Konsep dan Makna Mendidik dalam Proses Belajar

Sunarti, S.Pd.I, Guru SDN 4 Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis

FULLRIAU.COM — Mendidik bagi Ki Hajar Dewantara dalam arti sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia (humanisasi) yakni pengangkatan manusia ke taraf insani. Di dalam mendidik ada pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia. Untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan.

Jadi sesungguhnya pendidikan adalah usaha bangsa ini membawa manusia Indonesia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia (humanis). Dan menurutnya lagi, tujuan pendidikan adalah penguasaan diri sebab disinilah pendidikan memanusiawikan manusia (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang harus dituju untuk tercapainya pendidikan yang mamanusiawikan manusia. Ketika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya, mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa.

Oleh sebab itu, dalam konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ada dua hal yang harus dibedakan yaitu sistem pengajaran dan pendidikan yang harus bersinergis satu sama lain. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik).

Sehingga pendidikan sebagai sebuah proses pembelajaran, proses dimana kita akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang sesuatu hal baru yang sebelumnya tidak kita ketahui, Proses dimana kita dilatih dan dibimbing untuk menjadi pribadi yang lebih berilmu dan berakal sehat juga rasional. Dengan mendapat pendidikan yang layak bagi seusianya, diharapkan anak akan dapat menjadi pribadi yang berperilaku yang baik, cepat tanggap, mudah bergaul dan tentunya bertambah pengetahuannya, baik yang umum maupun yang khusus seperti berhitung dan berbahasa.

Maka pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Begitulah batasan arti dari pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbit tahun 1991, dimana pendidikan akan menjadi tempat terbentuk generasi dari anak bangsa yang berpikir, berperasaan dan berjasad merdeka serta percaya akan kemampuan sendiri.

Pendidikan bagi seorang tokoh pendidikan, Ki Hajar Dewantara mengariskan dimana arah pendidikan harus bernafaskan kebangsaan dan berlanggam kebudayaan. Tapi pendidikan bukan sebagaimana disebut dalam pandangan Ivan Illich atau Rabrindranath Tagore yang sempat menganggap sekolah sebagai siksaan yang harus segera dihindari.

Dan bagi Ivan Illich pernah berseru agar masyarakat bebas dari sekolah. Sebab sekolah tak ubahnya pabrik yang mencetak anak didik dalam paket-paket yang sudah pasti. Demikian pula halnya dengan Rabindranath Tagore yang sempat menganggap sekolah seakan-akan sebuah penjara. Yang kemudian ia sebut sebagai siksaan yang tertahankan.

Lalu, apakah kedua tokoh ini berkata tanpa alasan, kapan sekolah hanya menjadi tempat mencetak anak didik dan menjadi seakan-akan penjara, ketika pendidikan tidak mampu memanusia manusia dan menghasilkan manusia yang berguna, bermoral, bersopan santun dan melahirkan peradaban bagi bangsanya. Oleh sebab itu, setiap pendidikan harus mampu mengarah dan mengubah status quo melalui konsep pendidikan dan memaknai proses belajar mengajar secara benar.

Dalam arti, tidak berarti benar ketika menganggap sekolah tidak penting. Anak-anak dengan senang hati, umumnya masih berangkat ke sekolah. Kita, dan mereka, tahu, bukan mata pelajaran serta ruang kelas itu yang membikin mereka betah. Melainkan teman dan pertemuan. Bisa saja, Illich dan Tagore keliru. Sekolah juga keliru bila ia tidak tahu diri bahwa peranannya tidak seperti yang diduga selama ini. Ia bukan penentu gagal tidaknya seorang anak. Ia tak berhak menjadi perumus masa depan.

Materi yang diberikan dalam proses pembelajaran ada bermacam-macam seperti dalam hal berhitung, berbahasa, berperilaku, beragama, berekspresi, seni, berakhlak dan berperilaku. Proses pembelajaran ini tidak hanya dimulai ketika kita taman kanak-kanak, tapi dimulai ketika kita masih didalam perut ibu. Saat kita masih didalam kandungan, ibu sudah mengajarkan kita tentang kasih sayang, kasih sayang dari seorang ibu yang selalu menjaga anak dalam kandungannya agar kelak lahir dengan sehat dan selamat.

Pendidikan merupakan kebutuhan bagi setiap manusia. Pendidikan adalah salah satu cara manusia agar dapat melanjutkan kehidupan. Dengan pendidikan, ilmu yang kita miliki akan semakin bertambah, wawasan yang kita miliki akan semakin luas, sehingga kita dapat berpikir secara lebih futuristik dan rasional. Dengan ilmu seseorang dapat berbuat banyak, dengan ilmu juga kita dapat beramal karena dapat berguna untuk orang lain.

Sebagai contoh, jika kita memiliki ilmu yang lebih dari teman kita, saat ada yang mengalami kesulitan dalm pelajaran di sekolah, dan kita dapat membantunya kita akan mendapat pahala karena kita dapat menolong teman yang kesulitan. Contoh lainnya, jika suatu saat kita berhenti atau sedang tidak bekerja, jika kita memiliki ilmu khusus yang lebih, kita dapat mencari kerja sampingan sementara yaitu sebagai pengajar les atau bimbingan belajar bagi anak yang memerlukannya. Banyak hal yang dapat kita lakukan dan kita dapatkan, jika kita menjadi orang yang berilmu .

Sebaliknya, agar pendidikan yang diterima oleh peserta didik secara maksimal, haruslah dibuat sistem pendidikan yang ideal. Yang dimaksud ideal adalah yang memenuhi beberapa kriteria seperti pendidikan yang sesuai umur, sesuai kapasitas kemampuan peserta didik dalam menerima dan pendidikan yang diberikan secara bertingkat dan bertahap. Pendidikan sesuai umur maksudnya adalah proses belajar dimana materi yang diberikan kepada peserta didik sesuai dengan umurnya.

Hal ini juga berhubungan dengan kriteria kedua yaitu sesuai dengan kapasitas kemampuan sang peserta didik untuk menerima pelajaran tersebut. Jika pendidikan yang diberikan melebihi dari kemampuan menerima dikhawatirkan peserta didik akan stress, sebaliknya jika terlalu mudah akan membuat mereka menjadi bosan. Oleh karena itu harus tepat. Kriteria tepat ketiga adalah proses pembelajaran seharusnya diberikan secara bertahap dan semakin meningkat seiring berjalannya waktu.

Belajar tidak hanya disekolah, kita belajar dan mendapat pendidikan dimana saja. Ada pendidikan formal dan pendidikan informal. Pendidikan formal adalah pendidikan wajib yang terstruktur dan terorganisir, seperti sekolah. Ada juga pendidikan informal, seperti les-les tambahan diluar jam sekolah, les musik, lukis, teater, olahraga dan kesenian lainnya. Keluarga juga berperan penting dalam pendidikan informal ini, karena dirumahpun kita juga tetap belajar, belajar menghomati orang lain, mengalah dan saling menyayangi antar anggota keluarga. ***

Oleh: Sunarti, S.Pd.I, Guru SDN 4 Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis

(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *