Minta Perhotel dan Restoran Kedepankan Kuliner Khas Meranti

170316101052_penghasil-terbaik-alternatif-pangan-nasional-meranti-dapatSELATPANJANG-Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kepulauan Meranti mengimbau pemilik bisnis perhotelan restoran hingga warung kopi di Kepulauan Meranti mengutamakan penyajian kuliner yang berbahan asli lokal. Hal ini untuk memperkenalkan bahan kuliner lokal kepada pengunjung.
“Kami menyarankan untuk memasukkan menu masakan dan minuman berasal dari bahan lokal Meranti, seperti sagu dan kopi liberika sebagai opsi utama bagi pengunjung,” kata Ketua PHRI Kepulauan Meranti, R Uyung Permadi Salis kepada media.
Ia mengatakan makanan tradisional akan lestari dan perekonomian petani setempat akan terangkat jika para pengelola hotel, restoran dan cafe menyajikan makanan tradisional dengan menggandeng pengusaha makanan khas dari bahan lokal. Ia juga menyayangkan,  hingga saat ini ia masih mendengar masih banyak hotel, restoran bahkan cafe yang belum memasukkan kuliner khas dan bahan asli dari Meranti.
“Saya dengar kopi liberika masih belum digunakan sebagai opsi yang ditawarkan ke pengunjung. Saya sempat menyangka kopi-kopi yang disuguhkan di setiap cafe dan warung kopi merupakan kopi asli Meranti, namun kenyataannya bukan,” ujarnya.
Padahal menurutnya, potensi komuditi kopi yang ada di Meranti sudah dikenal di pasar luar negeri. Bahkan kopi liberika sudah memiliki sertifikat IG. Namun sayangnya kopi asli Meranti yang mendunia tidak dibarengi dengan penggunaannya di daerah penghasilnya.
Menurutnya, sektor industri kecil menengah (IKM) dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga memiliki peranan yang cukup besar di dalam memperkenalkan kekhasan daerah untuk memajukan sektor pariwisata. Pasalnya, motivasi seorang wisatawan ke suatu daerah pasti menginginkan sesuatu yang khas. Namun, untuk menarik minat pengunjung untuk menikmati sajian panganan khas tersebut, pengelola juga dituntut melakukan inovasi.
“Kami juga berharap agar petani kopi dan kilang sagu untuk meningkatkan kualitas produksinya agar hasil olahan mereka diminati oleh pengunjung. Jika IKM dan UMKM berkembang, maka secara tidak langsung jasa perhotelan, restoran juga ikut berkembang,” katanya.
Selain Ketua PHRI, Anggota DPRD Kabupaten Kepuluan Meranti Edi Mashyudi SPdI juga menilai, masih ada beberapa pengusaha Hotel dan Restoran yang tidak ada menyajikan kuliner asli tempatan Kabupaten Kepuluan Meranti. Salah satunya Mie sagu.
“Memang sudah ada beberapa hotel dan restoran yang menyajikan kuliner tradisional terlebih berbahan sagu, tapi belum semua hotel dan restoran telah mempromosikan wisata kuliner kebanggaan Meranti ini. semestinya ini kuliner tempatan yang harus dikedepankan. Bila perlu, diajukan Perda nya oleh instansi terkait,”ujar Edy.(*/FR)
Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *