PKL PW GP Ansor Riau,  Adam Makrifat: Aswaja II dan ke NU an II untuk Menjiwai Ansor

Acara pembukaan PKL PW GP Ansor Riau


FULLRIAU.COM — Menarik memang, materi pertama dalam Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan ( PKL)  Gerakan Pemuda Ansor, Jumat (3/4 2021) dimulai pukul 20.00 WIB dan diakhiri 03.00 WIB, Sabtu (4/4 2021) disampaikan oleh  Adam Makrifat, Ketua Bagian Pengkaderan PP GP Ansor yang juga berasal dari PW Ansor Provinsi Banten.

Menjadi makin menarik dengan tema yang disampaikan tentang Aswaja II dan ke NU an II sebagai bekal utama cakrawala para kader untuk.lebih menjiwai atas kehadiran Ansor dan NU  dalam sendi kehidupannya.

Memang yang disampaikan sangat mendasar dan terkadang membuat pemahaman secara keilmuan tentang NU selama ini masih setengah menjadi tergugah untuk terus dan terus bisa memaknainya.

BerNU itu intinya adalah  akhlak, etika dan konsistensi. Semangatnya yaitu jihad, ijtihad dan mujadalah.

Sebagaimana diingatkan KH  A Wahab Hasbullah pada tahun 1950 kepada seluruh  kader dan pemimpin. Dimana seorang pemimpinan NU selalu ragu dengan kekuatannya sendiri adalah menjadi awal kelemahannya.

Padahal kekuatan NU itu ibarat senjata adalah meriam. Dengan betul-betul meriam. Oleh sebab itu,  trilogi perjuangan sudah diingatkan oleh mbah KH Idham Chalid tahun 1960, dimana dalam menjalankan dan menjaga membesarkan NU dan meluruskan dalam masyarakat dan bangsa harus berpegang pada tiga asas yaitu pertama, sadar akan harapan kita sendiri. Kedua, sadar akan harapan orang lain dan ketiga, sadar akan situasi dan kondisi.

Sehingga bisa menjawab, siapa kita dalam ber NU dan Ansor? Tentu jawaban pertama adalah

Nahnu ashabul haq fiddini was siyasi, kitalah (NU) pemegang kebenaran dalam beragama dan bersiyasah, kekuatan aswaja terletak pada manhajul fikri dan dokrinnya, terrutama prinsip kemasyarakatan yaitu tasamuh, tawasut, tawazun dan i’tidal. Kemudian daya tahan NU terletak pada tradisi dan kultur,  serta keunggulan NU sebagai mainstrem (arus utama)) muslim nasionalis. Kemudian, organisasi NU merupakan bentuk perlembagaan dari lembaga, Ponpes dan tradisi amaliyah Aswaja. NU mewarisi dakwah dan perjuangan Walisongo.

Hal yang tak kalah penting adalah memahami prinsip lawan yang selalu mempropagandakan NU dengan hal-hal yang bertolak belakang dwngan NU. Pertama, ajaran Islam/amaliyah aswaja ala NU penuh bida’ah tradisinya berbau khurafat. Kedua, NU dianggap.kolot dan penghambat moderen. Ketiga,  tidak menghendaki NU besar atau NU hanya jadi kuda tunggangan. Setelah itu NU dilemahkan. ***

*dawami bukitbatu, konsultan komunikasi,  dosen dan pegiat lingkar literasi tafidu ( tulisan ini dari hasil rangkuman materi didengar pada PKL GP Ansor Provinsi Riau)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *