masyarakat Riau. Menurutnya, hal ini disebabkan keegoan dan ketidak-arifan kita dalam menyikapi proses suksesi kekuasaan dengan sistem politik yang terbuka seperti ini.

“Lihat saja bagaimana tokoh-tokoh politik kita yang berakhir dengan perjalan kurang baik. Jujur saja, ini kan karena politik saling bunuh tadi. Masing-masing mencari-cari kesalahan, jadilah seperti itu. Kalau mau cari salah, siapa manusia yang tidak punya salah dan daerah mana di republik ini yang benar-benar bersih dalam penyelenggaraan pemerintahan. Akhirnya apa, orang lain tepuk tangan dan menangguk untung karena tokoh-tokoh kita mati terbunuh,” papar Eddy Yatim dengan mimik sedikit geram.

Eddy Yatim, saat ini duduk di Komisi A DPRD Provinsi Riau menggantikan Eko Suharjo yang mengundurkan diri karena maju sebagai Wakil Walikota Dumai dalam Pilkada serentak. Dia mewakili daerah pemilihan Bengkalis, Dumai dan Kepulauan Meranti. Sebelumnya, penggagas Provinsi Riau Pesisir yang sekaligus juga Sekretaris Umum Badan Pekerja Pembentukan Provinsi Riau Pesisir (BP3RP) ini sempat duduk beberapa bulan di kursi anggota dewan periode 2009-2014 menggantikan posisi Raja Thamsir Rachman.

Pria kelahiran Bengkalis 17 Februari 1968 ini tidak asing bagi kalangan wartawan di Riau, karena memang berasal dari jurnalis dan menekuninya dari bawah. Sebagai wartawan, pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Riau ini sempat beberapa kali menjadi pemimpin media massa besar seperti Sijori Pos (sekarang Batam Pos, red), Riau Pos dan Sumut Pos. Sempat pula mendirikan Harian Pagi Riau Tribune yang kemudian berganti nama menjadi Harian Umum KORAN RIAU. Suami dari Ernita, S.Sos dan ayah dari Rofi Badar Alfawwazi serta Datin Zahra Adawiyah ini merupakan jebolan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau.***

(Kutipan lebih lengkap klik www.goriau.com)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *