Bedah Buku Lancang Kuning itu Bernama Jelatik: Membangun Paradigma Pergerakan Mahasiswa Diatas Kebenaran

Bedah buku Lancang Kuning itu Bernama Jelatik ditaja oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat IAITF Dumai, Rabu, 20 Januari 2021 di Gedung Aula Lantai II Kampus Sang Pemimpin IAITF Dumai.

FULLRIAU.COM — Pergerakan mahasiswa harus selalu berdiri dan berada pada paradigma kebenaran dan hati nurani dalam melihat setiap masalah sosial ditengah-tengah masyarakat.

Itulah mengawali terjadinya reformasi balek kampung lebih kurang 400 mahasiswa Kabupaten Bengkalis pada tahun 1998 dengan mengunakan kapal kayu bernama Jelatik. Hal ini juga mengilhami terbitnya buku dicetak UNRI Pres tahun 1999 terdiri dari beberapa tulisan yang pernah terbit di koran harian pagi Riau Pos.

Demikian disampaikan penulis buku yang juga Ketua Yayasan Tafaqquh Fiddin Dumai. Dr HM Rizal Akbar M.Phil dalam kegiatan bedah buku Lancang Kuning itu Bernama Jelatik ditaja oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat IAITF Dumai, Rabu, 20 Januari 2021 di Gedung Aula Lantai II Kampus Sang Pemimpin IAITF Dumai.

”Kalau pun pada akhirnya, ada muncul adagium dalam paradigma pergerakan yaitu kapal pecah maka hiu kenyang ini merupakan bagian dari lemahnya matlamat dari perjuangan pergerakan itu sendiri,” ungkap lulusan doktor terbaik Universitas Trisakti Jakarta dalam prolog pengantar diskusi dan bedah buku.

Adapun menjadi pertimbangan serta alasan judul buku ini diberi nama ada Lancang Kuning dan Jelatik kata Rizal Akbar adalah lebih pada pertimbangan simbolik dari kebaikan dan keperkasaan untuk membangun daerah diawali dari hati nurani. Oleh sebab itu, buku ini terdiri tiga bagian yaitu bagian pertama berisi tentang tulisaan bagimana dinamika reformasi balek tersebut, bagian kedua berisi soal pendidikan dan dinamika kemahasiswaan di UNRI dan bagian ketiga berisi pemikiran-pemikiran tentang saya sebagai anak Riau.

Dalam kegiatan bedah buku pagi itu, mantan Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Bengkalis (IPMKB) tidak sendirian tapi didampingi Dawami Bukitbatu, Dosen yang juga jurnalis senior ikut memberi nama judul cover dan memberikan masukan buku Lancang Kuning itu Bernama Jelatik serta terlibat langsung dalam reformasi balek kampung pada masa itu.

”Pada zamannya, reformasi balek kampung mahasiswa Kabupaten Bengkalis ini menjadi titik dari metamorfosisi reformasi pergerakan mahasiswa daerah pada kampung halamannya. Sedangkan soal judul itu lebih memberikan sesuatu pada buku ini sehingga menimbulkan ketertarikan untuk dibaca,” ungkap mantan Pemimpin Redaksi Harian Pagi Dumai Pos, Bengkalis Ekspres dan Harian pagi Meranti Ekspres, ***

Editor: Wadami

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *