Belum Tentu COVID-19, Kenali Tipe Jenis dan Gejala Sesak Nafas

FULLRIAU.COM — Saat pandemi COVID-19, kebanyakan pasien Corona mengalami sesak nafas. Namun tak sedikit pula dikarenakan hal-hal lain, seperti alergi. Bagaimana mengenalinya?

Dokter spesialis paru Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS Unair) dr Alfian Nur Rosyid Sp P(K) FAPSR FCCP sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) menjelaskan terdapat beberapa tipe dari sesak nafas. Tipe tersebut dibedakan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Menurut dr Alfian, sesak nafas akut muncul secara tiba-tiba. Sesak nafas akut dapat terjadi, sekalipun seorang pasien belum pernah mengalami sesak sebelumnya.

“Sesak nafas akut dapat timbul saat seorang penyintas COVID-19 melakukan aktivitas berat seperti mengangkat benda berat, berjalan dengan cepat, berlari dan lainnya. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan fisioterapi nafas yang dapat diajarkan di rumah sakit dan dilanjutkan di rumah,” kata dr Alfian, Minggu (26/9/2021).

Sesak nafas akut juga dapat dialami oleh pasien asma atau Penyakit Paru Obstruktif kronis (PPOK) yang mengalami kekambuhan atau eksaserbasi. Timbul gejala mengi (bunyi nafas seperti bersiul) pada seorang yang sedang mengalami kekambuhan. Sesak akut juga dapat dialami pada pasien dengan gangguan kebocoran selaput paru (pleura) yang dikenal dengan pneumotoraks (adanya udara pada rongga pleura).

Sesak Nafas Kronis
Sesak nafas kronis yakni ketika pasien mengalami sesak napas dengan durasi yang lama. Bisa jadi sesaknya terasa lama, sudah lebih dari dua minggu.

“Sesak nafas kronis juga dapat menjadi salah satu gejala yang masih mungkin dialami pasien long COVID-19. Kondisi tersebut dapat bertahan dalam kurun waktu 1-3 bulan, namun lambat laun akan semakin berkurang dan membaik. Pasien sesak kronis dapat terganggu aktivitasnya. Jadi aktivitasnya dapat terganggu oleh sesak nafasnya, terutama aktivitas yang berat,” jelasnya.

Terkait cara mengatasi sesak kronis, pasien dapat membatasi aktivitas yang memerlukan tenaga ekstra. Seperti mengangkat atau memindahkan benda berat, mencuci dengan tangan, menaiki tangga, serta berjalan kaki beberapa kilometer. Selain itu, obat dokter juga merupakan solusi.

“Penggunaan obat-obatan sesuai saran dokter dapat membantu mengurangi sesak kronis, juga sesak akut yang timbul tiba-tiba. Pasien juga dapat melakukan rehabilitasi pernapfasan untuk mengurangi sesak napfas. Kadang pasien masih membutuhkan penggunaan oksigen saat di rumah,” ujarnya.

Sesak Nafas Hilang-Timbul

Kemudian ada tipe sesak yang hilang-timbul, atau intermitten. Munculnya sesak yakni pada frekuensi atau waktu tertentu. Misalkan pada pasien asma, muncul sesak pada pagi hari dan sembuh pada siang hari, bahkan tanpa obat tertentu.

“Terdapat berbagai macam faktor pemicu sesak napfas ini. Faktor tersebut yakni contohnya alergi ketika seseorang terkena hujan, makanan, ataupun debu yang kemudian memicu timbulnya sesak,” kata dokter yang menjadi sekretaris satuan tugas (sSatgas) COVID-19 RSUA tahun 2020 tersebut.

Sesak Napfas Persisten dan Progresif

Selain itu, terdapat pula tipe sesak napas yang bersifat konsisten dan progresif. Perbedaan keduanya terletak pada progress terjadinya sesak.

“Persisten itu artinya menetap. Jadi sesaknya tetap, tidak berkurang. Sementara sesak nafas progresif yakni sesak yang seiring waktu dapat bertambah berat. Biasanya terjadi pada pasien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Faktor utamanya adalah asap rokok,” pungkasnya. ***

Editor: Wadami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *