Guru yang Cerdas Buat Generasi Baru di Era Milenial

FULLRIAU.COM — Generasi milenial merupakan generasi baru yang mempunyai rasa ingin tahu besar dan juga rasa ingin berbagi yang besar pula. Namun, tidak dibarengi dengan budaya literasi yang baik maka nalar kritis tidak berfungsi sebagai kontrol karakter diri dan emosi.

Walaupun sebenarnya, pada generasi ini mereka sangat terbuka dengan kemajuan komunikasi teknologi digital. Maka kehadiran guru sebagai profesi paling mulia dalam ikut membentuk kepribadian dan pola pikir anak didik menjadikan sesuatu yang sangat berharga.

Keberhargaan ini, meski tidak semua siswa dan akan menjadi mahasiswa dimana menjadikan profesi guru sebagai pilihan pertama saat mendaftar ke perguruan tinggi. Dengan satu alasan, image guru yang masih di pandang sebagai profesi kuno dan profesi “daripada” oleh kebanyakan orang.

Pendidikan dan pendidik merupakan dua kata yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan akan berjalan jika ada pendidik yang mendidik anak murid sampai ia lulus dari lembaga pendidikan formal. Guru adalah pendidik bagi setiap insan bernama manusia yang ingin menuntut ilmu darinya. Dari ilmu pasti sampai ilmu kehidupan yang akan terus diaplikasikan sepanjang hidupnya.

Dengan demikian, maka seorang guru dituntut untuk tidak hanya memiliki kecerdasan tapi juga harus siap menghadapi setiap perubahan dari perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi. Sehingga kehadiran guru benar-benar menjadi penyuluh diantara terangnya kemajuan dunia digital bagi siswa yang dikenal sebagai generasi milenial.

Bagaimana pun kemajuan teknologi digital maka seorang guru adalah aktor utama dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah dan kelas. Selain itu, guru juga harus mampu memainkan peran tidak hanya sebagai pendidik saja melainkan sebagai teladan dan contoh bagi anak didiknya. Cakupannya pun luas, bisa ditinjau dari segi penampilan, tingkah laku sosial dan lain sebagainya. Guru yang cerdas pasti akan tahu apa yang sekiranya harus dilakukan dan apa yang harus dihindari.

Untuk menjadi guru yang cerdas dan tentunya juga disenangi oleh murid bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan perlu adanya sinkronisasi antara niat guru dengan realita prilaku. Artinya, adalah antara hati, ucapan dan perbuatan harus selaras. Lucu jika guru menyuruh siswanya untuk melakukan A tapi gurunya malah melakukan B atau C. Siswa akan bingung dan hilang kepercayaannya. Ingat, siswa tidak perlu bimbingan saja tetapi contoh dari gurunya juga.

Oleh sebab itu, menjadi guru tidaklah mudah. Seorang guru harus mengetahui dan mengerti perkembangan anak muridnya yang tidak hanya satu atau dua orang, puluhan anak murid yang ia harus ketahui perkembangannya. Dari mulai perkembangan akademik, psikologis dan minat bakat anak muridnya. Tentulah, sudah pasti ada banyak ilmu yang harus dikuasai oleh seorang guru. Untuk menjadi seorang guru cerdas maka perlu peningkatan kualitas diri.

Peningkatan kualitas diri diperlukan tentunya untuk semakin memantapkan posisinya sebagai guru yang berkualitas dan memberikan dampak positif bagi para anak didiknya. Meningkatkan kualitas diri dengan selalu menyegarkan kemampuan pengetahuan sesuai dengan perkembangan menjadi sesuatu yang mutlak. Sebab kehadiran seorang guru yang cerdas di era milenial menjadi sebuah keharusan untuk makin membuat dunia pendidikan selalu bergairah. Sebab di era informasi dengan kehadiran teknologi digital maka sudah tidak ada batas ruang dan waktu
lagi dalam penyebaran dan mendapatkan ilmu pengetahuan.

Kondisi ini sudah diproyeksikan oleh Alvin Toffler bahwa abad informasi akan semakin jauh meninggalkan faktor lahan, tenaga kerja dan juga modal biaya sebagai kekayaan dan sumber produksi sebagaimana pada tiga era sebelumnya yakni era nomaden, era pertanian, dan era industri. Sehingga makna dari kekayaan pun didefinisikan berbeda-beda setiap zamannya. Contohnya, masyarakat primitif memahami bahwa kekayaan itu dimiliki oleh orang yang paling kuat. Kekuatan itu ditampilkan secara fisik dengan mengikuti kaidah rimba, siapa yang kuat, dialah yang berkuasa.

Era sekarang yang disebut sebagai era digital atau era informasi. Era yang memunculkan pemuda enterpreuner dan era yang akrab dengan penghuninya, yaitu generasi milenial. Di tangan Milenial, dunia berubah: dari tangan Mark Zuckerberg yang berumur 32 tahun, Facebook lahir dan menjelma menjadi salah satu media sosial terbesar paling berpengaruh yang pernah ada.

Generasi Milenial, yang juga punya nama lain Generasi Y, adalah kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980-an hingga 1997. Mereka disebut milenial karena satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi ini diembuskan pertama kalinya.

Menurut Karl Mannheim pada 1923, dalam esai berjudul The Problem of Generation, sosiolog Mannheim mengenalkan teorinya tentang generasi dimana manusia-manusia di dunia ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena melewati masa sosio-sejarah yang sama.

Sekolah adalah menjadi pintu menuju hidup bermasyarakat dan membentuk karakter. Namun, realitasnya disparitas antara Generasi X dengan tiga generasi sesudahnya masih muncul jurang pemisah. Guru yang didominasi oleh generasi sebelum milenial masih meyakini bahwa hal-hal yang pernah mereka dapatkan di masa pendidikannya dahulu bisa menjadikan mereka sebagai orang yang berhasil.

Sehingga sekolah sudah seharusnya menyiapkan guru dan siswa yang cerdas dalam menyikapi revolusi digital. Dengan harapan kehadiran guru tidak akan pernah tergantikan oleh kehadiran kemajuan teknologi. Hanya saja, jika guru tidak mempersiapkan kedatangan revolusi digital itu, bukan hanya dikalahkan oleh teknologi, guru juga akan dikalahkan oleh anak didiknya.

Lihatlah kedekatan generasi Z dan Alpha dengan teknologi. Dari sejak dalam kandungan, mereka sudah akrab dengan kamera ibu yang hobi swafoto. Bahkan, ketika anak mereka lahir, anak-anak itu sudah dibuatkan akun media sosial untuk menyimpan foto-foto dan beberapa hal lainnya. Hasilnya, fenomena kecanduan gawai sudah tidak asing lagi. Anak-anak lebih memilih curhat dengan media sosialnya daripada dengan orang tuanya. Bahkan, anak-anak lebih mendengarkan gawai daripada omongan orang tuanya.

Guru yang sepatutnya memiliki karakter guru abad 21 mengikuti perkembangan zaman siswanya. Keterampilan abad 21 yaitu mampu memahami dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang melek teknologi dan media, melakukan komunikasi efektif, berpikir kritis, memecahkan masalah dan berkolaborasi.

Kemudian melakukan inovasi paradigma pembelajaran yang dapat dilakukan yaitu pengembangan pembelajaran otentik. Artinya, guru di sekolah harus menciptakan tujuan pembelajaran yang mampu membangun kompetensi peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan di masa depan.

Pertanyaan yang muncul, bagaimana seorang guru bersikap dalam menghadapi era milenial seperti saat ini? Guru dan institusi pendidikan harus mempersiapkan kedatangan generasi baru itu. Dalam tulisan ini, setidaknya ada 4 hal yang perlu diperhatikan pendidikan dalam menyambut generasi digital. Pertama, kenali siswa lebih dalam. Kedua, inovasi paradigma pembelajaran. Ketiga, inovasi manajemen kelas. Keempat, menciptakan ekosistem yang literat.

Dalam mengenal siswa lebih dalam adalah dasar dari seorang guru. Dengan membaca tentang fenomena munculnya generasi dari Baby Boomers sampai generasi Google Kids di atas, hal itu sudah menjadi langkah awal untuk mengetahui bahwa zaman berubah. Pendidik sudah seharusnya mengetahui karakteristik siswa abad 21. Kita tidak bisa memaksakan siswa untuk kembali ke masa di mana guru dilahirkan dan ditempa. ***

*Oleh: Herlina, S.Pd, SD (NIP. 19680929 2002 12 2 002), Guru SDN 5 Bandar Laksamana Kabupaten Bengkalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *