TUAN FAQIH ABDUL GHONI: Lahir dari Dua Keanehan, Dikaderkan Jadi Gubernur Jenderal Termuda, Memilih ke Babussalam

Tuan Faqih Abdul Ghoni

FULLRIAU.COM — Ayah Tuan Faqih Abdul Ghoni bernama H.Muhammad Sehat yang berasal dari Natal atau Kabupaten Madina Tapanuli. Marganya Harahap. Ia dilahirkan di Air Bangis Pasaman. Panggilan sehari-harinya Buyung Laman. Ayahnya bekerja sebagai petugas Beacukai yang dahulunya dinamai “Mantri bom”. Ibunya bernama Hj. Nilam yang orang tuanya berasal dari bukit batu. Panggilan Akrab dikalangan cucu-cucunya adalah Andung.

Sebagai petugas beacukai, Ayah Tuan Faqih sering berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya. Hampir sepertiga pantai timur sumatra telah dijelajahinya diantarnya di Pelabuhan Tanjung Layang di Kabupaten Meranti sekarang, maka disanalah lahir seorang anak laki-laki yang diberinama Abdul Ghoni tepatnya di Desa Lukit. Pada masa itu kebanyakan penduduk desa Lukit adalah suku asli atau banyak yang menyebutnya dengan suku hutan dan sekarang dipanggil dengan orang-orang Akit yang menganut faham animisme yang percaya pada hantu dan puaka.

Diceritakan pada saat Tuan Faqih lahir ada dua keanehan, yaitu pertama ia lahir tidak bernajis (berdarah), kedua waktu ia masih bayi sepasang burung perkutut atau burung ketitir sering menyanyikannya di dalam buaian. Setelah ia tamat dari sekolah rakyat, ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah Belanda HI-EIS, kemudian ia melanjutkan sekolah Tenschoi atau Pandar School, yaitu setingkat SMP saat ini. selanjutnya ia melanjutkan sekolah di kota Medan kemudian ke Sekolah Milo atau setingkat dengan SMA sekarang. Kebetulan pada waktu itu ayahnya sudah menjabat kepala beacukai di Bagan Siapi-api.

Dari penyelidikan pemerintah kolonial Belanda didapati bahwa Abdul Ghoni adalah anak yang terpintar di Sekolah Milo. Oleh karena itu, pihak kolonial mengirim surat kepada ayahnya Muhammad Sehat agar anaknya disekolahkan ke negeri Belanda untuk dikaderkan sebagai pimpinan tertinggi yaitu gubernur jenderal termuda di tanah jajahan hindia Belanda sementara umur Abdul Ghoni ketika itu baru mencapai belasan tahun. Ternya ta orang tuanya mendukung rencana pihak kolonial tersebut. namun Allah swt berkehendak lain, ketika sedang ujian akhir, tiba-tiba pemikirannya berubah tidak mau lagi melanjutkan ujian. Ayahnya sangat kesal dan marah sambil berkata,”sayang ghani! Tawaran Belanda sudah cukup baik untukmu, kenapa tiba-tiba engkau menolak. Lalu Abdul Ghoni menjawab, ”kenapa bapak memilih dunia? Padahal dunia ini dikejar tidak akan habis-habisnya. “kalau begitu, kemana engkau mau belajar?. Sambut ayahnya. Lalu Abdul Ghoni berkata,”antarkan saya pak ke Babussalam, saya mau mendalami tentang Islam ini. Mendengar perkataan anaknya, ayahnyapun lega lalu ia mengantarkan Abdul Ghoni ke Babussalam.

Di Babussalam kecemerlangan Abdul Ghoni semakin tampak dan menonjol. Setiap hari Abdul Ghoni mengemukakan persoalan-persoalan yang aneh-aneh kepada guru-gurunya. Padahal persoalan seperti itu belum pernah dikemukakan oleh murid-murid sebelumnya. Hampir semua pertanyaan yang diajukan Abdul Ghoni tidak bisa dijawab oleh guru-guru di sana. Oleh karena guru-guru di Babussalam tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Abdul Ghoni, merekapun merasa malu karena Babussalam pada waktu itu adalah sekolah agama yang tertinggi dan ternama. Akhirnya para guru mengadakan rapat/pertemuan yang memutuskan bahwa mereka sepakat memberikan gelar Faqih kepada Abdul Ghoni yang artinya orang yang sangat memahami masalah syariat dan hakikat. Lalu merekapun memberikan sertifikat (ijazah) kepadanya tanpa melalui proses ujian lagi.

Setelah memperoleh sertifikat (ijazah) dari Babussalam dan diberi gelar faqih oleh guru-guru di sana, Abdul Ghoni belum merasa puas dengan keilmuannya. Lalu ia ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke luar negeri tepatnya di Universitar Al-Azhar Mesir. Ia pun mencari bantuan dengan cara mengutip derma dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewujudkan keinginannya. Tapi sayang cita-citanya kandas di tengah jalan disebabkan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Mesir terputus karena ulah pemerintah kolonial Belanda. Lalu untuk memuaskan rasa keingintahuannya tentang ilmu agama Islam, Abdul Ghoni pun mencari guru untuk belajar kepadanya. Pada akhirnya ia bertemu dengan Syaid Al-Buluk, seorang bangsa Arab yang berasal dari Hadralmaut, Yaman. Kepadanyalah Abdul Ghoni berguru untuk menyelesaikan kegelisahan dan rasa penasarannya tentang ilmu-Ilmu Hakekat (Makrifat). Abdul Ghoni merasa puas berguru dengan Syaid Al-Buluk karena berbagai persoalan keagamaan yang tak bisa terjawab oleh guru-guru di Babussalam terdahulu bisa terjawab di bawah pengajaran gurunya yang baru ini.

Ditengah keasyikannya berguru dengan Syaid Al-Buluk, tiba-tiba perkhabaran tentang Abdul Ghoni sampai ke Madrasah Babussalam. Guru-guru di Babussalam merasa malu sekali. Akhirnya mereka mengutus murid-murid mereka yang seangkatan dengan Abdul Ghoni untuk mengadakan demontrasi dan protes di rumah gurunya yang baru itu. Sehingga menimbulkan kegaduhan dan situasi yang kontraproduktif. Akhirnya Syaid Al-Buluk tidak sanggup lagi meneruskan pengajarannya dan menyuruh ayah Abdul Ghoni untuk membawa anaknya pulang ke Bagan Siapi-api.

Setelah pulang ke Bagan Siapi-Api, Abdul Ghoni ditugaskan mengajar di Madrasah Al-Khairiyah yang baru selesai dibangun. Murid-muridnya banyak, namanya pun tersohor di Bagan Siapi-api dan sekitarnya. Sementara itu, ia mendengar di Bagan Siapi-Api ada seorang keramat yang bernama Syekh Faqih Zainuddin yang berasal dari Labuhan Tangga. Abdul Ghoni mendatangi tuan Syekh tersebut dengan maksud agar diterima sebagai muridnya. Syekh Faqih Zainuddin menerimanya, lalu Abdul Ghoni belajar dengannya di malam hari sejak pukul 08.00 malam hingga pukul 04.00 subuh tiap-tiap malam.

Selama berguru dengan Syekh Faqih Zainuddin, Abdul Ghoni merasakan perubahan yang berarti pada dirinya. Diantara perubahan itu, biasanya setiap hari para muridnya datang terlebih dahulu ke madrasah dan pada jam belajar barulah Abdul Ghoni datang, akan tetapi keadaan yang terjadi justru sebaliknya dimana Abdul Ghoni yang datang dahulu ke Madrasah dan ia tidak masuk ke Madrasah tapi justru masuk ke dalam kolam. Setiap kali murid-muridnya lewat, ia menyimbahi mereka dengan air sehingga mereka pakaian mereka basah kuyup. Selain itu ia terkadang naik ke kaki atap masjid dan berlari-lari di atasnya dan berbaring kepalanya ke bawah dan kakinya ke atas. Apabila ada orang yang ketakutan dengannya berupaya menegurnya, Abdul Ghoni menjawab,”saya melaksanakan perintah Allah swt”. Ada lagi prilakunya yang sangat mengerikan, ia terkadang berlari-lari dalam sungai sedang air pasang besar namun anehnya ia tidak tenggelam.

Setelah beberapa kejadian aneh tersebut, gelaran faqih yang selama ini melekat pada dirinya berubah menjadi Abdul Ghoni Gila karena perbuatan hari-harinya sering menyalahi adat. Apalagi setelah ibunya Hj. Nilam mendengar berita yang santer bahwa Anaknya begitu karena tersalah adab dengan gurunya. Perasaan ibunyapun terguncang akibat anggapan banyak orang yang gencar mencela anaknya. Akhirnya Ibu Abdul Ghoni mendatangi rumah Faqih Zainudin dan bertemu dengan isterinya, lalu bertanya,”dimana faqih Zainudin berada? Lalu Isteri Faqih Zainudin langsung menunjuk bahwa suaminya sedang berzikir dalam kelambu. Ketika Hj. Nilam menghampiri kelambu tersebut, tiba-tiba Faqih Zainudin berkata,”engkaukah ibu Abdul Ghoni? Dan apa hajat engkau? Ibu Abdul Ghoni menjawab,”benar, saya datang kemari untuk meminta ampun dan maaf karena kata orang anak saya tersalah adab dengan tuan. Oleh sebab itulah saya meminta ampun dari ujung rambut sampai ujung kaki jika anak saya tersalah adab dengan tuan. Lalu Tuan Syekh menjawab,”engkau ini yang dipanggil orang dengan encik Nilam?”. Benar. Jawab Hj. Nilam. “Anak anda tidak ada tersalah adab denganku bahkan dialah bakal menjadi penggantiku nanti. tugasnya sangat berat, yaitu memikul dunia, tidak akan selesai dalam waktu 30 tahun. Tandanya kemana-mana ia pergi akan memikul peti. Itulah isyarat bebannya tersebut dan engkau seorang ibu yang berbahagia. Biarlah dia begitu, jangan engkau dengan “kombor” (perkataan) orang tentangnya.”terang Syekh Faqih Zainudin.

Setelah mendapat penjelasan dari Syekh Faqih Zainudin prihal anaknya, Hj. Nilam merasa agak sedikit lega walaupun tanda tanya besar masih menghantui pikirannya. Lalu ia menemui isteri Faqih Zainuddin kemudian bertanya,”pelajaran apa yang diberikan suaminya kepada anaknya dan bagaimana penerimaan Abdul Ghoni terhadap gurunya tersebut?.” Isteri Faqih menjawab,”keduanya tidak pernah terlontar satu katapun sejak dari jam 08.00 malam hingga jam 04.00 subuh; keduanya saling pandang-memandang, kadang saling menggeleng kepala, dan kadang saling mengangguk, begitulah kelakuan keduanya “saban” malam. Ketika Abdul Ghoni mau pulang, hanya satu ucapan yang keluar dari mulut Tuan Faqih Zainudin, Abdul Ghoni ambil andang (obor dari daun kelapa yang diikat) di bawah kolong rumah. Abdul Ghoni hanya mengangguk kemudian ketika Abdul Ghoni menamatkan pengajiannya, Tuan Faqih Zainudin menyuruhnya membuka mulut lalu sang guru meludahi pada mulut muridnya lalu Abdul Ghoni pun menelannya air liur gurunya tanpa merasa jijik sedikitpun.

Sejak itu kelakuan Abdul Ghoni semakin hari semakin bertambah aneh; sering “mengoceh” sendirian, terkadang diselingi dengan marah. Tak lama kemudian Ayahnya Muhammad Sehat meninggal dunia. Akhirnya Ibunya mengambil keputusan untuk membawa anaknya ke Desa Sungai Alam Bengkalis ke tempat mamaknya Kitam. Hj Nilam menduga bahwa anaknya Abdul Ghoni “tersaruk” hantu. Lalu iapun memanggil seorang “bomoh” (dukun) yang bernama Yahya Besi dengan maksud untuk menyembuhkannya atau mengembalikan akal sehatnya. Tok Bomoh memulai membuat persiapan pengobatan; membakar kayu bakau, setelah menjadi bara lalu dimasukan ke dalam “nampan” (talam) tembaga yang sangat cepat menyerap panas dengan tujuan agar jin kelambu api yang diseru itu datang seraya dukun itu duduk di atas bara tersebut.

Di tengah persiapan tersebut, Abdul Ghoni sedang membaca al-Quran di dalam kamar. Ketika dukun Yahya Besi mau duduk di atas bara, tiba-tiba Abdul Ghoni keluar dari kamar kemudian berkata,”orang sehat diobat sedangkan orang sakit tiada diobat.” Lalu Ia mengambil talam yang berisi bara panas tersebut dengan tangannya yang tidak beralas kemudian di lemparkannya ke tanah. Akhirnya Tok Bomoh pun “terpeka” (terkesima). Setelah kejadian itu, keluarga Abdul Ghoni pindah ke Rimba Sekampung, tepatnya di sekitar perkuburan Taman Kota Layu. Disinilah mereka bermukim.

Cerita tentang kekeramatan Tuan Faqih Abdul Ghoni semakin tersebar luas di Masyarakat Bengkalis dan sekitarnya. Banyak keganjilan yang terjadi pada dirinya; seperti menyeberang laut tanpa kapal atau perahu, minum air panas (kopi) dalam keadaan mendidih. Apabila ia berkata bahawa seseorang itu mati, maka orang itupun tak lama kemudian meninggal. Dicatat ada tiga kejadian yang sama berlaku; satu pada mertua adeknya yaitu mamaknya yang bernama penghulu Kitam, kedua seorang yang bernama yang sama dengan mamaknya, yaitu Penghulu di sekitar Bukit Batu, ketiga dengan bahasa kiyas, yaitu seorang perempuan yang sudah terlupakan namanya.

Selain itu keganjilan lainnya, perjalanan yang biasa ditempuh dalam waktu satu hari hanya ditempuhnya dalam hitungan satu atau dua jam saja. banyak lagi keganjilan yang berlaku di masa kehidupannya. Bahkan setelah ia meninggal tahun 1981, hampir separuh orang yang berada dalam pesawat udara untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah melihat Faqih Abdul Ghoni, padahal ia meninggal pada bulan Sya’ban tahun 1980.

Adalagi hal yang aneh sekitar tahun 1991, ada seorang yang datang dari Medan mencari sanak famili Abdul Ghoni di Dumai. Menurutnya Faqih Ghoni menyampaikan salam kepada sanak famili yang berada di sekitar Dumai. Semua sanak familinya terkejut karena ia sudah meninggal 11 tahun silam. Akhirnya orang tersebut bersumpah bahwa ia benar-benar bertemu dengan Faqih Ghoni.

Bukti kekeramatanya yang tinggal sampai saat ini yaitu kolam Faqih Ghoni yang terletak di Desa Sungai Alam. Dikisahkan selama 6 bulan Faqih Ghoni menghilang, rupanya ia membuat satu kolam di dalam hutan dengan menggalinnya menggunakan sebilah parang yang tidak bertangkai. Akan tetapi sekarang tempat tersebut sudah menjadi perkampungan yang konon katanya berada di pinggir jalan antara desa Sungai Alam dan Desa Penampi. Ada keanehan pada kolam tersebut dimana setiap terjadi musim kemarau, kolam itu tidak pernah kering airnya. Wallah A’lam bi Al-Showab. Sumber dari Keluarga Almarhum Ustadz H.Sulaiman saudara kandung Tuan Faqih dan seorang Khalifah dari Langkat Basilam[].

Oleh : H. Amrizal, M.Ag (Ketua MUI Bengkalis)

Sumber: Facebook Milik H Amrizal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *