Kejagung Sita Peralatan PT BLJ Migas di Bekasi

Direktur PT.BLJ Abdul Rahman (kiri) bersama penyidik kejagung saat penyitaan asset PT.BLJ Migas di Bekasi.BENGKALIS– Buntut dari tindak pidana korupsi penyelewengan dana penyertaan modal Pemkab Bengkalis kepada BUMD PT.Bumi Laksamana Jaya (BLJ) tahun 2012 lalu sebesar Rp 300 milyar, pihak penyidik dari Kejaksaan Agung (Kejagung) RI menyita peralatan operasional dan workshop milik PT.BLJ migas di kota Bekasi Jawa Barat senilai Rp 38 milyar.

Penyiataan yang dilakukan penyidik Kejagung tersebut disaksikan langsung Direktur Utama PT.BLJ Abdul Rahman SH serta Direktur PT.BLJ migas Andi Julius. Penyidik Kejagung akan menjadikan peralatan workshop sebagai barang bukti kasus tindak pidana korupsi penyertaan modal Rp 300 milyar yang sduah menyeret mantan bupati Herliyan Saleh beserta kroninya ke hotel prodeo, termasuk mantan dirut PT.BLJ Yusrizal Andayani serta staf khususnya.

Direktur Utama PT.BLJ Abdul Rahman ketika dikonfirmasi soal tersebut membenarkan, bahwa penyitaan dilakanakan pada Rabu (15/6) langsung di kantor dan gedung workshop PT.BLJ migas di Kota Bekasi Jawa Barat. Tim penyidik Kejagung mengamankan barang-barang bukti yang harganya ditaksir mencapai Rp 38 milyar yang dibeli dari dana penyertaan modal Rp 300 milyar.

“Benar, pihak penyidik Kejagung sudah menyita barang bukti berupa peralatan-peralatan workshop di kantor PT.BLJ migas kota Bekasi. Saya sendiri datang ke Bekasi atas perintah penyidik Kejagung menyaksikan langsung penyitaan sekaligus sebagai saksi dalam berita acara penyitaan tersebut,”terang Abdul Rahman, Kamis (16/6).

Disebutkannya lagi, asset-asset tersebut nantinya akan dijadikan barang bukti untuk keperluan penyidikan lanjutan atas kasus mega korupsi di perusahaan semi plat merah Pemkab Bengkalis tersebut. Penyidik Kejagung sendiri melakukan penyitaan karena peralatan workshop untuk sektor minyak dan gas (migas) tidak ada kaitannya dengan penyertaan modal Rp 300 milyar yang hanya diperuntukan untuk membangun pembangkit listrik PLTU dan PLTGU.

“Informasinya, sehabis lebaran proses penyitaan asset-asset PT.BLJ ditempat lain bakal dilanjutkan, termasuk proses hukum dari pengalihan dana untuk sektor lain diluar PLTU dan PLTGU. Saya selaku direktur utama PT.BLJ hanya sebatas dikonfirmasi dan menjadi saksi atas proses penyitaan peralatan workshop PT.BLJ migas tersebut,”papar Rahman.

Kasus penyertaan modal PT.BLJ bergulir sejak awal tahun 2013, setelah penegak hukum dan masyarakat Bengkalis mencurigai dana Rp 300 milyar tidak dipergunakan sebagaimana harusnya. Manajemen baru PT.BLJ tahun 2011 dibawah komando direktur utama Yusrizal Andayani mengkorup dana Rp 300 milyar ternyata terbongkar, karena praktek kotor mereka ketahuan lebih awal. (*/FR)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *