Pena Jawa Turki, Keraton Mataram, dan Eksistensi Kerajaan Nusantara

hagia-sophia-di-turki-_150930152544-477TURKI memang bukan negara yang baru muncul kemarin sore. Usia Negara ini sudah mendekati seribu tahun, tepatnya berdiri pada tahun 1299, yakni ketika suku-suku Turki di bawah pimpinan Osman Bey bersatu dan mendirikan negara itu di wilayah barat laut Anatolia.

Bahkan, setelah Romawi ambruk, maka negara Turki lama atau Kekhalifahan Ottoman (Turki Usmani) ini, seiring penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II  pada tahun 1453, secara perlahan mulai berubah menjadi negara adikuasa. Puncaknya, pada abad ke-16 dan ke-17 Masehi, kesultanan tersebut sempat menguasai atau menjadi imperium dunia, sebelum kemudian mengalami kemunduran serta kemudian dibubarkan oleh Kemal Ataturk pada 3 Maret 1924.

Dulu, di berbagai forum diskusi yang membahas mengenai peradaban Islam, mendiang Nurcholish Madjid kerap membandingkan lamanya masa “kekuasaan Islam”, termasuk imperium Turki Usmani, ketika menggenggam peradaban dunia.

“Peradaban Islam menguasai dunia selamaa 700 tahun atau bahkan bisa juga disebut hampir 1.000 tahun. Bandingkan dengan peradaban barat yang baru mulai berkuasa sejak beberapa ratus tahun silam, yakni setelah munculnya revolusi industri. Kalau Amerika Serikat malah baru kemarin eksis menjadi penguasa dunia, yakni mulai tahun 1990-an setelah Uni Soviet rubuh. Bayangkan betapa lamanya kurun itu,’’ ujar Nurcholish Madjid.

Dia juga membandingkan sosok Kesultanan Ottoman dengan Kerajaan Majapahit yang juga sama-sama berdiri di awal abad ke-13. Fakta menyatakan, kerajaan di Turki itu sempat menjadi penguasa dunia dan jejaknya masih terlihat jelas sampai sekarang, namun untuk kerajaan yang berada di Jawa bagian timur itu kini  sosoknya hampir-hampir tak ada lagi. Bahkan, jejaknya hanya beberapa penggal saja yang bisa ditemukan.

Uniknya lagi, meski berada di belahan dunia yang jauh dari Indonesia, tetapi karena sempat menjadi imperium duniamaka sosok Kesultanan Turki tersebut semenjak dahulu ternyata banyak terkait dengan kerajaan-kerajaan yang ada di kawasan nusantara. Kesultanan Aceh, misalnya, punya hubungan istimewa dengan Kekhalifahan Turki itu. Dulu, ketika mereka menghadapai ekspansi Portugis yang sudah menguasai Malaka, para penguasa Kesultanan Aceh rutin meminta bantuan penguasa Ottoman Turki untuk mendatangkan bantuan pertahanan negara berupa kapal, meriam, tenaga ahli militer, hingga kaum cerdik pandai agar negaranya terbebas dari kolonial Portugis.

Maka menjadi tak mengherankan bila di pinggiran Banda Aceh sampai kini masih bisa ditemukan bekas kampung yang didirikan oleh para pendatang atau keturunan Turki. Memang, kampung ini pada tahun 2004 sempat luluh lantak diterjang tsunami. Kondisinya bisa dipulihkan kembali dengan bantuan dana rehabilitasi dari Pemerintah Turki. Hal inilah yang secara jelas menandakan bahwa hubungan Aceh dengan Turki bernilai khusus, mulai dari zaman dahulu sampai sekarang.

Sedangkan, untuk dua kerajaan di Jawa, yakni Banten dan Mataram, juga tercatat pada tahun paruh pertama tahun 1600-an sempat meminta legitimasi kekuasaan rajanya kepada penguasa Turki. Mereka mengirimkan utusannya untuk menemui wakil dari penguasa Turki yang berada di Makkah (lazim disebut dengan Syarif Makkah).Tujuannya untuk meminta persetujuan menggunakan gelar “sultan” serta mendapatkan “stempel mas Byat Al-Haram, Makkah”.

Tak hanya itu, dalam fakta yang lebih kontemporer, dalam sebuah perbincangan dengan jurnalis asal Turki, ada hal mengagetkan yang mana bisa dipakai sebagai pertanda betapa dekatnya hubungan Turki dengan kawasan dan berbagai kerajaan di kepulauan nusantara. Dia menyebut adanya sebuah alat tulis semacam pensil dari bambu yang diruncingkan (ujung runcingnya itu dicelupkan ke tinta untuk menulis di atas kertas) yang oleh orang Turki disebut dengan “pena jawa”.

‘’Memang banyak alat tulis yang lain. Tapi saat itu ‘pena bambu’ atau ‘jawa’ adalah yang terbaik mutunya. Sangat enak untuk menulis di atas kertas dengan mencelupkannya ke dalam tinta,’’ katanya seraya mengatakan bukti sebutan tersebut menjadi tanda betapa dekatnya hubungan antara Turki dan Indonesia meski terpisahkan jarak yang jauh dan samudra yang luas.

Kaitan Turki dengan Kesultanan Demak dan Keraton Mataram Yogyakarta

raja-yogyakarta-sri-sultan-hb-x-kiri-saat-memberikan-_160523180316-164Pada pembukaan acara Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI di Yogyakarta pada Rabu (12 Februari 2015), ada sebuah momen yang menarik. Hal itu adalah ketika Sri Sultan Hamengku Buwono X mengakui adanya hubungan yang erat antara Kesultanan Yogyakarta dengan Kekhalifahan Usmani di Turki.

Sekadar diketahui, Kekhalifahan Usmani adalah kesultanan terakhir yang membawahkan seluruh kerajaan umat Islam di dunia dan runtuh pada 1924. Sultan mengatakan, Keraton Yogyakarta merupakan perwakilan kekhalifahan Islam di Jawa dan merupakan kelanjutan dari Kesultanan Demak.

Berikut isi sebagian pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Pembukaan KUII VI

…Kongres Umat Islam ke-6 yang diselenggarakan di Yogyakarta dan kini pembukaannya Insya Allah berlangsung di Pagelaran Kraton Yogyakarta, mengandung makna simbolik sebuah ziarah spiritual, karena bangunan Pagelaran ini disangga oleh 64 buah tiang yang menandai usia Rasulullah SAW dan perhitungan tahun Jawa.

Sehingga, kongres yang dirancang untuk napak laku kongres sebelumnya yang juga dilaksanakan di Yogyakarta, (7-8 November 1945–Red) akan memberi makna historis, agar umat Islam melakukan introspeksi diri dan retrospeksi atas perjalanan sejarahnya.

Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan R Patah (sultan Demak pertama) sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka’bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki.

Ketika 1935 Ataturk mengubah sistem kalender Hijriyah menjadi Masehi, jauh pada zaman Sultan Agung tahun 1633 telah mengembangkan kalender Jawa dengan memadukan tarikh Hijriyah dengan tarikh Saka. Masa itu sering disebut sebagai awal Renaisans Jawa.

Jika kita melakukan retrospeksi, dalam sejarah pergerakan Islam modern disebutkan, pada abad 19-20 muncul gerakan kebangkitan Islam. Pelopornya adalah Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, dan Ali Jinah. Mereka menganjurkan agar kaum Muslim membumikan ijtihad dan jihad fi sabilillah, serta memperkokoh solidaritas Islam.

Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa keberangkatan KH Ahmad Dahlan, yang saat itu adalah abdi dalem Kraton, justru atas dorongan dan dukungan Sri Sultan HB VII. Bakda membaca dalam “Tafsir AL Manaar” karya Abduh, pada 1912 ia pun mendirikan perserikatan Muhammadiyah di Yogyakarta.

Dalam artikel: “Indonersianisme dan Pan-Asiatisme”, Bung Karno menulis “… abad-20 sudah tidak menjadi abad perbedaan warna kulit lagi, tapi sudah berubah menjadi abad yang memberikan jawaban terhadap problem of the colour-line.

Dalam tulisan lain, “Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara?” Bung Karno mengutip tulisan Frances Woodsmall, “Moslem Women Enter A New World”, bahwa Turki Modern adalah antikolot, antisosial lahir dalam hal ibadah, tetapi tidak antiagama.

Islam sebagai kepercayaan person tidaklah dihapuskan, sembahyang di masjid-masjid tidaklah diberhentikan, aturan-aturan agama pun tidak dihapuskan. “Kita datang dari Timur, kita berjalan menuju ke Barat”, demikian entri point artikel Bung Karno tersebut mengutip tulisan Zia Keuk Alp.

Di tahun 1903, saat diselenggarakan Kongres Khilafah di Jakarta oleh Jamiatul Khair, yang berdiri 1903, Sultan Turki mengirim utusan Muhammad Amin Bey. Kongres menetapkan fatwa, haram hukumnya bagi Muslim tunduk pada penguasa Belanda, dengan merujuk ajaran Islam “Hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Dari kongres inilah benih-benih dan semangat kemerdekaan membara.

Dalam bukunya: “The Rising Tide of Colour Against White World-Supremcy” (1920), Lothrop Stoddard mendalilkan keruntuhan supremasi kolonialisme Barat, karena cepatnya pertumbuhan (tide = pasang naik) populasi penduduk kulit berwarna. Dalam buku berikutnya, “The New World of Islam” (1921), ia meramalkan kebangkitan Dunia Islam di awal abad 20 untuk meraih kembali kejayaan masa silam adalah suatu keniscayaan sejarah ….

(Lebih lengkap klik http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/16/07/21/oag94x385-pena-jawa-turki-keraton-mataram-dan-eksistensi-kerajaan-nusantara-part1)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *