Era Industri 4.0 dan Tantangan Mendidik Karakter Siswa SD

KOMUNIKASI teknologi dengan kemajuan yang kini dicapai tidak bisa dipisahkan dengan kita semua. Pasalnya, dengan teknologi semakin memudahkan kita untuk melakukan sesuatu dalam menyelesaikan pekerjaan.

Digitalisasi dalam dunia pendidikan bisa dikatakan seperti 2 sisi koin yang berbeda yang jika salah pemanfaatannya akan menjadi bencana. Akan tetapi jika dimaknai sebagai tantangan, maka metode pendidikan secara digital akan berubah menjadi sesuatu yang lebih efektif karena akan mampu melatih kemandirian serta kretativitas siswa.

Semua hal itu akan optimal jika diimbangi dengan pendidikan serta pola asuh yang tepat oleh orang tuanya. Nilai-nilai etika dasar seperti sopan santun, etika komunikasi, adat istiadat, budaya ketimuran, norma agama dan lain-lain sepaptutnya ditanamkan sejak usia dini sampai akhirnya menjadi kebiasaan. Jika seorang siswa sudah ditanamkan prinsip dan norma yang baik sejak dini, maka akan terbentuk karakter yang kuat serta beretika yang dampaknya adalah mampu menggunakan sosial media dengan lebih bijak serta mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk kegiatan belajar.

Hari ini, semua dibuat mudah dengan menggunakan komunikasi teknologi. Dahulu semua orang berkomunikasi jarak jauh dengan menggunakan surat, kini sudah ada handphone dan berbagai jaringan media sosial lainnya. Dulu orang berbelanja di pasar, tetapi kini sudah bisa belanja secara online. Bahkan untuk membeli makanan pun sudah bisa dipesan melalui aplikasi-aplikasi yang memberi kemudahan dan pelayanan dengan pemesan cukup dirumah saja.

Dengan pesatnya kemajuan teknologi menjadikan era ini dikenal sebagi era industri 4.0. Kita tahu bahwa kemajuan teknologi saat ini berkembang dengan begitu cepat. Cepatnya teknologi bahkan merambah di dunia pendidikan.

Dahulu juga, pendidikan hanya menggunkan sistem tradisional, kini teknologi pendidikan harus serba siber. Umapanya siswa SD, yang dahulunya belajar hanya lewat penjelasan sekarang sudah menggunakan teknologi LCD dan menanyangkan video untuk pembuktiannya. Pembelajaran dengan menggunakan LCD akan memudahkan mereka untuk belajar. Walaupun begitu, di era industri 4.0 ini juga memberikan dampak positif dan juga negatif dalam membentuk karakter anak.

Apalagi setiap tahunnya para ilmuwan menciptakan teknologi yang semakin canggih dan juga praktis. Teknologi tersebut diciptakan untuk memudahkan manusia melakukan pembelajaran dengan lebih mudah. Hampir semua pendidikan sudah berevolusi di dunia digital. Hanya tempat terpencil yang belum sepenuhnya terjangkau dengan teknologi. Ada beberapa dampak negatif dari perkembangan teknologi ini. Dampak negatif tersebut diantaranya adalah anak menjadi kehilangan jati diri atau kurang percaya diri.

Pada saat anak tersebut bersosialisasi lewat teknologi secara terus menerus dan membuat anak tersebut menjadi kurang percaya diri saat berhadapan langsung dengan orang lain, dan anak tersebut menjadi susah berbicara ketika berada di tempat umum, Sehingga anak tersebut menjadi kurang percaya dengan dirinya sendiri dan suka menyendiri atau lebih suka dengan tempat yang tidak ramai. Akan tetapi di sisi lain teknologi juga memiliki dampak negatif lainnya yaitu dapat merusak moral anak dalam sikapnya, dikarenakan anak zaman sekarang sudah mengenal media sosial dan membuat anak menjadi kecanduan dalam menggunakan teknologi secara terus menerus karena mereka merasa bahwa teknologi sangat menarik untuk mereka pelajari.

Melihat kenyataan seperti itulah maka tugas seorang guru di sekolah menjadi semakin menantang. Di era industry 4.0 ini, seorang guru tidak hanya dituntut untuk memberikan materi pelajaran dengan cara yang biasa saja seperti saat berada di dalam kelas, namun juga harus mampu menyusun dan mengimplementasilan model pembelajaran yang menarik sekreatif mungkin.

Metode belajar harus inovatif yang mengutamakan pemusatan terhadap kemampuan siswa menggunakan berbagai sumber melalui perangkat multimedia serta memberikan pemahaman yang bersifat kontekstual. Penguasaan perangkat multimedia inilah yang harus dimiliki oleh guru era Industry 4.0 mengingat aktivitas siswa pun banyak dilakukan menggunakan perangkat gadget / ponsel pintar pribadi.

Jika dilihat dari sejarah lahirnya era revolusi industry 4.0 , maka kita akan melihat perubahan / pegeseran yang memiliki ciri khas yaitu sangat kental dengan dunia siber dan kolaborasi manufaktur. Selain itu target pendidikan 4.0 di Indonesia, seorang guru juga harus mampu menjadi “director of learning” untuk mencapai pembentukan karakter siswanya yang cinta tanah air, jujur, saling menghargai, bertanggungjawab serta orientasi pada keunggulan, khususnya yang berhubungan dengan kemampuan penguasaan teknologi informasi.

Anak menjadi kurang percaya diri dalam bersosial di masyarakat karena kuranganya komunikasi dengan orang di sekitarnya, membuat anak tidak bisa bersosial di lingkungannya karena anak setiap harinya hanya memegang handphone didalam rumah dan tidak mau keluar rumah untuk berosial dengan masyarakat, dan membuat sopan santun anak menjadi berkurang dan berani melawan orang tua karena pikiran anak sudah terpengaruh dengan bahasa orang dewasa sehingga anak tersebut menjadi ikut-ikut bergaya seperti orang dewasa, misalnya saja dalam pakaian yang kurang sopan atau kebarat-baratan.

Gaya bicara anak dengan orang yang lebih dewasa menjadi kurang sopan karena pengaruh dari teknologi yang membuat gaya bicara anak zaman sekarang kurang sopan dan kurang tepat, misalnya kamu menjadi elo dan aku menjadi gue. Pengaruh teknologi yang digunakan tanpa pendamping orang dewasa maka banyak anak-anak yang terjerumus dalam media sosial, dengan begitu banyak anak-anak sekarang yang sudah tidak mengenal pendidikan atau karakter sopan santun dalam etikanya.

Melalui teknologi banyak anak zaman sekarang yang mendapatkan informasi dan berita yang tidak sesuai dengan usia anak-anak. Banyak anak yang salah saat menggunakan teknologi dalam bermedia sosial karena mereka menggunakan teknologi yang kurang sesuai dengan usianya.

Ternyata teknologi memiliki dampak positif. Dampak positifnya memudahkan peserta didik untuk mengerjakan tugas dalam pembelajarannya, para siswa hanya tinggal membuka google semua permasalahan dapat di cari lewat google, dengan begitu ilmu mereka dapat bertambah luas melalui teknologi.

Maka dari itu mereka akan sangat mudah untuk melakukan pembelajaran, misalanya saja sekarang belajar sudah menggunakan LCD didalam kelas dan belajar juga sudah menggunakan handphone. Di sisi lain para peserta didik juga merasa tertantang dengan adanya teknologi yang membuat mereka menjadi lebih semangat untuk mempelajarinya.

Anak menjadi tertarik untuk mempelajari teknologi, karena pada dasarnya usia anak di bawah 12 tahun rasa ingin tahu masih tinggi apalagi di era 4.0 ini anak kecil sudah dikenalkan dengan handphone atau computer. Sehingga anak menjadi tertarik untuk bisa menciptakan teknologi, jika rasa ingin tahunya sudah sudah terpenuhi dengan memakai teknologi secara terus menerus dan anak terbut sudah canggih dalam mengoperasikan teknologi maka anak tersebut rasa ingin mencoba untuk membuat teknologi muncul. ***

Oleh: Desi Gusnita S.Pd, SD, Guru SDN 16 Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *