Kontras Haris Azhar: Undang Tokoh dan Keluarga Korban Lapor ke DPR RI, Komnas HAM, Ombudsmen

kontras2SELATPANJANG-Berdarnya isu dugaan pelanggaran HAM atas tragedi Meranti “Berdaarah” beberapa hari lalu (24/8) ditanggapi oleh, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).

Kepada media  melalui pesan Elektronik, Kordinator Kontras Haris Azhar meminta tragedi terbunuhnya warga Kabuapaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau dalam penangkapan dan kerusuhan harus segera disidik oleh kepolisian.

“Kita patut memberikan target, paling tidak dalam 1 kali 24 jam sudah harus dilakukan penyidikan atas pembunuhan terhadap masyarakat Meranti. Jika sampai tidak dilakukan, kita patut waspada dan cemas bahwa hukum akan dimanipulasi lagi,” ujar Haris Azhar, Minggu siang(27/8).

Pertikaian di Meranti, berawal dari meninggalnya Apri Adi Pratama atau Adi, tersangka pembunuh Brigadir Adil S Tambunan yang tewas setelah ditangkap aparat, Kamis dini hari (24/8). Kemudian berlanjut dengan meninggalnya Isnadi juga, diduga akibat tertembak tepat di kepala, saat aksi warga melakukan demo ke Mapolres Meranti.

Untuk itu, pihaknya meminta agar masyarakat Meranti dari berbagai lapisan, profesi, para tokoh semua untuk menjadi lokomotif penegakan hukum. Masyarakat semua harus mengawasi kerja pihak Polda Riau dalam melakukan penegakan hukum atas kasus Meranti Berdarah ini.

“Saya mengundang para korban dan tokoh untuk ke Jakarta, melaporkan buruknya kinerja Polisi di Meranti ke DPR RI, Komnas HAM, Ombudsmen Indonesia, dan lainnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut Haris juga menghimbau kepada pihak Polda atau Polres untuk tidak melakukan rayuan, ajakan, tekanan atau apapun bentuknya kepada korban, kelurga korban, ataupun saksi atas peristiwa rusuh di Meranti 2-3 hari lalu. Karena tindakan itu patut dilihat sebagai tindakan yang memalukan dan harus dihentikan.

Dia juga mengatakan mengapresiasi (rencana) pencopotan Kapolres Meranti, namun demikian tindakan ini tidaklah cukup. Kematian yang diduga dari tembakan personil polisi, penyiksaan dan kekacauan yang terjadi haruslah direspon dengan penegakan hukum.

“Sudah sering kita lihat bahwa brutalitas polisi hanya berujung hampa tanpa penegakan hukum. Kami khawatir hal ini berulang di Meranti,” ujarnya.

Namun berbeda lagi, atas keterangan pihak Kepolisian yang menduga bahwa kematian Isnadi,korban kerusuhan yang meninggal dunia beberapa hari lalu, bukan karena tembakan, melainkan karena lemparan batu.

Kepada media, Uli atau Juliana (34) istri dari warga sipil yang tertembak pasca tragedi Meranti “berdarah”, mengaku curiga, atas kematian suaminya itu bukan karena lemparan batu seperti yang dikatakan polisi, melainkan mati kareana ditembus pelu sejata api.

Ketika medapat kabar bahwa, suaminya menjadi korban sewaktu aksi unjuk rasa di Mapolres Kepulauan Meranti, dirinya pun bergegas menuju ke UGD-RSUD Selatpanjang, guna memastikan kebenaran informasi tersebut.

“Ternyata benar. itu suami saya. Saya melihat dari dekat, mukanya berlumuran darah, dan ada bekas luka di keningnya. Kalau kena lempar batu, seperti yang disampaikan oleh pihak kepolisian, saya tidak percaya,” ujarnya kepada Meranti Ekspres.

Selanjutnya, usai memastikan di UGD-RSUD bahwa korban tersebut, adalah suami nya. Dirinya pun bergegas menuju Mapolres Kepulauan Meranti. Namun sesampainya di Mapolres, Ia tidak mendapat pengakuan dari aparat penjagaan bahwa suami nya telah ditembak.

“Sepulang dari kamar mayat, saya langsung ke Mapolres Kepulauan Meranti. Saya mempertanyakan kepada polisi di ruang penjagaan. Mereka mengatakan kalau suami saya tewas karena lemparan batu lalu jatuh bersimbah darah,” ujar Juliana saat dikunjungi di rumahnya, beberapa hari yang lalu.(25/8)

Karena alasan yang diberikan oleh pihak kepolisian tidak masuk akal. Dirinya sebagai keluarga korban, sangat berharap kepada Kapolres, Kapolda Riau, Kapolri, serta Presiden RI, agar dapat menegakkan hukum seadil-adilnya atas musibah yang dialaminya.

“Kita minta hukum di negeri ini dapat ditegakkan seadil adilnya. Yang salah, harus di tindak tegas tanpa pandang bulu, jangan mentang mentang aparat, lalu di tutup-tutupi kesalahannya,”Pungkasnya.

Lanjut Juliana lagi, Suaminya yang sehari hari berpropesi sebagai nelayan itu, bukan saja sebagai tulang punggung bagi keluarganya, tetapi, juga sebagai tulag punggung keluarga dari orang tuanya.

“orang tua kami sudah tua, sudah tidak mampu bekerja,”ujarnya.

Isrusli(45) korban yang meninggal dunia dalam aksi massa di Mapolres Kepulauan Meranti, Kamis (25/8) siang meninggalkan satu istri dan tiga anak.(*/FR)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *