Menanam Nilai Karakter Berbudi Pekerti Pancasila pada Diri Siswa

Muhamad Yatim, S.Pd, SD, Guru SDN 15 Bukit Batu

Oleh: Muhamad Yatim, S.Pd, SD, Guru SDN 15 Bukit Batu

MENANAMKAN karakter dan budi luhur kepada anak-anak didik merupakan sesuatu yang tak bisa ditawarkan. Apalagi seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi sehingga tidak lagi dikenal batasan ruang dan waktu sehingga sedikit banyak akan berpengaruh kepada cara bagaimana pendidikan karakter diterapkan di sekolah.

Terutama dalam menanamkan budi pekerti dengan sikap jujur, bertanggung jawab, sopan santun, peduli dan lain lain yang sesuai dengan nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila inilah oleh Presiden RI pertama, Ir Soekarno disebut sebagai nilai jiwa bangsa Indonesia yang secara turun-temurun terwariskan. Makanya, sebagai ideologi dasar bagi bangsa Indonesia maka Pancasila bermakna lima aturan tingkah laku penting sehingga menjadikan Pancasila sebaga falsafah bangsa Indonesia.

Apalagi tujuan dasar pendidikan adalah untuk memajukan budi pekerti sehingga seorang individu menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan mampu mencapai kesempurnaan hidup sehingga mampu hidup selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Sedangkan tujuan pendidikan karakter yang merupakan upaya mewujudkan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatar belakangi oleh realita. Dengan prilaku- prilaku yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia saat ini.

Walaupun memang, pendidikan karakter yang ditujukan kepada siswa disebutkan sebagai pendidikan nilai, pendidikan nilai budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk dan mewujudkan di dalam kehidupan sehari-hari.

Dan yang harus ditanamkan kepada siswa adalah pemahaman bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maka Pancasila menjadi pilar pertama bagi tegak kokoh berdirinya negara bangsa Indonesia. Kemudian memberikan pengetahuan dasat tentang, mengapa bangsa Indonesia menetapkan Pancasila sebagai pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan harapan siswa bisa paham bahwa sebagai pilar atau tiang penyangga suatu bangunan harus memenuhi syarat yakni disamping kokoh dan kuat, juga harus sesuai dengan bangunan yang disangganya.

Contohnya, bangunan rumah, tiang yang diperlukan disesuaikan dengan jenis dan kondisi bangunan. Kalau bangunan tersebut sederhana tidak memerlukan tiang yang terlalu kuat, tetapi bila bangunan tersebut merupakan bangunan permanen, konkrit, yang menggunakan bahan-bahan yang berat, maka tiang penyangga harus disesuaikan dengan kondisi bangunan dimaksud.

Sehingga kalau pun Pancasila dianggap sebagai sesuatu yang sakral, dimana setiap warganya harus hafal dan mematuhi segala isi dalam Pancasila tersebut menjadi sesuatu yang tak bisa dibantahkan. Walaupun terkadang, sebagian warganya hanya menganggap Pancasila hanya sebatas sebagai dasar negara/ideologi semata, tanpa memperdulikan makna dan manfaatnya dalam kehidupan.

Akibatnya, prilaku dan tindakannya sangat jauh dan menyimpang dari akar nilai budi pekerti yang terdapat dalam Pancasila. Maka dari itu, pemahaman Pancasila tidak hanya mengerti, namun juga mengamalkan dan melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai pendidikan karakter.
Pancasila berkedudukan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila dijadikan sebagai landasan kehidupan seluruh masyarakat Indonesia dalam segala hal, termasuk dalam bertutur kata, bersikap dan berperilaku. Tutur kata, sikap dan perilaku merupakan salah satu wujud dari budi pekerti manusia. Tutur kata, sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilainilai Pancasila merupakan wujud budi pekerti luhur manusia Indonesia yang membedakannya dengan manusia dari negara lainnya.

Sedangkan sebagai mahkluk sosial maka manusia perlu berkata-kata dengan manusia lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia mempunyai perasaan yang dapat merasakan senang, marah, sakit dan sebagainya. Untuk itu diperlukan bahasa yang sopan dan santun agar satu sama lain berkomunikasi berjalan lancar dan tidak terjadi kesalahpahaman.

Bertutur kata sesuai dengan nilai Pancasila adalah bertutur kata baik yang diwujudkan dengan berkata-kata atau berbincang-bincang tidak kasar atau tidak kotor. Dengan bertutur kata yang baik maka orang lain tidak akan tersinggung, kecewa, marah ataupun sakit hati. Tutur kata yang baik merupakan sikap atau adab dalam berbicara yang penuh dengan kesopanan dan mampu menempatkan bahasa yang pantas sesuai dengan situasi dan kondisi maupun siapa yang kita ajak bicara.

Bertutur kata yang buruk atau seronok bukan kepribadian bangsa Indonesia. Hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, dan bisa menyebabkan rendahnya penilaian orang lain terhadap kita. Oleh karena itu, supaya terhindar dari tutur kata yang buruk maka haruslah, 1. Berpikir sebelum berkata atau menyampaikan sesuatu kepada oranglain, 2. pikirkan akibat dari kata-kata yang akan kita ucapkan, 3. Berbicara seperlunya tanpa harus memperbanyak pembicaraan yangtidak bermanfaat, 4, sampaikan maksud dengan bahasa yang halus dan tidak berbelit-belit, 5. Tidak meninggikan atau mengeraskan suara ketika berbicara, 6. Menunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada lawan bicara dan 7. Berusaha membalas perkataan buruk dengan perkataan yang baik dan sopan.

Pancasila dinilai memenuhi syarat menjadi sebagai pilar bagi negara-bangsa Indonesia yang pluralistik dan cukup luas dan besar ini. Pancasila mampu mengakomodasi keanekaragaman yang terdapat dalam kehidupan negara-bangsa Indonesia.

Lihat sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung konsep dasar yang terdapat pada segala agama dan keyakinan yang dipeluk atau dianut oleh rakyat Indonesia merupakan ranah dari berbagai agama, sehingga dapat diterima semua agama dan keyakinan.

Demikian juga dengan sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, merupakan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Manusia didudukkan sesuai dengan harkat dan martabatnya, tidak hanya setara, tetapi juga secara adil dan beradab. Pancasila menjunjung tinggi kedaulatan rakyat, namun dalam implementasinya dilaksanakan dengan bersendi pada hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan Sedang kehidupan berbangsa dan bernegara ini adalah untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan untuk kesejahteraan perorangan atau golongan. Nampak bahwa Pancasila sangat tepat sebagai pilar bagi negara-bangsa yang pluralistik. Pancasila sebagai salah satu pilar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memiliki konsep, prinsip dan nilai yang merupakan kristalisasi dari belief system yang terdapat di seantero wilayah Indonesia, sehingga memberikan jaminan kokoh kuatnya Pancasila sebagai pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. ***

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *