Prediksi APBD Meranti 2017 Hanya Rp 1,1 Triliun

apbdSELATPANJANG- Belum stabilnya perekonomian nasional diperkirakan akan berdampak pada turunnya anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun 2017. Bupati Kepulauan Meranti Drs H Irwan MSi memprediksi APBD tahun depan tidak lebih dari Rp 1,1 triliun.

Prediksi itu disampaikan Irwan saat memberikan pengarahan pada musrenbang tingkat kabupaten di Afifa Ballroom, Rabu (20/4). Dengan prediksi tersebut, maka APBD Kepulauan Meranti tahun depan minus Rp 300 miliar dibandingkan APBD tahun 2016 ini yang disahkan pada angka Rp 1,4 triliun.

” Ada beberapa hal yang menyebabkan penurunan APBD di daerah-daerah termasuk Meranti. Selain kondisi ekonomi global yang terus melemah dan belum bisa diprediksi kapan akan pulih, juga pergeseran otonomi dari kabupaten/kota ke provinsi sehingga beberapa kewenangan yang dulunya dikelola kabupaten/kota, sekarang ditarik ke provinsi,” jelas Irwan di hadapan seluruh kepala 
SKPD, forum komunikasi pimpinan daerah (Forkompinda) dan sejumlah tokoh masyarakat.

Dengan ditariknya sejumlah kewenangan ini, sebut Irwan, anggaran untuk pengelolaan kewenangan itupun akan dikelola provinsi. Diantara kewenangan yang ditarik ke provinsi, adalah bidang pertambangan dan energi, bidang kehutanan dan perkebunan, bidang kelautan dan bidang pendidikan menengah.

” Selain berdampak penurunan anggaran, juga berdampak pada berkurangnya jabatan struktural di kabupaten/kota. Perubahan ini akibat perubahan undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menjadi undang-undang Nomor 9 Tahun 2015,” imbuhnya.Akibat penurunan anggaran ini, Irwan menekankan jajarannya untuk mengambil sejumlah langkah. Diantaranya melakukan efisiensi atau penghematan. Menurutnya, mulai tahun ini hingga tahun depan akan dilakukan pengetatan penganggaran dengan mendahulukan program-program prioritas. ” Kita harus ikat pinggang. Jangan nanti menggerutu kalau usulannya ditunda karena belum prirotas,” tegasnya.

Langkah lainnya adalah optimalisasi pendapatan daerah. Optimalisasi ini dilakukan dengan penyesuaian nilai jual objek pajak (NJOP) dan pajak bumi bangunan (PBB). Namun pajak yang akan dinaikkan bukannya PPB P2 (PBB Perdesaan dan Perkotaan) namun PBB 3 (PBB perkebunan, perhutanan dan pertambangan).” Untuk PBB P2 yang dibawah Rp 50 ribu bahkan kita usulkan untuk diberikan diskon karena kondisi ekonomi masyarakat sedang  ð 7 3 Šsangat tertekan. Sedangkan PBB P3 meski dikelola pusat, kita sudah koordinasi agar ditambah mengingat perusahaan di sektor itu 
sudah banyak mengambil manfaat dari operasionalnya,” papar Irwan.

Langkah lainnya adalah dengan menarik sebanyak mungkin anggaran dari pusat dan provinsi. Namun Irwan menggariskan agar usulan ke pusat dan provinsi itu benar-benar usulan prioritas yang membutuhkan anggaran besar sehingga bisa diakomodir.” Kondisi sekarang APBN dan APBD provinsi juga menurun. Dengan prinsip penganggaran money follow program sekarang, pemerintah pusat hanya mengakomodir program-program pembangunan infrastruktur yang benar-benar prioritas. Jadi, tidak perlu banyak diusulkan yang penting program prioritas yang manfaatnya besar untuk masyarakat dan sangat mungkin diakomodir,” tegas Irwan.Menurutnya saat ini usulan dilakukan melalui e-musrenbang baik di tingkat nasional maupun provinsi. Irwan mencontohkan usulan pembangunan jalan dan jembatan. ” Selama ini kita paling sedikit mendapatkan anggaran baik dari pusat maupun provinsi,” sebutnya.

Minimnya alokasi anggaran dari pusat dan provinsi di Meranti, jelas Irwan, dikarenakan belum adanya jalan nasional dan jalan provinsi di daerah ini. Akibatnya pembangunan jalan baik antardesa, antarkecamatan dan jalan kabupaten ke provinsi dibangun dengan dana kabupaten.” Sementara anggaran kita terbatas dan medan yang dibangun cukup berat,” tambahnya.Dalam musrembang tersebut hadir juga Wakil Bupati Said Hasyim, Ketua DPRD Fauzi Hasan, Sekretaris Bappeda Provinsi Riau Ahmad Hijazi, dan seluruh kepala SKPD, camat dan kepala desa. Hadir juga pemateri dari Universitas Riau Prof Yusmar Yusuf dan Dr Ir Muhammad Ikhsan yang kebetulan keduanya berasal dari Meranti.(hms/*FR)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *