BUKAN CERMIN NYINYIN : Refleksi 507 Tahun Bengkalis

PERINGATAN Hari Jadi Bengkalis bukan setumpuk narasi yang berkisah tentang hari lahir kabupaten atau hari lahir kota atau hari lahir pulau. Tetapi tentang cara mengingat bahwa negeri ini pernah melewati masa-masa gemilang dan juga fasa suram tentunya. Sebagai sebuah kawasan, Bengkalis sempat menjadi pusat perdagangan, pusat pertahanan dan pusat pentakbiran silih berganti oleh Melaka, Portugis, Aceh, Johor, Siak, Belanda, Jepang dan Republik Indonesia. Serta pernah dilirik Jambi dan Inggris.

Selaku kawasan yang berada di titik episentrum perdagangan dunia di abad ke-15, Bengkalis memainkan peran sebagai hub (penghubung) bagi Melaka. Pelabuhan pendukung yang menghubungkan Melaka dengan pedagang-pedagang dari pedalaman Sumatera dan dari kawasan lain. Bengkalis adalah entreport bagi pedagang dari berbagai ceruk dunia. Berbagai komoditas dikumpul, ditukar dan diperdagangkan, lalu dibawa ke berbagai pelabuhan lain. Bahan pokok khususnya beras dari Jawa di tukar di Bengkalis dengan kain dan sutera lalu dibawa ke Melaka. Demikian juga lada hitam dari pedalaman Sumatera.

Ketika emas dan timah mulai ditambang di hulu Sungai Siak (Kabun, Kota Rena, Petapahan) di pertengahan abad ke-17, komoditi dagang ini menjadi primadona. Cukai yang diambil dari perdagangan emas dan perak oleh Syahbandar Johor di Bengkalis adalah penopang pemajuan Kerajaan Johor. Di kalangan pembesar Johor yang tergabung dalam Majelis Orang Kaya, Bengkalis dikenal sebagai “Negeri Jelapang Padi”, yakni sebuah vassal yang menjadi lumbung, menjadi sumber pendapatan bagi Johor (Andaya, 1975).

Demikian pula ketika candu mulai didagangkan. Hamilton dalam A New Account Of The East Indies(1930) menulis bahwa pada 1680, seorang pegawai VOC dari Melaka bernama Lucas berdagang candu di Bengkalis. Candu yang didagangnya ditukar dengan bijih emas (dust). Dalam kurun waktu sepuluh tahun ia mampu mengumpulkan 10 sampai 12 ton bijih emas dan ini setara dengan nilai 100.000 Pound Inggris. Candu dengan segala variannya suatu ketika dahulu menjadi komoditi primadona kawasan ini dan menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi Pemerintah Hindia Belanda.

Dikenal sebagai penghasil ikan terubuk (hingga hari ini walau dengan volume yang sudah jauh menurun), daerah ini menjadi buah bibir dan buah tangisan beruk bagi masyarakat dagang dunia. Bengkalis adalah pelabuhan penyedia bagi bahan pokok dan penyedia kapal-kapal ukuran sedang yang dibutuhkan Melaka. Di sini juga sebagai tempat untuk memperbaiki jong dan geliung yang rusak ketika merempuh badai dalam perjalanannya ke Melaka.

Kedudukan strategis rantau ini sebagai wilayah persimpangan jalan laut antara dunia barat dan timur serta arah angin monsun yang berbeda di setiap musim menyebabkan kapal-kapal yang singgah berbeda di setiap musimnya. Ketika musim panas, angin bertiup dari barat ke timur, maka yang singgah adalah kapal dari Arab dan India. Setelah rantau ini terdedah dengan penguasaan bangsa Eropa, yang singgah di musim panas bertambah dengan kapal-kapal Portugis, Spanyol, Prancis, Inggris, Belanda dan beberapa negara lainnya. Sedang ketika musim hujan, angin yang bertiup dari timur ke barat, maka yang singgah adalah kapal-kapal dari China, Jepang, Ayuthaya (Siam) dan negeri-negeri timur lainnya. Tukang utas dan tukang timbal dari Bengkalis diakui kemahiran dan kehandalannya.

Ada setumpuk kisah lain yang bercerita tentang kegemilangan kawasan ini dan tentu juga tidak sedikit kisah-kisah pilu. Bengkalis yang selalu terbabit dengan setiap peristiwa sejarah di rantau Selat Melaka adalah saksi dari tingkah laku dan tabiat peneraju. Baik sebagai pelaku maupun sebagai pelengkap penderita (:selalu).

Mengapa 30 Juli 1512

30 Juli 1512 hanyalah sebuah tonggak dari sekian banyak “milestone” yang telah dipancang di masa lalu. Sebuah tonggak yang berangkat dari rasa malu ketika simbol kekuasaan Melayu diragut dan dirogol marwahnya. Jatuhnya Melaka ke dalam genggaman Portugis menimbul luka dan malu sejarah. Aib ini akan ditoreh dalam di sepanjang sejarah tamadun Melayu. Perih yang tidak akan pernah menyapa uras.

Setelah berundur dari Melaka, Hang Nadim mengumpulkan dukungan dari orang laut yang bermukim menyebar di rantau Selat Melaka. Termasuk Suku Senggeren dari Bengkalis. Menurut Leonard B. Andaya dalam The Kingdom of Johor 1641-1728 (1975), Suku Senggeren adalah kelompok orang laut yang bermukim di kuala Sungai Bengkalus. Di bawah pimpinan Batin Hitam, mereka bergabung dengan armada pimpinan Laksamana Hadim Nadim. Pada Juli 1512, armada ini merempuh kubu pertahanan Portugis dibawah pimpinan Fernao Pires de Andrade di Pagoh, Muar dan memukul mundur mereka. (Soewardi et al, 1982). Kemenangan ini dianggap sebagai tonggak pertama kewujudan Bengkalis sebagai sebuah kawasan yang bermartabat. Dengan berbagai pertimbangan, peristiwa ini dianggap layak dan disepakati sebagai pancang awal kawasan Bengkalis dan ditetapkan dengan sebuah peraturan daerah.

Kesepakatan memilih 30 Juli 5012 tentu bukan harga mati dan dapat diperdebatkan dengan sudut dan cara pandang yang beragam. Dengan temuan fakta baru serta hujah yang bernas serta pertimbangan yang dibangun dari sebuah diskursus yang beradab, “kesepakatan” baru bukan tidak mungkin untuk ditampilkan. Ketika hari ini menggali catatan lama tentang rantau ini (jika ada) mungkin relatif lebih mudah (jika dibandingkan dengan lima bekas tahun lampau), tentu akan lebih mudah untuk menentukan alas pijak yang baru. Hanya kemauan yang perlu diasah bukan dengan hujat dan cemeeh yang tidak bertanggungjawab.

Apakah sebelum 30 Juli 1512 Bengkalis tidak ada? Tentu ada! Dan ia telah besar berdaya karena mampu memberikan sumbangsih kepada Hang Nadim untuk memukul Portugis. Jika tidak memiliki dasar pihak yang kuat, tidak mungkin dapat memberikan dukungan sehingga mampu memberikan tantangan yang hebat terhadap Portugis. Bengkalis adalah kawasan awal di negeri yang disebut sebagai Kabupaten Bengkalis hari ini. Bersama Rupat dan Bukit Batu, Bengkalis dicatat sebagai negeri-negeri awal yang telah bertamadun di rantau Selat Melaka. Sejarah panjang inilah yang mesti digali untuk mendapatkan potret wajah silam Kabupaten Bengkalis.

Slamet Mulyana dalam Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara (2005) memaparkan bahwa pada pertengahan abad ke-15, Tun Perak menjadikan Bengkalis sebagai batu loncatan untuk melakukan penaklukan terhadap negeri-negeri di pesisir timur Sumatera. Penaklukan ini juga diiringi dengan

Disebabkan kurangnya data dan referensi yang mendukung, secebis peristiwa ketika Tun Perak menapak kaki di Bengkalis menjadi kabus dan buram sehingga tidak dapat memilih waktu yang tepat untuk dijadikan tapak.

Hari ini, semua sangat menyadari bahwa Bengkalis dan kawasan sekitarnya memiliki posisi yang strategis. Segala keunggulan komparatifnya dengan petah dapat dijabarkan satu persatu. Namun keunggulan tersebut juga membuat gagap anak negeri ketika hendak memaparkan apa yang harus diperbuat agar keunggulan tersebut bermanfaat. Ketika Melaka, Johor, Aceh, Siak, dan Belanda mampu memanfaatkan keunggulan daya saingnya, setelah kemerdekaan, Bengkalis meredup seakan mengulang fasa suram ketika diterajui oleh Siak. Hari ini juga, Bengkalis masih tertatih-tatih mengejar ketertinggalan dari kawasan-kawasan lain. Diperlukan teraju yang cerdas guna memimpin talenta negeri untuk menggali potensi dan memanfaatkan bagi kemaslahatan bersama.

Kondisi kekinian kadang membuat kita ragu, apakah keunggulan itu memang pernah ada. Minda yang terjebak dengan alur pikir bahwa makin tua sesuatu peradaban maka makin tinggi pula maqam kejayaannya akan menggugat “kesepakatan” bahwa tamadun ranggi kawasan ini telah hadir lebih dari lima abad silam. Keraguan yang kemudian bermuara pada diksi dan frasa menolak “kesepakatan”, baik dengan bisik-bisik maupun dengan sikap dan gestur tubuh tersirat. Namun, Bengkalis juga tidak boleh terperangkap dengan narasi keunggulan-keunggulan silam. Larut dalam nostalgia romantis pantulan-pantulan fantasmagoris yang mengabaikan urutan tertib ruang dan waktu (meminjam narasi Hasan Yunus) serta terlena dengan kisah-kisah gemilangnya yang telah lama kadaluwarsa.

Tanggungjawab hari ini adalah mengambil iktibar untuk berbenah agar dapat mencecah kegemilangan berikutnya. Generasi milineal Bengkalis sebagai penerima tingkat estafet teraju berikutnya harus mampu menciptakan tonggak-tonggak baru agar tertulis sejarah yang lebih gemilang di masa depan atau harus terbelenggu dalam frasa “generasi yang gagal” memanfaatkan keunggulan komparatif yang dimilikinya. Generasi yang gagap dengan dengan dirinya sendiri.

Halwa di pengujung tulisan, menarik ketika menyimak penilaian Elisa Netsher yang memandang Bengkalis dalam bukunya De Nederlanders in Djohor en Siak 1602 tot 1865. Ia membandingkan antara Bengkalis di tahun 1680 sebagaimana yang digambarkan oleh Gubernur Balthasar Bort dengan Bengkalis yang dilihatnya pada 1860. Bagaimana Bengkalis sebagai sebuah entitas yang memiliki potensi yang demikian besar serta sibuk dengan berbagai aktivitas perdagangan menjadi tertinggal dan tidak terurus. Penyebabnya adalah karena Bengkalis saat itu diurus oleh pemerintahan yang buruk (wanbestuur). Belanda mencoba memperbaikinya namun kembali terbengkalai seabad kemudian. Mungkinkah ini juga karena salah urus atau salah yang mengurus.

Masa lalu adalah cermin, hari ini adalah perjuangan dan masa depan adalah cita-cita. Mari ciptakan sejarah kita sendiri untuk membawa kembali Bengkalis ke puncak kegemilangan. Tentu bukan sebagai pusat perdagangan narkoba. Wallahu’alam. *

Bengkalis, 30 Juli 2019

*H. Riza Pahlefi (Mantan Wakil Bupati Bengkalis dan Ketua DPRD Bengkalis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *