Erick Thohir: Pebisnis Internasional yang Nasionalis, Hingga Mulus ke Kursi Menteri BUMN

Erick Thohir

FULLRIAU.COM — BANYAK orang bertanya – tanya bagaimana kisah sukses Erick Thohir. Seorang pengusaha yang mengakuisisi saham Inter Milan pada 2013 lalu, klub bola berskala internasional dari Italia. Nama Erick Thohir langsung melejit. Menjadi pemilik saham terbesar sebuah klub sepak bola besar tentu saja bukan perkara mudah. Apalagi jika klub tersebut adalah klub yang berskala internasional.

Namun, hal itu menjadi mungkin dan dibuktikan langsung oleh salah seorang anak bangsa bernama Erick Thohir. Dia menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil memiliki salah satu klub tenar di jagat sepakbola. Gelontoran dana sebesar 350 juta Euro (sekitar Rp 5,3 triliun) saat itu berhasil membuatnya menjadi pemilik saham terbesar klub sebanyak 70 persen.

Banyak pihak yang mengangkat nama Erick Thohir dan menjadikannya berita di halaman depan. Sebagai anak bangsa, hal ini tentu saja membuat nama Indonesia ikut terangkat.

Bagi pecinta sepak bola, mungkin menjadi cita-cita Anda untuk menduduki jabatan presiden klub bola favorit. Namun, rasanya cita-cita itu terlalu tinggi, begitukah? Erick Thohir berhasil mewujudkan cita-cita ini di tahun 2013 lalu.

Bagaimana ia bisa mencapainya? Simak artikel berikut untuk belajar dari pengalaman Erick Thohir.

Perjalanan Erick Thohir hingga bisa menjadi pemilik saham tertinggi klub sepak bola kelas dunia bukanlah sesuatu yang instan. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dengan berkaca kepada perjalanan Erick Thohir ini.

Kemudian publik makin mengenalnya setelah dirinya sukses menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Kemampuan Erick sebagai seorang pengusaha memang sudah tidak diragukan lagi. Berbagai media, baik itu berupa situs berita, radio maupun stasiun tv berada di bawah kendalinya. Berbagai klub olahraga dalam dan luar negeri juga pernah dia kuasai.

Bagi yang ingin mengenal sosoknya lebih jauh, ini dia sejumlah fakta tentang kisah sukses sosok Erick Thohir.

Keluarga Erick Thohir
Orang Tua : Teddy Thohir (ayah), Edna Thohir (ibu)
Saudara : Garibaldi Thohir, Rika Thohir.
Istri : Elizabeth Tjandra
Anak : Mahatma Arfala Thohir, Mahendra Agakhan Thohir, Makayla Amadia Thohir, Magisha Afryea Thohir

Mandiri Meski Orang Tua Tajir

Erick Thohir terlahir di Jakarta pada 30 Mei 1970 di keluarga yang cukup berada. Erick beragama Islam dan ayahnya adalah Mochamad Thohir atau yang lebih dikenal sebagai Teddy Thohir. Salah seorang pemilik Astra International Tbk.

Nama Erick emang jauh lebih dikenal ketimbang Garibaldi alias Boy, kakaknya. Padahal, Boy saat 2018 menduduki posisi orang terkaya di Indonesia urutan ke-23. Hal ini cukup wajar karena Erick terjun di ranah media dan punya klub sepak bola. Tahu sendiri kan seberapa cinta orang Indonesia sama bola.

Dilahirkan dalam keluarga yang kaya, Erick tidak lantas menjadi sosok yang malas dan hanya dapat menghabiskan uang saja. Rupanya sejak kecil, sang ayah memang mendidik Erick dan juga kedua saudaranya untuk bisa mandiri dan menjadi seorang enterpreneur.

Bisnis Pertama di Usia 9 Tahun

Dari kecil, bakat bisnis Erick juga sudah nampak. Di usia 9 tahun, bisnis pertamanya sudah dijalankan. Biji karet pun menjadi komoditinya. Sebab kala itu, permainan dengan biji karet tengah populer di kalangan teman-temannya. Ide menjual biji karet itu muncul karena Erick dan ketiga temannya merasa iba pada seorang kakek penjual biji karet. Biji karet sebanyak satu karung pun dibeli. Uang mereka dapat dari hasil patungan memecah celengan jago masing-masing.

Banyaknya biji karet yang dimiliki rupanya membuat keempatnya bosan bermain. Tidak ingin terbuang sia-sia, mereka lantas menjualnya di dekat lapangan bola daerah Tebet Timur. Namanya juga masih anak-anak. Hasil penjualan yang tidak seberapa itu pun berakhir menjadi siomay.

Menimba Ilmu (Pendidikan)

Besar di keluarga kaya, dapat dibilang kehidupan Erick sudah terjamin dengan baik. Karena itu, beberapa anak yang lahir di keluarga sering terlihat foya-foya dan bersantai di sekolah, atau bahkan tidak serius soal kuliah.

Status Erick sebagai anak seorang pengusaha kaya raya tidak lantas membuatnya malas menempuh pendidikan. Dibanding hanya menghabiskan uang untuk bersenang-senang, pria yang kini berusia 49 tahun itu memilih untuk menginvestasikannya di dunia pendidikan. Amerika pun dipilih sebagai tempatnya untuk menimba ilmu.

Tamat SMA, Erick berangkat untuk melanjutkan pendidikannya di jurusan periklanan Glendale University, Amerika Serikat. Tidak puas hanya menyandang gelar sarjana, anak pasangan Teddy Thohir dan Edna Thohir ini melanjutkan pendidikan dan mendapat gelar Master of Bussiness Administration di National University California pada 1993.

Mandiri Membangun Kerajaan Bisnis Sendiri

Setelah lulus kuliah pun, Erick sempat membantu bisnis keluarganya yang bergerak di bidang makanan. Pulang dari Amerika dengan gelar MBA, Erick muda mengelola bisnis restoran bernama Pronto dan Hanamasa yang merupakan warisan dari sang ayah.

Namun, salah satu hal yang menarik adalah ayah Erick sempat melarang Erick untuk melanjutkan bisnis keluarga dan malah menyuruhnya mandiri untuk menemukan kesuksesannya sendiri.

Erick menerima tantangan tersebut dan terbukti berhasil mengejawantahkan dirinya sebagai orang mandiri. Erick berhasil memanfaatkan ‘anugerah’ (kekayaan keluarga) tersebut bukan untuk menikmatinya saja, tapi sebagai modal berharga untuk pijakan selanjutnya. Ia menimba ilmu yang tinggi, menjadi individu yang mandiri, kemudian membuka usaha-usaha lain.

Lepasnya Erick dari bisnis keluarga sempat dihalangi saudara-saudaranya. Namun, Erick mantap memilih berkiprah secara mandiri tanpa campur tangan keluarga dan sukses di bisnis media. Menurut beberapa sumber, lepasnya campur tangan Erick pada bisnis keluarga sempat dihalangi beberapa saudaranya. Erick dinilai punya potensi besar untuk melanjutkan dan membuat usaha keluarga menjadi lebih besar. Namun apa daya, Erick sudah memilih langkahnya.

Singkat cerita, pada 1996-1997, Erick mendirikan perusahaan trading mulai dari semen, pupuk, beras, kapur, dan bahan kebutuhan lainnya. Bersama dengan Wisnu Wardhana, Harry Zulnardy dan Muhammad Lutfi, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang trading didirikan, Mahaka Group. Kemahiran dari masing-masing pendirinya membuat perusahaan ini berkembang dengan cepat.

Perjalanan bisnis mereka terbilang sukses karena didukung Lutfi yang pandai melobi, Erick yang pandai berdagang, Wisnu yang pandai berhitung, serta Harry yang pintar mencari peluang, sehingga membuat bisnis mereka berjalan beriringan.

Terus Belajar (Upgrade Kemampuan)

Dari perusahaan trading tersebut, Lutfi dan Erick rupanya tertarik dengan bisnis dunia Media. Melalui Mahaka Media, mereka pun bergerak pelan-pelan menguasai pasaran media di Indonesia. Perusahaan ini merupakan induk dari berbagai anak perusahaan yang lebih fokus di bidang hiburan dan media.

Fokus pada media dan hiburan, perusahaan ini pun melakukan akuisisi terhadap Republika pada 2001. Sebuah surat kabar bernuansa Islam terbesar di Indonesia. Salah satu alasan Erick membeli media itu lantaran dia adalah seorang yang paham soal advertising dan komunikasi.

Kala itu, surat kabar tersebut dalam kondisi krisis dan hampir pailit. Setelah berhasil diakuisisi, Erick pun berusaha untuk membuatnya kembali stabil. Tidak banyak pengalaman dalam menangani bisnis media, dia kemudian menimba ilmu kepada sang ayah. Selain kepada Teddy, Erick juga tidak segan untuk belajar kepada dua petinggi harian terbesar kala itu. Dahlan Iskan yang menjabat sebagai bos Jawa Pos dan Pendiri harian Kompas Jakob Oetama.

Mahaka Mengembangkan Sayap

Setelah mengambil alih Republika, pada 2002 Mahaka Media juga membuat perusahaan media luar ruang yang diberi nama Mahaka Advertising. Sayap perusahaan juga semakin lebar saat dunia pertelevisian turut dijajahi. Jak TV pun diperkenalkan bersamaan dengan Jak FM dan Gen FM. Erick juga terlibat dalam PT Radionet Cipta Karya yang punya berbagai stasiun radio ternama seperti Female Radio dan Prambors.

Selain Republika, Harian Indonesia juga turut diambil alih oleh Mahaka Group. Namanya pun berubah menjadi Sin Chew-Harian Indonesia. Hal ini dikarenakan pengelolaan dan juga isinya berdasar perusahaan asal Malaysia, Sin Chew Media Corporation Berhard. Namun kemudian Harian Indonesia ini diambil alih PT. Emas Dua Ribu yang menjadi mitra perusahaan Mahaka Media. Pengelolaannya pun kembali dilakukan secara independen tanpa campur tangan pihak asing.

Kolaborasi dengan Bakrie

Tidak puas hanya dengan Jak TV, Erick kemudian menggandeng Anindya Bakrie untuk mendirikan tvOne. Sebuah situs berita yang diberi nama Viva.co.id (dulu Viva News) juga diluncurkan pada 2008. Meskipun jadi pemegang saham minoritas, tapi posisi yang diduduki Erick cukup penting. Ia didapuk Direktur Utama PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), induk usaha dari TVOne.

Tampaknya Bakrie paham betul potensi yang dimiliki Erick dalam rangka membantu kelangsungan dan kesuksesan perusahaan medianya. Untuk informasi, keluarga Bakrie memiliki saham sekitar 90 persen.

Tahun 2009 Mahaka Media pun telah menjadi salah satu raksasa bisnis di Indonesia. Khususnya di dunia media. Mulai dari koran, majalah, saluran televisi, hingga radio berada di bawah kekuasaannya.

Memiliki begitu banyak bisnis media tidak lantas membuat Erick berhenti dan puas. Di luar bidang media, suami Elizabeth Tjandra ini juga mengembangkan bisnis di sektor lain. Sebuah perusahaan jual beli tiket, desain situs web, hingga periklanan juga dia miliki. Selain Mahaka Media, Erick juga memiliki Alif yang lebih banyak bergerak dalam bidang entertainment.

Strategi Bisnis via Bursa Efek

Strategi bisnis yang digunakan oleh adik Rika Thohir ini memang tidak main-main. Untuk mengembangkan perusahaan, Mahaka Media didaftarkan dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2002. Tidak butuh waktu lama, pendapatan perusahaan pun melejit dari Rp 113 miliar menjadi Rp 137 miliar dalam waktu 6 bulan.

Hal serupa juga dilakukan kepada VIVA. Memasukkan saham dengan harga RP 450 per lembar pada November 2011, terjadi peningkatan hingga Rp 590 per lembar pada September 2012. Sementara pada tengah tahun, dari pendapatan sebesar Rp 464 miliar meningkat menjadi 546 miliar. Erick memang terkenal dengan keyakinannya dalam menjalani setiap bisnis yang dimiliki.

Banyak Berkiprah di Dunia Olahraga

Erick Thohir dikenal sebagai pengusaha yang gemar dengan hal-hal yang berbau olahraga. Pernah mendengar tim basket dalam negeri, Satria Muda BritAma dan Indonesia Warriors? Erick merupakan pemilik klub tersebut.

Selain pengusaha, para pecinta olah raga juga banyak yang kenal dengan sosok Thohir. Selain soal bisnis, Erick juga dikenal karena kecintaannya terhadap olah raga. Begitu cintanya, dia tidak segan untuk menggelontorkan dana. Sebuah klub basket bernama Mahaka Satria Muda Jakarta dan Mahaputri Jakarta pun didirikan. Selain itu, Erick juga memiliki dan menjabat sebagai Wakil Komisaris Utama PT Persib Bandung Bermartabat.

Pada periode 2006 sampai 2010 dia juga pernah ditunjuk untuk menjadi ketua umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PERBASI). Bahkan, Erick sempat dua kali menjabat sebagai Presiden Southeast Asia Basketball Association (SEABA) atau Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara, yakni dari 2006 hingga 2014.

Tidak hanya di Indonesia dan Asia, ayah empat anak ini juga membeli beberapa klub ternama di benua Eropa dan Amerika. Sebuah klub sepakbola asal Amerika Serikat, DC United pernah berada di bawah kendalinya. Saham mayoritas klub sepak bola yang bermain di Liga Utama Amerika Serikat dan Kanada itu dimilikinya bersama dengan Jason Levien. Dia menjadi co-owner klub Major League Soccer (MLS), DC United. Kecintaannya terhadap Indonesia tak memudar. Dia bahkan membuka kesempatan pada beberapa atlet untuk mengikuti trial bersama DC United.

Selama bergabung dengan DC United, Erick juga sempat terlibat dalam proses pembangunan kandang baru, Audi Field. Namun setelah enam tahun bergabung, Erick memilih untuk melepaskan seluruh sahamnya pada pertengahan 2018 silam.

Sebelum memiliki DC United, ternyata Erick telah lebih dulu membeli 15 persen saham di Philadelphia 76ers, sebuah klub basket NBA. Namun kepemilikan itu tidak lama, hanya berlangsung setahun. Bersama dengan Handy Soetodjo, dirinya menjadi warga Asia pemilik klub NBA yang pertama. Pada 2011 silam, bersama sebuah konsorsium, Erick jadi pemiliki klub NBA, Philadelphia 76ers. Dia bergabung dalam konsorsium buat membeli klub basket Philadelphia 76ers. Asal tahu nih, di dalam konsorsium itu ada Will Smith dan juga istrinya lho!

Rupanya, alasan Erick tidak lama menjadi pemilik saham di Philadelphia 76ers adalah karena Inter Milan. Sahamnya di klub NBA tersebut dijual untuk membeli klub yang bermain di Liga Italia tersebut.

Kejelian dan Kecerdasan dalam Mengelola Saham maupun Klub Bola

Pada tahun 2013, langkahnya ini banyak mengejutkan publik. Namanya pun semakin dikenal lebih banyak kalangan pecinta olahraga. Apalagi, Erick menguasai 70 persen saham klub yang bermarkas di Stadion San Siro tersebut.

Hampir media-media olahraga dunia meliputnya. Peristiwa ini memang memiliki banyak nilai berita sehingga layak diperbincangkan secara hangat, terutama oleh para penggemar sepakbola. Runtuhnya rezim Masimmo Morrati — yang telah 18 tahun memimpin Inter dan pengusaha Asia pertama yang memiliki klub Serie A tersebut jadi sebab kenapa pantas diperbincangkan.

Erick Thohir pun resmi jadi Presiden Inter Milan, menggantikan Massimo Moratti.

Langkahnya membeli Internazionale Milan dinilai sebagai kepintarannya dalam berbisnis, bukan hanya pemenuhan dahaga terhadap kegemarannya di dunia olahraga

Namun yang perlu kita sadari dari langkahnya tersebut adalah kebrilianannya melihat celah dan kesempatan. Beberapa pakar sepakat kalau langkah Erick membeli saham Inter Milan adalah kepintarannya dari sudut pandang pemasaran yang tak terbantahkan. Bahkan belum lama ini, Erick dikabarkan mendapat untung atas penjualan 40 persen sahamnya ke sebuah konsorsium asal Tiongkok.

Kalau dipikir, kenapa bisa seorang pebisnis muda asal negeri antah berantah membeli sebuah klub pemegang scudetto 18 kali, tiga trofi Liga Champions dan tiga trofi Europa League?

Seperti kita ketahui, pangsa pasar dan nilai jual klub Italia pada saat Erick — dan saat ini mungkin masih — mengakuisisi Inter jelas kalah jauh dibandingkan klub-klub Liga Inggris. Pamor klub-klub Italia anjlok. Jumlah penonton yang datang ke stadion semakin sedikit. Lalu, makin sering kita menyaksikan kaos tim-tim Liga Italia menjadi polos tanpa sponsor.

Minimnya prestasi klub-klub Italia menjadi alasan. Jatah tim Italia yang berlaga di Liga Champions — kompetisi tertinggi antarklub Eropa — pun dikurangi. Bahkan rangking Liga Italia harus turun sejak beberapa tahun lalu, dan disalip Liga Jerman yang makin sehat masalah ekonominya.

Mungkin ada pertanyaan: kenapa nggak mengakuisisi klub Spanyol saja? Bukankah beberapa klub sedang kepayahan dalam masalah ekonomi? Erick mungkin sadar kalau membeli klub Spanyol, seperti Real Madrid, Barcelona, atau Atletico sebagai akan disulitkan dengan harga dan demand suporter yang haus gelar dan haus pemain mahal. Kalau pun mengakuisisi klub medioker lainnya, akan terasa sulitnya menggebrak dominasi tiga klub tersebut di singgasana klasemen.

Kontras dengan yang terjadi di Italia. Persaingan tergolong terbuka. Hanya Juventus yang ditakuti. Di samping itu, kekuatan imbang terbagi. Ihwal kekuatan, Inter setara dengan Napoli, AC Milan, AS Roma, Lazio, dan Fiorentina.

Namun dengan nama besar dan jumlah fans yang tak sedikit di berbagai belahan dunia, pengakuisisian yang dilakukan Erick dianggap sebagai sebuah kecerdasan. Kecerdasannya makin tampak ketika ia menjaga suasana hangat suporter Inter. Erick tak begitu langsung menanggalkan sosok Massimo Moratti dan menjaganya tetap masuk jajaran petinggi klub. Selain itu, Javier Zanetti, ikon klub Inter, didapuk oleh Erick menjadi wakil presiden klub.

Beli – Perbaiki – Jual

Sempat menjabat sebagai Presiden klub Inter Milan, pada 2016 Erick menjual sebagian sahamnya kepada Grup Suning yang berasal dari China.

“Ketika kita akuisisi DC United yang kita lakukan membagi manajemen, menyiapkan bisnis kompetitif, dan membangun stadion. Inter Milan hampir sama, memperbaiki keuangan karena waktu itu ada masalah utang, lalu memperbaiki dari segi pemasaran, gimana bisnis global ini kita garap pemasukan lokal. Sekarang ada investor yang tertarik, why not,” imbuhnya.

Kemudian pada Januari 2019, Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin ini memutuskan untuk menjual sahamnya dan melepaskan tim berjuluk I Nerazzurri tersebut.

Kunci Sukses Erick Thohir

Kesuksesan Erick dalam mengelola klub-klub ternama itu tidak lepas dari mimpi dan cita-citanya. Erick punya empat pondasi yang harus dimiliki para pebisnis agar sukses. Soal pondasi bisnis itu dia jelaskan ketika berbicara di Investor Summit di Surabaya, Kamis, 31 Oktober 2013. Pengin tahu apa aja? Yuk simak.

Passion dan Totalitas

Erick mengaku bahwa dirinya cukup menyukai media, hiburan, dan olahraga. Oleh karena itu, bisnisnya gak jauh-jauh dari tiga hal itu.

Erick juga benar-benar totalitas dalam usahanya. Dia sampai rela menjual koleksi-koleksinya demi menyelamatkan bisnisnya di tahun 2006 yang mengalami guncangan.

“Do what you love” atau “Love what you do”

Fokus dan Adaptasi

Terutama fokus dalam hal berbisnis dan tren-tren terkini. Di mana pun, pebisnis harus mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Contohnya, pada masa dimana perkembangan informasi begitu baik, tentu saja internet menjadi salah satu senjata yang bisa menopang bisnis. Berangkat dari sini, pebisnis yang mampu memanfaatkan internet biasanya akan lebih sukses.

Erick bersama Lutfi merambah bisnis media dengan membeli perusahaan billboard dan radio, hingga media cetak seperti Republika, dan Golf Digest sekitar tahun 2000. Yaitu, setelah pemerintahan Presiden Soeharto lengser.

“Pebisnis itu lihat opportunity, setelah Pak Harto turun berganti kepemimpinan di mana industri media sangat terkontrol. Ketika pergantian tentu reformasi terjadi, industrinya dia akan menjadi industri yang terbuka,” jelasnya.

Upgrade kemampuan

Pengusaha harus selalu belajar untuk meningkatkan kemampuan diri. Jangan cepat puas dengan hasil yang dimiliki.

“Kalau cepat puas, saya berada di titik kejatuhan. Meski udah kaya, saya tetap upgrade kemampuan,” ujar Erick.

Tahun 2001, Mahaka mengakuisisi Harian Republika yang saat itu tengah dilanda krisis keuangan dan nyaris bangkrut. Selain bimbingan ayahnya, Erick Thohir juga belajar dari mentor berpengalaman, yakni Pendiri Kompas, Jakob Oetama serta dari Pendiri Jawa Pos, Dahlan Iskan.

Networking / Jaringan

Bagi Erick, jika seorang pengusaha pengin mengembangkan usahanya, maka dia butuh jaringan yang luas.

Persaingan di dunia bisnis berlangsung sengit dan juga cepat banget. Pengusaha tentu butuh jaringan yang kuat buat membantu usahanya berkembang. Erick melakukan kolaborasi dengan jejaring teman kuliahnya saat awal mendirikan Mahaka. Kolaborasi dengan Bakrie maupun konsorsium dan pengusaha dari luar negeri.

Tentu saja membangun jaringan bukanlah hal yang mudah. Namun, masih mungkin untuk dilakukan. Salah satu cara membangun jaringan seperti melalui keluarga, pertemanan sekolah, komunitas, maupun bergabung dalam asosiasi pengusaha yang ada.

“Ada figur yang inspired apakah itu kakak saya, bapak saya, ibu saya, itu jadi bagian kunci,” ungkap Erick mengaku keluarga sebagai support terbesarnya.

Erick menganggap bahwa teman-teman yang dimilikinya juga berperan serta dalam membangun kesuksesan yang sekarang ia miliki. Erick memiliki 3 orang sahabat yang juga menjadi rekan usahanya, yaitu M. Lutfi, Wisnu Wardhana, dan Harry Zulnardy.

Erick mengatakan bahwa Lutfi adalah seorang tukang lobi yang bagus, Erick seorang pedagang yang handal, Wisnu seorang tukang kalkulasi yang bagus, dan Harry adalah seorang treasury yang baik – pintar mencari peluang.

Reputasi Erick Thohir

“Industri olahraga di Indonesia bisa berkembang jika GDP-nya sudah di atas 10 ribu. Kenapa? Olahraga itu leissure yang mahal. Kalau kita lihat di Indonesia industri musik dan film berkembang murah. Sekarang sudah berkembang ke industri travel, olahraga habis itu. Nonton olahraga tiketnya sudah US$ 200-US$ 300. Nah, itu kenapa GDP-nya harus besar,” jelasnya.

“Waktu itu saya melihat ekosistem yang ada di Amerika dan Eropa sudah siap, nah itulah saya memberanikan diri belajar dan mengambil alih di sana. Tapi kembali reputasi penting,” sambung suami Elizabeth Tjandra itu.

Namun, Erick tak hanya membeli beberapa klub sepak bola ternama itu saja, tapi juga melepasnya kembali setelah progress yang sudah diberikannya bagus.

Melanglang Buana di Dunia Internasional, Erick Tak Pernah Menolak Mengabdi kepada Negeri

Seperti kita ketahui, Erick Thohir juga sangat mencintai olahraga. Pada tahun 2006-2010, Erick dipercaya sebagai ketua umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) dan Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA) untuk dua periode, 2006-2010 dan 2010-2014.

Lalu pada tahun 2012, dia ditunjuk menjadi Komandan Kontingen Indonesia untuk Olimpiade London. Dan juga terpilihnya Erick menjadi Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) untuk masa bakti 2015-2019.

Erick Thohir tak pernah melupakan negaranya sendiri meskipun ia kerap harus bolak-balik Italia dan Amerika Serikat. Dalam setiap klub olahraga yang dimilikinya pun Erick tak pernah menanggalkan nasionalismenya. Contohnya, dia memberikan kesempatan pada anak bangsa, Syamsir Alam, untuk menimba ilmu di DC United, serta beberapa atlet dan pelatih sepakbola diberi kesempatan sama di Italia.

Asian Games 2018

Selain membeli beberapa klub sepak bola ternama, pada ajang olahraga tingkat Asia, yaitu Asian Games 2018, Erick Thohir dipercaya menjadi Ketua Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC).

Di bawah koordinasi Erick, laga Asian Games berjalan sukses dan mendapat apresiasi, baik dari dalam negeri hingga mancanegara. Pasalnya, Asian Games yang berakhir pada 2 September 2018 lalu berjalan sangat meriah dan banyak kejutan.

Karir Dunia Politik

Rekam jejak Erick di dunia politik memang tidak banyak terlihat. Dirinya baru benar-benar terjun ke dunia politik praktis saat ditunjuk untuk menjadi Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Penunjukan ini rupanya merupakan keinginan Jokowi secara langsung. Calon presiden petahana ini rupanya senang dengan kesuksesan Erick dalam mengelola acara Asian Games pertengahan tahun lalu. Tangan dinginnya dinilai mampu memberikan warna lain dalam masa kampanye kali ini.

Sebagian pihak juga meragukan terpilihnya Erick sebagai Ketua TKN Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Sebab, Erick memang sangat minim pengalaman dalam bidang politik praktis. Namun rupanya, bagi Jokowi itu bukan masalah. Sebab, yang diperlukan adalah soal bagaimana cara mengelola kampanye yang baik sehingga elektabilitasnya di mata masyarakat bisa meningkat.

Pada akhirnya Erick Thohir telah berhasil “mengawal” Jokowi di Pilpres 2019 lalu. Dia pun merasa bangga karena berhasil membawa kemenangan untuk kandidat yang paling kuat.

“Kemenangan 11 persen itu tinggi dalam demokrasi yang terjadi hari ini. Coba cek banyak menang lima persenan. Ini tinggi dan memang kandidatnya bagus,” ujar Erick Thohir.

Meski begitu, pencinta military figure itu menilai kemenangan Jokowi bukan semata-mata karena dirinya. Tapi semua elemen masyarakat bergerak, baik itu relawan, tokoh daerah, tokoh nasional, hingga partai politik. Erick Thohir juga memastikan, kunci sukses kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2019 karena mengedepankan fakta dan data.

Masuk dalam Pemerintahan

Erick Thohir menjabat sebagai Menteri BUMN menggantikan Rini Soemarno. Erick menggantikan Rini dan dipilih langsung oleh Presiden Joko Widodo untuk mendampingi dalam kabinetnya pada periode kedua pemerintahannya. Dilantik secara resmi pada Oktober 2019 lalu. (*/Orklan.com/FR)

Sumber :

cermati.com/artikel/dari-pengusaha-dan-pemilik-klub-ternama-erick-thohir-kini-berkarir-di-politik

hipwee.com/motivasi/tak-berpangku-tangan-meski-orangtua-kaya-kisah-erick-thohir-pebisnis-internasional-yang-nasionalis/

moneysmart.id/belajar-bisnis-4-alasan-kenapa-erick-thohir-kaya/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *