Rimba Melintang, Bono dan Pancang Peradaban Sungai Rokan

Saya, Dawami S.Sos M.I.Kom foto di depan rumah suluk Kampung Rimba Melintang, Kabupaten Rohil.

HARI masih pagi, suara burung sahut menyahut menyanyi tanda gembira. Merdunya lantunan takbir Hari Raya Idul Adha sungguh menambah ceria pagi Selasa (19/07 2020).

Diujung Pokan (Pasar’Red) Rimba Melintang, Kelurahan Rimba Melintang, Kabupaten Rokan Hilir, melihat langsung ketenangan deras air seperti tak percaya mampu mengupas bibir tebing pantai dengan abrasi cukup parah sepanjang Sungai  Kalemunting yang kini bernama Sungai Rokan.

Dalam  Nyanyi Panjang Bujang Tan Domang menyebutkan nama sebelum menjadi Rokan dimana  berbunyi  “Rokan belum bernama Rokan, Sungai Kelemunting nama asalnya” .

Sementara itu, di kalangan masyarakat Rokan sendiri berkembang tiga versi asal-usul penamaannya. Dalam buku Mutiara, P. M., (1996), asal usul raja dan rakyat Rokan, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depawrtemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan sebelumnya kawasan ini juga disebut dengan Luhak Rokan IV Koto. Tomé Pires dalam Suma Oriental menyebutkan bahwa kawasan Rokan terletak antara Arcat dan Rupat serta menjadi vazal dari Kesultanan Melaka.

Rimba Melintang bukanlah satu-satunya perkampungan menjadi tapak dari pancang peradaban besar Sungai Rokan yang membentang dan membelah Pulau Sumatera dengan panjang 350 km dan kedalaman 6 – 18 m melintasi Kecamatan Bangko, Rimba Melintang, Tanah Putih, Tanah Putih Tanjung Melawan, Perkaitan dan perkampungan lainnya di Kabupaten Rokan Hulu.

Padahal diujung Pokan Rinba Melintang ini terdapat  sebuah jembatan pelabuhan kayu yang menjadi pancang dari saksi atas arus peradaban Sungai Rokan. Dan selalu ramai ditahun-tahun 70-80an dimana menjadi titik kumpul mobilisasi warga dengan tujuan pelayaran menuju Kota Bagansiapiapi. Disamping juga ada kota pancang peradaban lain di Sungai Rokan yaitu Sedinginan, Banjar 12 dan lainnya yang juga selalu ramai dengan aktivitas perdaganganya.

Kejayaan dan tanda pancang peradaban ini makin redup, kalaulah tak disebut hilang seiring dengan makin parahnya abrasi dan terbukanya akses jalan lintas Rimba Melintang-Bagansiapaiapi, tepatnya terhubungnya Jembatan Jumrah di tahun 90an.

Pokan Rimba Melintang pun kini hanya menyisakan kedai lama bisa dihitung  jari dan sebagian sudah berganti dengan kedai-kedai dengan sentuhan alam arsitek bangunan baru. Ditambah makin kuatnya gelombang Bono Sungai Rokan sehingga mengikis habis tebing pantai sungai Rokan.

Buktinya, diawal tahun 2003 pertama kali  sampai di kampung ini masih banyak bangunan lama, jalan lingkar kampung dibibir sungai dan kotak (kapal kayu’Red) tersusun rapat  yang membuat kerasan melihatnya. Tapi kini hanya tinggal bongkahan tanah menunggu kapan dihanyut ke muara sehingga membentuk beting-beting ditengah sungai.

Sebagai ikut menjadi tapak peradaban Sungai Rokan maka Kampung Rimba Melintang, tetap menjadi sesuatu yang menarik untuk diteliti dan diamati, Baik aspek sosiologis, antopologis, sosiokultural beragama dan komunikasi lintas budaya terutama dalam memperbanyak literasi-literasi dalam mengupasnya. ***

*Dawami S.Sos M.I.Kom,  Dosen IAITF Dumai, Jurnalis Senior, Pegiat Lingkar Literasi Tafidu dan Konsultan  Komunikasi Politik

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *