Mengintegrasikan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran

Destri Rosfida, S.Pd, Guru SMPN 2 Bengkalis

PENDIDIKAN karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah.

Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai.

Pengelolaan tersebut antara lain meliputi,nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian,pendidik dan tenaga kependidikan, dankomponen terkait lainnya. Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.

Oleh sebab itu, pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di tingkat SMP misalnya ada beberpa hal yang perlu segera dikaji dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah.

Apalagi pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan.

Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.

Pendidikan karakter sebenarnya merupakan bagian esensial yang menjadi tugas sekolah. Selain pencapaian dari sisi akademis yang memuaskan, seharusnya sekolah tetap bertanggung jawab dalam pembentukan karakter siswa. Namun dalam kenyataannya dua hal ini belum bisa berjalan secara selaras, karena pencapaian akademis mengalahkan idealitas peran sekolah dalam pembentukan karakter.

Pendidikan karakter kini menjadi suatu wacana utama dalam kebijakan nasional di bidang pendidikan. Seluruh kegiatan belajar dan mengajar yang ada di negara indonesia harus mengacu pada pelaksanaan pendidikan karakter. Ini juga tersirat dalam Naskah Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2010.

Pendidikan Karakter, merupakan suatu dimensi psikososial dari diri Individu yang bisa dibentuk dengan tata cara yang bertahap dalam jangka waktu yang panjang. Seringkali pembentukan karakter anak dimulai sejak dalam kandungan hingga dirinya dewasa dengan keterlibatan peran keluarga dalam pembentukan kepribadian.

Karakter ini merupakan suatu keadaan yang berinteraksi secara internal dalam diri Individu dan memiliki keterkaitan yang erat dalam konteks lingkungan tempat Individu berada. Menurut (King, 2012) Pembentukan karakter ini merujuk pada bawaan individu serta merujuk pula pada pengalaman individu ketika berada di lingkungannya baik secara subyektif maupun obyektif. Interaksi antara bawaan dan lingkungan ini akan saling mempengaruhi hingga pada kadar tertentu membentuk suatu perilaku yang menetap.

Penanaman kebiasaan dalam berinteraksi dengan lingkungannya biasanya diawali dengan peran orang tua dalam mendidik anak di rumah. bila menginginkan kebiasaan baik menetap maka kebiasaan ini harus dirubah menjadi suatu kepribadian pada diri Individu.

Kepribadian yang baik dan menetap inilah yang nantinya bisa menjadi karakter apabila kepribadian ini diwariskan. Pendidikan kepribadian ini baru bisa disebut pewarisan karakter apabila dilakukan tidak hanya dari seorang pendidik ke muridnya, namun juga dari setiap insan yang ada dalam suatu bangsa ke insan yang lainnya dari generasi ke generasi selanjutnya tanpa melihat perbedaan kelas ataupun tingkatan.

Suatu karakter yang bermula dari kepribadian yang baik yang tercermin dalam identitas bangsa hanya bisa menjadi karakter ketika bisa menunjukan kebiasaan yang terpuji yang bisa dipertahankan dalam berbagai kondisi secara menetap.

Oleh sebab itu, ada tiga sifat utama dari bentuk karakter yaitu memiliki sifat menetap, butuh waktu yang lama dan bertahap untuk membentuknya dan dibentuk melalui penguatan. Penguatan merupakan kunci dari suksesnya pendidikan karakter. Penguatan yang diberikan dalam pendidikan karakter bangsa Kita haruslah bukan sekedar berbentuk pemberian reward dan punishment bagi peserta didik.

Proses penguatan dalam pendidikan ini juga harus mampu memberikan kesadaran makna akan pentingnya pendidikan bagi manusia yang berkarakter. Serta pemberian nilai yang diperkuat harus

menekankan pada peran ahklak dalam pembentukan karakter bangsa. Selayaknya penguatan ini haruslah berbentuk penguatan yang manusiawi dan bisa memberi makna mendalam bagi peserta didik.

Bangsa Indonesia telah memiliki karakter yang bernilai luhur dan diwariskan secara turun-temurun. Akan tetapi pewarisan dengan cara yang konservatif saja tidaklah cukup. Perlu dilakukan pewarisan dan pembentukan karakter bangsa yang bisa mencetak generasi penerus berkarakter dan bermartabat dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh sebab itulah dilakukan pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai pendidikan karakter.

Pendidikan karakter menekankan pada suatu nilai moral yang universal yang bisa diterima baik oleh berbagai kalangan di seluruh kelompok sosial. Pendidikan karakter berfokus bukan lagi pada sesuatu yang salah dan benar saja tapi sudah pada tingkat baik dan buruk hal yang diajarkan. Tujuan dari pendidikan karakter ini ialah mencetak Individu yang berkarakter. Individu baru bisa dikatakan berkarakter apabila dirinya sudah mampu melaksanakan segala keputusan yang diambilnya dengan pertimbangan moral. ***

*Oleh: Destri Rosfida, S.Pd, Guru SMPN 2 Bengkalis

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *