Kurikulum dan Guru dalam Era Industri 4.0

Oleh: Lastri Susanti, SPd, SD, Guru SDN 6 Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis

GENERASI emas bangsa ini akan datang dengan memasuki era industri 4.0 ditengah derasnya arus globalisasi yang sudah tidak terbendung dengan mengusung semangat era revolusi industri 4.0 yakni menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation.

Siap tidak siap, maka kita semua harus siap. Terutama dalam menghadapi tantangan tersebut, pengajaran pun dituntut untuk berubah, termasuk dalam menghasilkan guru-guru berkualitas bagi generasi masa depan Indonesia. Pemerintah pun sudah menghadirkan kurikulum 2013 sebagai sebuah jawaban untuk mempersiapkan diri menghadapi era ini.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah dijelaskan bahwa sesuai dengan standar kompetensi lulusan, sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan.

Dalam implementasinya, pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam seluruh pembelajaran pada setiap bidang studi yang terdapat dalam kurikulum. Materi yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap bidang studi perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dihubungkan dengan konteks kehidupan sehari-hari.

Implementasi pendidikan karakter juga mengarah pada pembentukan budaya sekolah yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan sehari-hari serta simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah dan masyarakat sekitarnya. Pada umumnya, pendidikan karakter menekankan pada keteladanan, penciptaan lingkungan dan pembiasaan melalui berbagai tugas keilmuan dan kegiatan kondusif.

Apalagi dalam implementasi Kurikulum 2013 ini, Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Pendidikan tidak hanya menyiapkan manusia-manusia Indonesia yang ahli teknologi dan komunikasi handal tapi juga memiliki karakter cinta negara dan bangsa yang kuat.

Dengan demikian, apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dikerjakan oleh peserta didik dapat membentuk karakter mereka. Selain menjadikan keteladanan dan pembiasaan sebagai metode pendidikan utama, penciptaan iklim dan budaya serta lingkungan yang kondusif juga sangat penting, dan turut membentuk karakter peserta didik.

Bagian dari kesiapan negara dalam menghadapai revolusi industri 4.0. Sebab kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) bahwa Indonesia diperkirakan masuk sebagai negara dengan potensi tinggi.

Meski masih di bawah Singapura, di tingkat Asia Tenggara posisi Indonesia cukup diperhitungkan. Sedangkan terkait dengan global competitiveness index pada World Economic Forum 2017-2018, Indonesia menempati posisi ke-36, naik lima peringkat dari tahun sebelumnya posisi ke-41 dari 137 negara.

Oleh sebab itu, lembaga pendidikan dalam hal ini melalui kementerian sudah melakukan upaya persiapan menghadapi era tersebut dengan melakukan inovasi-inovasi untuk pengembangan sumber daya manusianya. Sedangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan melalui pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan, yang mengarah pada pembentukan budi pekerti dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada setiap satuan pendidikan.

Melalui implementasi Kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi sekaligus karakter, dengan pendekatan tematik dan kontekstual diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

Dan lebih penting lagi adalah anak didik memiliki standar kompetensi kelulusan yang menjadi dasar baginya untuk ikut dalam kancah perubahan era revolusi industri 4.0. Apalagi di Kurikulum 2013 membentuk siswa melakukan melakukan pengamatan (observasi), bertanya, dan menalar terhadap ilmu yang diajarkan. Siswa diberi mata pelajaran berdasarkan tema yang terintegrasi agar memiliki pengetahuan tentang lingkungan, kehidupan, dan memiliki pondasi pribadi tangguh dalam kehidupan sosial serta kreatifitas yang lebih baik.

Pendidikan karakter mengatur tata kelakuan manusia pada aturan khusus, hukum, norma, adat kebiasaan dalam bidang kehidupan sosial manusia yang memiliki pengaruh sangat kuat pada sikap mental (mental attitude) manusia secara individu dalam aktivitas hidup.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah menuliskan bahwa sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan.

Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologis) yang berbeda. Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antarmata pelajaran, dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/ inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning). Rincian gradasi, sikap, pengetahuan, dan keterampilan

Pada pelaksanaan pembelajaran, guru mempunyai pengaruh besar sebagai pengendali dalam proses pembelajaran sehingga interaksi antara siswa dan bahan pelajaran sebagai perantara dapat berjalan dengan efektif dan efisiensi. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah menjelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran terdiri dari persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran yang meliputi: alokasi waktu jam tatap muka pelajaran, buku teks pelajaran, dan pengelolaan kelas, serta pelaksanaan pembelajaran yang terdiri dari kegiatan pendahuluan, inti dan penutup yang telah direncanakan dalam RPP.

Maka pembinaan keakraban bertujuan untuk mengkondisikan siswa agar mereka siap melakukan kegiatan belajar. Terbinanya suasana akrab sangat penting untuk mengembangkan sikap terbuka dalam kegiatan belajar dan pembentukan kompetensi siswa. Dalam hal ini siswa perlu diperlakukan sebagai individu yang memiliki persamaan dan perbedaan individual, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara guru sebagai fasilitator dan siswa serta antar siswa dengan siswa. ***

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *