Bukan Vaksin COVID-19, Tapi Ini Penyebab Pendarahan Otak Tukul Arwana

FULLRIAU.COM – Tukul Arwana dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Cawang, Jakarta Timur, pada Rabu (22/9/21) akibat pendarahan otak. Muncul spekulasi bahwa penyakit yang diderita Tukul disebabkan oleh vaksinasi COVID-19.

Sebelumnya, Tukul sempat melakukan vaksinasi COVID-19 pada 18 September lalu. Hal itu membuat netizen mengaitkan efek samping vaksin COVID-19 dengan pendarahan otak yang dialami Tukul Arwana.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Mursyid Bustami angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa kondisi yang dialami oleh pasiennya itu tidak berhubungan dengan vaksin COVID-19, Bunda.

“Kami perlu menegaskan bahwa dari berita yang beredar, mungkin perlu diklarifikasi bahwa tidak ada hubungannya antara pendarahan otak atau stroke pendarahan dengan vaksin COVID-19,” tutur dr Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS, dalam konferensi pers, Jumat (24/9/2).

Mursyid mengatakan, vaksin COVID-19 dari merek apapun tidak memiliki korelasi dengan pendarahan otak. Kondisi yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak itu tidak termasuk ke dalam Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau efek samping vaksinasi.

“Belum pernah dilaporkan ada KIPI vaksinasi COVID-19 berupa penyumbatan ataupun pendarahan pembuluh darah otak,” ucapnya.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak termakan hoax yang menyebutkan vaksin COVID-19 berisiko menyebabkan stroke pendarahan. Kondisi yang dialami Tukul Arwana saat ini terjadi karena penyakit stroke.

Dijelaskan oleh Mursyid, penyakit stroke terdiri dari dua macam yaitu stroke penyumbatan dan stroke pendarahan. Kondisi yang dialami oleh Tukul Arwana termasuk stroke jenis pendarahan atau Hemorrhagic stroke.

“Stroke pendarahan terjadi ketika tekanan darah terlalu kuat sehingga menyebabkan pembuluh darah bocor sehingga darah keluar dari tempat seharusnya. Keluarnya darah dari dalam pembuluh darah ini yang menimbulkan masalah,” tuturnya.

Apabila darah keluar dari tempat seharusnya, darah dapat membeku dan mengganggu daerah otak yang dekat dengan area pecahnya pembuluh darah. Saraf otak dapat terganggu hingga menyebabkan risiko kematian.

“Dibutuhkan tindakan operasi untuk segera mengevakuasi gumpalan darah beku yang terjadi di sekitar area pembuluh darah otak yang pecah,” kata Mursyid. ***

Editor: Wadami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *