Pemutaran Kedua Film Bakung di Tepi Tasik

8-merantiSELATPANJANG– Film berjudul ”Bakung di Tepi Tasik” produksi Sangar Kepurun, Desa Alai Selatan, mendapat tempat di hati masyarakat sehingga atas permintaan masyarakat, film yang bercerita tentang lingkungan ini diputar untuk kedua kalinya.Sebelumnya, sepekan lalu film yang disutradarai Ketua Sangar Kepurun, Syaiful Rizan, ini sudah diputar di halaman Kantor Camat Tebingtinggi Barat dan pemutaran kedua bertempat di halaman LAMR Meranti, Jalan Dorak.

”Karena banyak masyarakat bertanya kapan film ini diputra lagi, jadi kite berinisiatif memfasilitasnya untuk pemutaran yang kedua kalinya di halaman LAMR Meranti,” kata Sekretaris Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kepulauan Meranti, Drs H Ismail Arsyad.

Sabtu (6/2) malam itu, pemutaran kedua film yang juga disokong Komunitas Bernas (Kemas) Meranti dan Sangar Bathin Galang Desa Bokor, juga mendapat sambutan masyarakat Meranti.  Sekitar pukul 08:45 WIB, sesaat film hendak diputar terlihat ratusan masyarakat sudah mengatur posisi mereka masing-masing. Ada yang berselemput di tas karpetmerah yang memang disediakan panitia, namun tak sedikit juga pasangan muda-mudi menghabiskan malam Minggu nonton bareng di atas sepeda motor mereka.

”Antusianya masyarakat menonton pemutaran kedua film ini, ini bukti bahwa film ini mendapat tempat di hati masyarakat. Makanye, atas keinginan masyarakat film produksi anak Meranti ini kita putar untuk kedua kalinya,” kata Sekretaris Dispora Meranti itu.

Usai menonton film berjudul Bakung di Tepi Tasik itu, seniman Meranti yang juga mantan Anggota DPRD Meranti, Afrizal Cik, mengaku kagum lantaran dia tau betol bahwa anak-anak Meranti yang memproduksi film tersebut sama sekali tidak mendapat pendidikan khsusu tentang perfilman. Semuanya otodidak, bakat alamlah yang menempa mereka.Afrizal Cik juga berani menantang siapa yang berkomentar buruk terhadap film tersebut, dan dia menilai jika ada tanggapan miring dengan film Bakung di Tepi Tasik ini buruk maka hati merekalah yang buruk. ”Sekarang tunjukan karya yang telah dibuat, dan tunjukan kepada kami mana karya yang baik itu,” kata Afrizal Cik kepada wartawan.

Harapan kedepan Afrizal Cik, saat ini di Meranti sudah berlambak sanggar yang begitu kreatif dengan karyanya. Hal ini sangat disayangkan jika tidak didukung dalam satu wadah sehingga karya tersebut nantinya hanya sebatas memuaskan ”nafsu” saja. ”Perlu wadah kesenian yang memperhatikan kegiatan-kegiatan seni serta membina dan mengangkat kreatifitas seniman di Meranti ini,” ucap Afrizal Cik.Sementara itu, Ketua Sanggar Kepurun, Syaiful Rizan, sangat terharu dengan sambutan masyarakat atas karya mereka. ”Hal ini jelas semakin memicu kami untuk berkarya lebih bagus lagi. Sebelumnya kami tidak menyangka film ini mendapat sambutan sebegitu besar,” ucap Syaiful.

Proses pembuatan film ini, diakui Syaiful Rizan, berawal dari rasa ingin berbuat untuk kampung sendiri. Hal ini dipicu sebuah Film Televisi (FTv) ”Mengejar Cahaya” yang diproduksi Taufik Hidayat alias Atan Lasak. ”FTv Mengejar Cahaya itu sangat mengilhami dan memicu semangat kami untuk juge berbuat, apa lagi dalam film itu banyak anak Meranti yang main,” kata Syaiful. (*/FR)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *