Terkuak Sudah, Amerika Ngutang ke China!

Xi Jinping & Joe Biden Foto: Xi Jinping & Joe Biden

FULLRIAU.COM — – Amerika Serikat (AS) kembali menghadapi masalah politik klasik, yakni batas utang. Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, meminta Kongres AS untuk menaikkan batas utang yang saat ini sebesar US$ 28,4 triliun atau sekitar Rp 404.000 triliun (kurs Rp 14.250/US$).

Yellen mengatakan, jika batas tersebut tidak dinaikkan maka pemerintahan AS akan mengalami shutdown atau penutupan sementara akibat kehabisan anggaran. Tidak sekedar shutdown, Negara Adikuasa dikatakan juga terancam mengalami gagal bayar (default) hingga krisis finansial.

“Jika batas utang tidak dinaikkan, suatu saat di bulan Oktober, sulit untuk memprediksi kapan waktu tepatnya, saldo kas di Departemen Keuangan tidak akan mencukupi, dan pemerintah federal tidak akan mampu membayar tagihannya,” tambah Yellen, dilansir CNBC International.

“Amerika Serikat tidak pernah mengalami default, tidak sekalipun.”

“Jika terjadi default maka akan memicu krisis finansial yang bersejarah. Default bisa memicu kenaikan suku tajam suku bunga, penurunan tajam bursa saham, dan gejolak finansial lainnya,” tegas Yellen.

Berdasarkan data data dari Statista, per Agustus lalu, nilai utang Amerika Serikat sebesar US$ 28,427 triliun, nyaris sama dengan bulan sebelumnya, tetapi turun cukup jauh dari bulan Juni US$ 28,529 triliun.

Dari total tersebut, lebih dari US$ 7 triliun Amerika Serikat berutang kepada asing, salah satu yang terbesar yakni China, yang kerap dilawan berseteru.

Berdasarkan data dari Departemen Keuangan AS, China memiliki surat utang atau obligasi (Treasury) senilai US$ 1,07 triliun pada akhir Juli lalu. China menjadi negara kreditur terbesar kedua Amerika.

Di urutan pertama ada Jepang yang memiliki Treasury AS senilai US$ 1,3 triliun. Jepang menjadi pemegang Treasury AS terbesar sejak pertengahan 2019 lalu mengalahkan China. Pasca perang dagang antara Amerika Serikat dan China berkobar, pemerintah Tiongkok cenderung melepas kepemilikan Treasury, sementara Jepang terus bertambah.

Kemudian melengkapi lima besar kreditur AS ada Inggris, Irlandia, dan Swiss.

Meski AS terancam mengalami shutdown hingga risiko default, tetapi Partai Republik menolak mendukung kenaikan batas utang tersebut. Senator partai Republik dari Lousiana, Bill Casssidy mengatakan Partai Demokrat ingin menaikkan batas utang tersebut untuk membiayai rencana proyek triliunan dolar AS yang disebut “Democrat wish list”.

Shutdown juga pernah terjadi berkali-kali. Sebelum isu kenaikan plafon utang terjadi di era Presiden AS ke-45, Donald Trump. Saat itu pemerintahan Amerika Serikat mengalami shutdown selama 35 hari pada periode Desember 2018 hingga Januari 2019.

Shutdown tersebut menjadi yang terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat. Sebanyak 300 ribu pegawai pemerintah dirumahkan. Selain itu, PDB juga terpangkas. Pada kuartal IV-2018, PDB terpangkas sebesar 0,1%, sementara di kuartal I-2019 sebesar 0,2%, berdasarkan analisis Congressional Budget Office, sebagaimana dikutip CNBC International. ***

Editor: Wadami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *