Eri Bob, Sang Maestro Melayu-Jazz dari Riau

PERISTIWA aneh di luar nalar seringkali mengiringi peristiwa yang bersejarah, karena segala hal yang terjadi akan punya arti pada masanya. Kisah ini tentang sebuah kaset misterius yang membentuk seorang Eri Bob, hingga menjadi seorang komposer Melayu-Jazz satu-satunya di Provinsi Riau, bahkan di Indonesia.

“Awal perkenalan saya dengan musik jazz itu unik, dari sebuah kaset yang tiba-tiba ada dirumah saya. Sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa yang meletakan disana,” kata Eri Bob kepada Antara di Pekanbaru, awal Januari 2017.

Banyak orang yang tidak mengira kalau dari Riau bisa muncul seorang komposer berbakat yang berhasil memadukan musik tradisi melayu dengan jazz. Eri Bob lahir dengan nama Heri Syahrial, di daerah pesisir bernama Damon yang merupakan sebuah desa di Kabupaten Bengkalis, Riau.

Kondisi desa itu dimasa lalu masih serba sulit mulai dari keterbatasan infrastruktur jalan dan listrik sering padam. Hiburan paling mudah adalah siaran radio dan TV dari Malaysia.

Ia masih ingat saat itu masih duduk dibangku SMP ketika menemukan kaset misterius itu dirumahnya. Kaset itu adalah album sebuah band barat, yang hingga kini ia tak pernah tahu namanya. “Musiknya jazz sangat kental, sangat aneh karena tak pernah dengar itu. Apalagi dulu pengaruh musik ya dari siaran TV Malaysia saja, kebanyakan musik Melayu dan India,” ucap pria 51 tahun itu.

Eri Bob muda kemudian terus-terusan memutar kaset itu diradio rumahnya. Secara tidak langsung, musik jazz mulai tertanam dialam bawah sadar Eri Bob yang membentuk warna musiknya kini. Padalah, ia sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal untuk mendalami jazz.

“Instrumen musik yang pertama saya adalah gitar, ingat sekali itu beli dari orang-orang TKI yang kerja di Malaysia. Harganya Rp15 ribu, mereknya Kapok. Kawan-kawan saya saat itu berlomba-lomba belajar gitar. Kalau sudah bisa main lagunya Ebit G. Ade saat itu sudah keren sekali rasanya,” ujar Eri Bob.

Selepas tamat SMA, Eri Bob merantau ke Kota Pekanbaru dan makin mendalami musik. Skill jazz Eri Bob makin diasah oleh seorang bule Belanda pada 1987. Eri hanya mengingat bule itu kerap dipanggil Woh, seorang mahasiswa jurusan bahasa yang sedang melakukan penelitian di Riau.

Keduanya berkenalan saat bermusik di Hotel Sri Indrayani di Jalan DR Sam Ratulangi, Pekanbaru. “Bule itu bisa bahasa Indonesia, kebetulan jago jazz karena pernah dua tahun sekolah musik di Belanda. Dia mau berbagi ilmu, jadi saya belajar tentang kord (kunci) jazz sama dia,” katanya.

Eri Bob juga masih mengenang sosok Yan Harris, yang disebutnya sebagai pengusaha sekaligus seniman yang membangkitkan musik jazz di Riau. Selain itu, ada juga nama Yusmar Yusuf, budayawan Riau yang menyemangatinya untuk memadukan musik jazz dengan musik tradisi melayu.

“Sekitar tahun 2000 mulai memadukan keduanya (melayu-jazz). Saya tak belajar khusus musik tradisi karena melayu sudah mengakar dalam diri saya. Dukungan dari Yusmar Yusuf, saat itu dia masih dosen di Universitas Riau sangat besar, dan dia yang bikin lirik untuk semua lagunya,” turut Eri Bob yang mengaku juga terpangruh oleh band jazz Yellow Jacket, Dave Weckl dan Chick Corea dalam bermusik.

Dan seterusnya adalah sejarah, Eri Bob membentuk band bernama “Geliga” yang dalam bahasa melayu berarti cerdas dan berkilau laksana batu mulia. Sebuah warisan mahakarya yang
mengharumkan nama Riau, meski kini masih terpinggirkan.

Sumber : antarariau

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *