Memaknai Bahasa ‘Mencintai Guru’ Terhadap Siswa

Oleh: Suroto, S.Pd,I, Guru Kelas VI SDN 15 Bukit Batu

SEMUA tingkah laku anak adalah bahasa cinta, sedangkan bahasa cinta seorang guru pada siswa adalah gambaran dari ketulusan hati paling dalam terhadap jiwa kependidikannya pada anak didiknya. Apalagi mendidik anak dalam generasi usia emas anak sekolah dasar (SD) yang diperlukan adalah kekuatan karakter dari seorang guru tidak hanya menjadi pengajar tapi lebih penting adalah menjadi pendidik.

David Booth dan Richard Coles dalam buku What Is a “Good” Teacher? menulis ciri guru yang baik yaitu menikmati berada di tengah siswa, menjadi model bagi siswa, peduli, inovatif dan bertumbuh, dan berusaha terlibat dengan siswa.

Mendidik dengan teladan adalah metode paling efektif dalam pembentukan sikap. Kata-kata tanpa tindakan serupa hanya jadi abu. Tanpa teladan, guru tidak bisa meluruskan sikap siswa yang bengkok berbicara dengan lemah lembut sangat baik dan bisa mengubah siswa.

Selaras dengan itu, Gary Chapman menyebutkan bahwa tingkah yang beraneka rupa ,anak mengharap respon positif dari orang dewasa. Oleh karena itu, kita tidak boleh tergesa-gesa menstempel/cap hitam terhadap anak yang bertingkah polah negatif, tetapi segeralah kita menangkap pesan cinta dari anak tersebut.

Disinilah muasal hati menjadi lunak dan lembut. Keduanya, nyatakan “aku hadir demi kamu.” Jika guru menganut filsafat ini maka bagaimanapun karakter siswa yang dihadapi, guru akan mampu menerima dan menghadapinya dengan bijak. Kemudian yang tidak kalah penting adalah nyatakan “akulah sahabatmu.” Apabila ada teman yang selalu setia bersama kita di kala susah atau senang, maka dialah teman sejati.

Sebab tujuan dari dunia pendidikan adalah berguna untuk mematangkan pengetahuan, skill, dan sikap siswa. Sedangkan sikap cerdas dan berkarakter yang menjadi tujuan pendidikan adalah menuju siswa sehat jasmani dan rohani, keseimbangan jiwa dan raga. Seperti ditegaskan dalam UU Sisdiknas pasal 1 ayat 1, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya agar memiliki spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Maknanya adalah bahwa dunia pendidikan adalah sebuah dunia yang lahir dari rahim kasih sayang. Tapi dia tidak akan muncul ketika seorang guru menjadi guru dengan model “polisi” yang akan menjadi teman dinas bagi siswanya. Padahal sebagai teman sejati guru harus mampu menciptakan komunikasi “pemecah es” untuk memecahkan kebekuan suasana dalam berinteraksi dengan siswa.
Disamping itu, seorang guru harus pandai memenej emosinya secara baik dan canggih. Jangan sampai mencampuradukan persoalan pribadi dengan masalah sekolah.

Bila guru ingin meluapkan emosi yang sulit dibendung dihadapan siswa, hendaklah dengan cara duduk, jangan dengan berdiri apalagi dengan berkacak pinggang. Bila amarah belum reda, cobalah dengan berbaring sejenak, dan bila dengan berbaring masih belum mampu mengendalikan perasaan marah maka hendaklah mengambil air wudhu atau cuci muka. Api amarah akan padam mereda bila disiram dengan air.

Peran seperti inilah yang disebut oleh Presiden Soekarno, sebagai “Guru di dalam arti yang spesial, yakni menjadi pembentuk akal dan jiwa anak-anak.” Dari seorang gurulah kita berharap lahir generasi bangsa yang unggul untuk mengantarkan negeri ini menjadi semakin bermartabat.

Guru adalah orang tua kedua bagi anak. Maka, hendaklah guru berusaha berbuat sebagaimana dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Mendoakan anak secara rahasia merupakan keniscayaan bagi guru yang kini banyak terlupakan. Guru selain sebagai pengajar dan pendidik serta yang tidak kalah pentingnya adalah menjadi pendoa bagi anak didiknya.

Sehingga ada tiga hal yang sangat dibutuhkan siswa di sekolah yaitu pertama lingkungan belajar yang aman dan nyaman, kedua sekolah sebagai rumah kedua dan ketiga komunitas teman sebaya. Lingkungan belajar yang aman dan nyaman meliputi sarana dan prasarana fisik serta suasana belajar yang enjoy learning. Belajar akan efektif jika berada dalam keadaan yang menyenangkan. Berangkat dari rasa kegembiraan itulah maka akan bangkit minat, adanya keterlibatan penuh, tercipta makna, adanya pemahaman atau penguasan materi serta munculnya nilai yang membahagiakan.

Guru sebagai sosok yang pantas digugu dan ditiru, penting menempuh pendekatan yang disertai dengan kelembutan terhadap anak didik. Makanya kata Rudolf Dreikurs, sekolah harus ramah terhadao anaknya dimana ada beberapa langkah yang harus ditempuh oleh guru untuk mengembangkan sekolah ramah anak. Pertama, jadilah guru yang tidak lagi bertindak sebagai penguasa kelas atau mata pelajaran, tetapi bertindaklah sebagi pembimbing kelas atau mata pelajaran; kedua, kurangi kelantangan suara dan utamakan keramahtamahan suara.

Ketiga, kurangi sebanyak mungkin nada memerintah dan diganti dengan ajakan; keempat, hindarkan sebanyak mungkin hal-hal yang menekan siswa; kelima, hal-hal yang menekan diganti dengan pemberian motivasi terhadap anak sehingga bukan paksaan yang dimunculkan, tetapi pemberian stimulus; dan keenam, jauhkan sikap guru yang ingin”menguasai”siswa karena sikap yang lebih baik ialah mengendalikan siswa. Hal yang terungkap bukan kata-kata mencela, tetapi kata-kata guru yang membangun keberanian dan kepercayan diri siswa.

Sekolah merupakan miniatur kehidupan dalam masyarakat. Karena itu, selain diberi pembelajaran dalam keseharian, para siswa juga diajak mengembangkan aspek persaudaraan dan solidaritas antar teman sebagai bekal kehidupan bersosisalisasi dalam hidup bermasyarakat. Pengembangan aspek kemanusiaan ini bisa tercipta jika guru dapat menciptakan iklim pembelajaran dikelas yang kondusif dengan menerapkan model-model pembelajaran yang menantang siswa berfikir kritis dan kreatif. Lewat sekolah, siswa diajarkan rasa saling menghormati dan mencintai perbedaan dalam segala bidang baik dengan teman, guru dan masyarakat sekitar. Siswa tidak cukup hanya menerima perbedaan, tetapi lebih penting lagi mencintai kebersamaan dalam perbedaan.

Mau dan mampukah guru menanam dan menyemai cinta di hatinya untuk siswa-siswinya ? harus ! Karena keputusan seseorang menjadi seorang guru haruslah memahami resiko-resiko yang akan ia hadapi sebagai orang yang berprofesi sebagai pendidik, dengan semangat totatalitas kerja yang tinggi. Selamat menebar pesona cinta untuk semua siswanya bagi sang pahlawan cendekia.

Seorang guru adalah seorang pemimpin. Yang cara berpikir, sikap mental dan prilakunya yang tercermin dalam keseharian di depan dan diluar kelas, menjadi contoh teladan bagi anak anak yang berada diasuhnya.Seorang yang tidak dapat memimpin dirisendiri, mustahil akan dapat menjadi seorang guru yang baik.
Makanya, seorang guru adalah sosok yang seharus patut ditiru, prilakunya. Beruntung masih cukup banyak guru yang patut menjadi teladan. Namum masih cukup banyak yang berdiri sebagai pengajar. Semoga kedepan setiap sosok yang berdiri mengajar di depan kelas adalah seorang guru.

Seorang guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid muridnya, tetapi juga mendidik mereka. Menjadi guru jangan hanya ingin menjadi orang yang didengarkan kata katanya, tetapi juga harus bersedia mendengarkan kesulitan yang dihadapi oleh muridnya.

Murid-murid di zaman kini, sudah jauh lebih kritis dibandingkan 10 tahun lalu. Coba dengarkan apa yang mereka saling ceritakan diluar kelas. Bayangkan, kalau di benak murid murid, sudah tertanamkan image seorang guru yang tidak dapat menjaga kewibawaan seorang pendidik maka apakah kita masih bisa berharap kelak anak-anak didik sang guru, bakal menjadi anak-anak yang cerdas dan jujur. Oleh sebab itu, seorang guru harus senantiasa mengikuti perkembangan pendidikan karena menguatirkan bila cucu-cucu kita berada dalam tangan seorang pengajar, bukan seorang guru. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *