Harga Anjlok, 4 Negara Ini Selamatkan Ekspor Minyak Sawit RI

sawitJAKARTA – Tahun 2015 merupakan tahun terberat yang harus dilalui oleh pelaku usaha minyak kepala sawit dalam negeri. Selain karena kebakaran hutan yang melanda hampir selama satu semester, harga rata-rata crude palm oil (CPO) sepanjang 2015 juga mengalami penurunan hingga 24 persen year on year (yoy) mencapai USD 614,2 per metrik ton.

Namun, ditengah penurunan harga CPO, para pelaku usaha ekspor CPO di Indonesia dapat sedikit bernapas lega. Pasalnya, sepanjang tahun 2015 terjadi peningkatan total ekspor dan produk turunannya sebesar 21 persen atau mencapai 26,4 juta ton dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai 21,76 juta ton.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Rabu (20/1/2016), sepanjang 2015 terdapat empat negara yang mencatatkan peningkatan permintaan CPO dari Indonesia. Peningkatan permintaan CPO terbesar berasal dari negara-negara di Uni Eropa, yaitu sebesar 2,6 persen yoy atau mencapai 4,23 juta ton. China secara mengejutkan juga mencatatkan kenaikan permintaan minyak sawit sebesar 64 persen yoy atau mencapai 3,99 juta ton.

Dua negara berikutnya, Amerika Serikat (AS) dan Pakistan juga turut mencatatkan peningkatan permintaan CPO sepanjang tahun 2015. AS mencatat peningkatan minyak kelapa sawit sebesar 59 persen atau mencapai 758,55 ribu ton dibanding tahun 2014 yang hanya mencapai 477,23 ribu ton. Semantara itu, permintaan CPO Pakistan juga mengalami peningkatan sebesar 32 persen dari tahun sebelumnya sebesar 1,66 juta ton menjadi 2,19 juta ton pada tahun 2015.

Namun, peningkatan volume ekspor ini tidak diiringi oleh peningkatan nilai ekspor yang justru turun sebesar 11,67 persen. Untuk itu, Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono mengharapkan, para pengusaha dapat melakukan efisiensi dan konsolidasi untuk menjaga produktifitas minyak kelapa sawit dalam negeri. Sebab, saat ini sulit untuk mengharapkan harga CPO akan naik dalam waktu singkat menyusul jatuhnya harga minyak dunia.

“Kita tidak bisa lagi berharap harga naik signifikan. Untuk itu, industri harus lakukan konsolidasi, lakukan upaya efisiensi serta jaga produktivitas,” ujar Joko.(rai/okz)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *