Guru Fasilitator Kemajuan dan Pembentuk Karakter Bangsa

Oleh: Misriatun, SE, Guru IPS SMPN 2 Bukit Batu

SEORANG guru harus memikirkan mengenai kewajiban yang ada dipundaknya. Kewajiban sebagai ujung tombak mendidik para calon penerus bangsa. Inilah tugas mulia yang harus merasuk kedalam hati setiap orang yang berani menyebut dirinya sebagai seorang guru.

Guru lah yang senantiasa berinterkasi dengan para peserta didik dan berperan sentral dalam proses pendidikan. Gurulah yang senatiasa berinterkasi dan mempersiapkan para calon intelektual bangsa ini. Mau di bawa kemana muridnya, gurulah yang memberi komando. Akan membawa murid menuju kejumudan atau pencerahan pemikiran, menjadi pribadi yang gagal atau pemenang.

Tapi guru juga bukanlah mesin yang diberi tugas sekedar menjadikan murid dari tidak tahu menjadi tahu, namun ada tugas yang jauh lebih mulia, yaitu penunjuk arah para murid menemukan jalan kehidupan seorang pemenang. Seorang guru haruslah memiliki kepribadian berkarakter kuat dan mampu berfikir secara cerdas. Kepribadian yang berkarakter harus dimiliki setiap guru karena guru adalah teladan bagi para muridnya. Sehingga guru harus mampu memberi contoh dengan suatu karakter yang positif dan tidak mudah terombang-ambing.

Dengan karakter ini, seorang guru akan mampu menghasilkan manusia yang berkarakter tangguh. Seorang guru harus cerdas membaca potensi para peserta didiknya dan mengarahkan si murid untuk menetahui apa potensinya dan mengembangkan dirinya secara maksimal.

Ingat, Indonesia bukanlah bangsa yang berisi orang bodoh. Setiap anak yang lahir telah dikarunia Allah SWT dengan berbagai potensi yang ada, hanya saja tidak semua anak memperoleh kesempatan untuk mengembangkan bahkan sekedar menemukannya.

Oleh karenanya, seorang guru harus mampu menjadi fasilitator kemajuan bangsa ini. Di tangan para guru bangsa inilah para cendikiawan bangsa ini akan lahir. Marilah kita mengesampingkan berbagai macam ego yang ada untuk kembali kepada fungsi guru sebagai pendidik. Karena kita sudah diserahi amanah dari para orang tua agar menjadikan anak-anak mereka mampu menjalani kehidupan yang baik, setidaknya lebih baik dari apa yang ada saat ini.

Dan ingat pula, kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kemampuan para pendidiknya untuk mengubah karakter generasi penerusnya ke depan. Tanpa figur pendidik, mungkin bangsa besar seperti Indonesia tidak akan dapat menikmati hasil jerih payah putra-putri nusantara yang sudah mendorong perkembangan tersebut.

Ada sepenggal kalimat Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno tentang guru yang dikutip dari buku karangannya, dibawah Bendera Revolusi dimana ia mengatakan ‘’Alangkah hebatnya pekerjaan menjadi pemimpin di dalam sekolah, menjadi guru di dalam arti yang spesial, yakni menjadi pembentuk akal dan jiwa anak-anak! Terutama sekali di zaman kebangkitan! Hari kemudiannya manusia adalah di dalam tangan guru itu, menjadi manusia”.

Guru adalah sebuah profesi yang mulia karena di tangan merekalah masa depan bangsa ini ditentukan. Guru juga dianggap sebagai pahlawan pembangunan, karena di tangan mereka akan lahir pahlawan-pahlawan pembangunan yang kelak mengisi ruang-ruang publik di negeri ini. Guru yang ideal, bukan sekedar guru yang memenuhi syarat-syarat teknik: seperti pintar, pandai, atau pakar di bidang ilmu yang dimiliki melainkan yang jauh lebih penting dari itu semua, guru harus bisa menempatkan dirinya sebagai “agent of change”.

Disini, tugas guru adalah menumbuhkan keingintahuan anak didik dan mengarahkannya dengan cara yang paling mereka minati. Jika anak didik diberi rasa aman, dihindarkan dari celaan dan cemoohan, berani berekspresi dan bereksplorasi secara leluasa, ia akan tumbuh menjadi insan yang penuh dengan percaya diri dan optimistis.

Apalagi program utama menteri pendidikan baru dimana yang akan ditingkatkan demi menghadapi revolusi industri 4.0 adalah sumber daya manusia yaitu guru dan membangun karakter. Apalagi membangun karakter adalah sebuah keharusan dalam peningkatan SDM guru semakin berkualitas yang akan menjadi pintu lahirnya generasi yang kian unggul. Dimana guru harus berani beradaptasi dengan teknologi dan guru harus bisa menciptakan inovasi pembelajaran melalui teknologi.
Guru tidak lagi berjibaku berpegang teguh dengan sistem mengajarnya yang lama namun juga bisa menggunakan teknologi demi menciptakan sistem pembelajaran yang semakin menarik.

Proses mencapai kualitas guru yang semakin unggul dan maju pada dasarnya bisa dilakukan oleh setiap guru, termasuk dengan mengikuti studi di bangku kuliah kembali. Atau guru mempunyai ikhtiar dalam budaya literasi membaca berbagai buku dia akan mampu merespons setiap perubahan, lahirnya inovasi-inovasi di dunia pendidikan yaitu berawal dari membaca, menganalisa dan kemudian menciptanya.

Jauh rasanya ketika kita berharap dalam meningkatkan kualitas guru hanya menunggu adanya program seminar, pelatihan tanpa dibarengi mencari ilmu sendiri yaitu dengan membaca. Guru adalah aktivitas yang harus dijalani setiap hari ini menuntut guru harus bisa tampil beda dengan hari-hari yang telah lalu, sehingga anak tidak jenuh dan bosan. Ini hanya akan terlahir dari tangan-tangan guru yang memang memiliki budaya literasi.

Gejala buruk bagi guru itu ketika mereka tidak punya minat baca sehingga sulit menggerakkan siswanya untuk terus belajar dan membuka pikiran, indikasi kesuksesan guru tidak saat mampu memberikan angka-angka yang hanya didasarkan pada salah dan benar namun mereka tidak berani berpikir kreatif dan tidak pandai berkolaborasi dengan perkembangan zaman ini.

Pantas rupanya kalau anak-anak di luar negeri mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat bahkan penerima penghargaan nobel, bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademi, melainkan karakternya yang sangat kuat karakter yang membangun bukan merusak. Oleh sebab itu, semangat membaca lebih mendominasi ketimbang semangat bermedia sosial.

Guru ideal hari ini itu harus tangguh dalam karakter unggul dalam skill dan ok dalam teknologi. Kita akan menghadapi bermacam-macam masalah dalam revolusi industri 4.0 ketika tidak cakap dalam hal teknologi yang mana setiap pelaku dan peranannya digantikan teknologi,memang kita sudah tidak lagi sekedar mengenal teknologi melainkan kita sudah menjadi penggunaannya namun lebih terobsesi menggunakan teknologi sekedar untuk hiburan ketimbang untuk membuat inovasi dalam dunia pendidikan, bisnis dan lainnya.

Di sinilah literasi teknologi dibutuhkan agar semakin cakap khususnya bagi setiap guru, agar mampu mengedukasi terhadap siswanya untuk menggunakan teknologi untuk media belajar dan berkreasi. Sebab menjadi guru itu perjuangan, berjuang untuk selalu memenangkan di setiap proses pembelajaran berjuang untuk selalu mengentaskan setiap kesulitan berjuang untuk selalu membangun iklim positif ketika mereka menghadapi kesulitan. Inilah kemenangan dalam dunia pendidikan karena mendidik itu kepuasan batin bilamana kita berjuang mendidik dengan penuh tanggung jawab kita akan selalu mendapat kebahagiaan yang tentunya tiada nilainya dibandingkan hanya sekedar mengajar.

Oleh karenanya, seorang guru bisa menjadi pahlawan pembangunan yang memiliki jiwa juang, memiliki semangat untuk berkorban, dan menjadi pionir bagi kemajuan masyarakat. Oleh sebab itu, tugas yang diemban oleh seorang guru tidak ringan, karena guru yang baik tidak hanya memberitahu, menjelaskan atau mendemonstrasikan, tapi juga dapat menginspirasi. Seorang guru harus mampu memandang perubahan jauh ke depan, dengan demikian guru dapat merencanakan apa yang terbaik untuk anak didiknya. Seorang guru juga harus dapat mengemban tugasnya sebagai motivator yang mampu memotivasi anak didiknya agar penuh semangat dan siap menghadapi serta menyongsong perubahan hari esok. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *