Memaksimalkan Belajar Tatap Muka Daring

Basyitah, S.Pd, SD, Guru SDN 6 Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis

SEJAK diberlakukannya sistem pembelajaran jarak jauh, begitu Pandemi Covid 19 melanda maka banyak hal baru yang terjadi dalam proses belajar mengajar di sekolah. Belajar tatap muka dengan sistem daring pun menjadi sangat populer dan akrab dipendengaran kita semua.

Perubahan kebiasaan sekolah dalam pembelajaran dan tentu saja merubah tatanan dan kebiasaaan aktivitas hubungan siswa dan guru. Pembelajaran dengan peserta didik yang biasanya tatap muka akhirnya dihentikan diubah dengan pembelajaran daring.

Apalagi sekolah sebagai suatu sistem pendidikan pun mulai mencari suatu inovasi untuk proses kegiatan belajar mengajar. Jawabannya melalui Surat Edaran nomor 4 Tahun 2020 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang memberlakukan Program Belajar dari Rumah. Pemerintah memberlakukan kebijakan pembelajaran daring untuk memperlambat penyebaran COVID-19, pola itu menuntut peran guru lebih kreatif dan inovatif.

Kegiatan pembelajaran daring sebuah metode memanfaatkan jaringan online dan bisa membuat para siswa kreatif menggunakan fasilitas yang ada, seperti membuat konten dengan memanfaatkan piranti pembelajaran yang sudah dimiliki seperti smart phone maupun mengerjakan seluruh kegiatan belajar melalui Lembar Kerja Siswa yang dikirim ke sekolah.

Metode ini sangat cocok diterapkan bagi pelajar yang berada pada kawasan zona merah, Sistem pembelajaran yang disampaikan akan tetap berlangsung dan seluruh pelajar tetap berada di rumah masing-masing dalam keadaan aman.

Tetapi ada sebagain kecil siswa yang tidak memiliki fasilitas dalam pembelajaran jarak jauh diberikan fasilitas luring dimana model embelajaran yang dilakukan di luar jaringan. Dalam artian, model pembelajaran luring ini disarankan oleh Mendikbud untuk memenuhi penyederhanaan kurikulum selama masa darurat pendemi ini.

Metode ini dirancang untuk menyiasati penyampaian kurikulum agar tidak terlalu sulit saat disampaikan kepada siswa. Selain itu, pembelajaran yang satu ini juga dinilai cukup baik bagi mereka yang kurang atau tidak memiliki sarana dan prasarana yang mendukung untuk sistem daring.

Langkah awal pembelajaran daring adalah menginformasikan agar siswa masuk dalam group Whasapp kelas serta orang tua untuk bergabung pada group Whasapp Walimurid dengan selalu memberikan informasi dan pengumuman mulai jadwal pembelajaran daring sampai aktivitas selama pembelajaran jarak jauh.

Kegiatan ini, selalu dalam pantauan dengan rasa tanggung jawab demi kemajuan siswa, guru serentak membekali diri mengikuti berbagai pelatihan baik melalui zoom meeting, google meet ataupun melalui Youtube. Webinar ini diikuti dengan harapan guru mampu memberiksn yang terbaik untuk peserta didik.


Setiap hari sesuai jadwal pelajaran jarak jauh guru informasikan kepada walimurid dan siswa. Guru tetap memberikan pembelajaran dengan rasa tanggung jawab walaupun pandemi berlangsung. Stiap hari guru mengupload pembelajaran di Google classroom sesuai jadwal pembelajaran masing-masing baik materi maupun tugas.

Disamping itu, kemampuan berinovasi dalam pembelajaran kolaboratif di saat pandemi Covid-19, terasa mustahil. Padahal, pembelajaran kolaboratif merupakan solusi bagi siswa dalam mempelajari suatu materi yang sulit dengan memanfaatkan keragaman yang terdapat dalam lingkungan belajar, yakni dengan saling berbagi gagasan dengan teman sebaya yang berbeda pandangan. pembelajaran kolaboratif merupakan produk gagasan bersama, di mana siswa mengajukan, menyimak dan merespon gagasan satu sama lain, lalu membangun sebuah pemaknaan atau pemahaman melalui usaha bersama dalam keragaman atau perbedaan.

Dengan demikian, pembelajaran kolaboratif menuntut siswa untuk berpartisipasi aktif dalam memanfaatkan keragaman individu. Pembelajaran kolaboratif lebih mengutamakan aktivitas berbagi daripada membangun gagasan secara bersama-sama.

Sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik.

Oleh sebab itu, sesuai UU maka guru tidak sendiri lagi mengelola pembelajaran seperti di sekolah, demikian juga orang tua tidak lagi dapat menyerahkan seluruh aktivitas belajar anak kepada guru, namun orang tua dan guru bekerja sama untuk mendampingi siswa dalam kegiatan belajarnya. Perubahan ini dirasakan oleh siswa, guru dan juga orangtua, sehingga dibutuhkan strategi untuk efektivitas komunikasinya.

Bagaimana mendesain pembelajaran kolaboratif? Pembelajaran kolaboratif dirancang untuk melaksanakan ketuntasan proses belajar. Pembelajaran tidak akan berhasil jika peserta didik tidak memahami tujuan atau kompetensi pembelajaran. Dalam mencapai tujuan peserta didik melakukan konsultasi atau sharing dengan guru.

Langkah pembelajaran kolaboratif: pertama menyampaian tujuan dan memotivasi bagi peserta didik, yang bisa disampaikan lewat WhatsApp Group. Kedua penyajian informasi dalam bentuk demonstrasi atau melalui bahan bacaan. Demontrasi juga bisa melalui video yang dikirimkan guru ke WhatsApp Group. Ketiga adalah pengorganisasian peserta didik ke dalam kelompok- kelompok belajar, melalui kelompok WhatsApp Group Kecil, yang tetap dalam kendali guru.

Adapun yang keempat adalah membimbing kelompok bekerja dan belajar baik secara kelompok besar di WhatsApp Group kelas, maupun dalam kelompok kecil dan individu. Kelima, guru tetap melakukan evaluasi tentang apa yang sudah dipelajari sehingga masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya dengan Google Meet.

Sedangkan yang keenam memberikan penghargaan baik secara kelompok maupun individu, dimulai dari yang sederhana seperti kata-kata pujian, tepuk tangan di Google Meet, hingga hadiah pulsa. Semua kegiatan pembelajaran kolaboratif ini perlu didukung oleh semua pihak. Yang pasti, memaksimalkan pembelajaran tatap muka melalui Darling adalah menjadi formula inovasi proses belajar mengajar dimasa pandemi Covid 19 untuk menuju lebih baik. ***

*Oleh: Basyitah, S.Pd, SD, Guru SDN 6 Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *