Endy Abdurrahman; Mimpi Pionir Bank Syariah

ekosyariahSEJAK pagi pria berkacamata itu telah sibuk dengan aktivitasnya. Hari itu, Minggu, 20 Desember 2015, menjadi hari bersejarah bagi dia dan segenap karyawan yang dia pimpin. Direktur Utama Bank Muamalat Endy Abdurrahman berangsur akan menempati markas baru di Muamalat Tower, Kuningan, Jakarta.

Endy mungkin baru setahun menjabat sebagai orang nomor satu di lembaga pionir perbankan syariah di Indonesia itu. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Direktur HRD Bank Ekonomi, bank bersistem konvensional di bawah naungan HSBC.

Tetapi, di bawah kendalinya, Bank Muamalat bekerja keras untuk menjadi yang utama di industri perbankan syariah. Sejumlah harapan tersemat, Bank Muamalat harus bisa menjadi pembeda dengan sistem konvensional.

Meski begitu, Endy mengaku ada tugas berat ke depan. Walaupun sebagian besar penduduk Indonesia merupakan Muslim, banyak dari mereka belum akrab dengan sistem perbankan syariah. Hal ini menjadi tantangan bagi Endy dan seluruh karyawan Bank Muamalat untuk memperkenalkan sistem syariah secara lebih massif.

Disela peresmian kantor baru, jurnalis Dream Maulana Kautsar bersama sejumlah jurnalis media lokal, sempat mewawancarai Endy. Dia menceritakan mengenai kiprah ekonomi syariah dan perjalanan pionir Bank Muamalat. Lantas apa mimpinya dalam bisnis perbankan syariah ini?

Bank Muamalat dikenal sebagai pionir bank syariah di Indonesia. Bagaimana Bank Muamalat membawa perubahan gaya hidup masyarakat?

Bank Muamalat sebagai pionir dalam perbankan syariah ini punya tugas dan kewajiban untuk memberikan sebanyak mungkin infrastruktur dan kesempatan sehingga kalangan Muslim dapat berbanking dengan industri syariah. Karena yang kita berikan tidak ada bedanya dengan bank-bank konvensional. Dari sisi produk, convenience, kenikmatan dan lain sebagainya. Nah itu yang tugas kami untuk membangkitkan semangat syariah kepada lebih luas.

Bagaimana Anda melihat pertumbuhan ekonomi syariah? Melihat asetnya sendiri sudah sekitar 5 persen?

Saya rasa kalau kita berbicara dan melihat pertumbuhan asetnya, memang agak tertahan 5 persen. Tapi kalau kita melihat jumlah masyarakat penabungnya jumlahnya jauh lebih banyak.

Orang Indonesia jauh lebih banyak bermain di retail?

Ya (masyarakat) Indonesia lebih banyak di retail. Kalau kita tiga aspek industri syariah, ada retail consumer, corporate banking, dan ada investment banking. Kalau investment banking memang yang besar ada di Timur Tengah dan Eropa. Kalau kita bicara corporate banking mungkin yang besar di Malaysia. Kalau kita bicara retail consumer, dunia melihat Indonesia sebagai pusatnya. Kalau kita melihat total jumlah nilainya, jumlahnya mungkin kecil, tapi cakupan nasabah, jumlahnya sangat besar. Bank Muamalat sendiri nasabahnya sudah mencapai empat juta lebih.

(kutipan lebih lengkap baca: www.dream.co.id)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *