Dinno Indiano, Tangan Dingin Pembangun BNI Syariah

bniNAMA Dinno Indiano tidak asing lagi di dunia perbankan tanah air. Pria kelahiran Bloomington, Indiana, Amerika Serikat (AS) ini memilih pulang ke tanah kelahiran orangtuanya dan meniti karir di sektor perbankan.

Dia sudah malang melintang di dunia industri perbankan Indonesia. Beragam prestasi ditorehkan saat mengendalikan sejumlah bank konvensional.

Tetapi, pada akhirnya dia mendapat semacam amanah untuk memegang tampuk kepemimpinan BNI Syariah. Lini bisnis syariah dari BNI 46 itu sebenarnya memiliki core bisnis yang terbilang baru bagi Dinno.

Itu bukan hal sulit bagi Dinno. Terbukti BNI Syariah menjadi bank syariah dengan jumlah aset terbesar keempat di Indonesia.

Meski tidak ada perbedaan yang cukup signifikan dia temukan saat menjabat sebagai Direktur Umum BNI, ada satu hal membuat Dinno merasa lebih nyaman. Salah satunya adalah kebiasaan salat berjamaah yang tidak mungkin ada di bank-bank konvensional.

Tidak hanya itu, Dinno merasa posisinya benar-benar merupakan amanah. Dia sama sekali tidak meminta jabatan. Tetapi, dia merasa Allah SWT memberinya amanah untuk menjalankan sistem keuangan syariah.

Bagaimana perkembangan BNI Syariah saat ini?

Tiga tahun terakhir kita tumbuh di angka rata-rata 29 persen. Di mana 2015 kita masih bisa tumbuh di angka 18 persen. Itu pun masih rata-rata industri karena industri per tahun 2015 masih tumbuh di atas 10 persen. Alhamdulillah dari sisi pertumbuhan, bertahan di sisi kualitas karena kalau bank kan memang dilihat dari sisi kualitas pembiayaan. Sekarang ini kita di angka 2,6 persen.

Mudah-mudahan di 2016 ke depan kita masih bisa pertahankan angka yang sedemikian baik. Karena salah satunya juga untuk dua tahun berturut-turut kita dapat penghargaan Annual Report Award (ARA) yang diprakarsai regulator yaitu Departemen Keuangan, OJK dan Dirjen Pajak.

Keuangan Syariah nampaknya tengah menjadi favorit. Bagaimana pandangan Anda mengenai hal ini?

Itu pertanda yang baik, artinya begini di Indonesia kan muslim di atas 75 persen seharusnya keuangan syariah di Indonesia menjadi lebih besar atau lebih baik karena umat muslim di atas 75 persen. Ke depan berharap Indonesia dapat mengalahkan Malaysia.

Sekarang kalau menjadi favorit itu pertanda baik. Kenapa? Artinya diharapkan kalau semua konsen untuk meningkatkan perbankan syariah di Indonesia. Insya Allah kita bisa melampaui besarnya perbankan syariah di Malaysia.

Sebenarnya apa pemicu ketertarikan dunia untuk datang ke Indonesia?

Yang memicu lebih tertarik karena insan perbankan syariah sudah mendorong cukup lama ke pemerintah agar lebih diperhatikan. Alhamdulillah di masa pemerintahan Pak Jokowi ini, akhir tahun kemarin mulai digodok sehingga Pak Jokowi sendiri yang menyetujui untuk terbentuknya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) dan Pak Jokowi sendiri yang menjadi Pemimpin Nasional KNKS.

Artinya apa? Memang butuh proses waktu yang cukup lama untuk membuat pemerintah benar-benar memperhatikan. Keuangan syariah di Indonesia baru 20 tahun, yang artinya bukan waktu yang cukup lama juga, karena bank konvensional sudah dari tahun 1940-an. BNI dari tahun 1946.

Tapi perkembangan yang harus dikhawatirkan adalah perkembangan menurun. Kurang lebih tiga tahun terakhir dari tahun 2013. Artinya, jangan sampai perkembangan menurun semakin memerkecil market share perbankan syariah di Indonesia.

Kekuatan besar apa yang dimiliki Indonesia?

Di Asia sebenarnya kan market besarnya ada di Indonesia. Kita memiliki 225 juta rakyat, kita memiliki ribuan pulau. Itu kan market ekonomi terbesar. Daratan atau kepulauan itu semua market.

Pertanyaannya, apakah semua itu sudah tersentuh perbankan syariah. Tidak! Padahal, itu market yang luar biasa kalau kita mau jadi tuan rumah di negara kita sendiri.

Kemudian, yang membedakan Indonesia dengan Malaysia itu apa?

Yang membedakan dengan Malaysia, karena keberpihakan pemerintah di sana sangat kuat. Jadi dana-dana pemerintah itu diparkir di perbankan syariah. Jadi, kita, bisa dikatakan tidak ada dana pemerintah yang diparkir di perbankan syariah. Yang ada adalah dana haji, bukan dana pemerintah tapi dana umat. Berbeda ya.

Nah, dengan adanya KNKS akan dimulai mungkin akan ada peraturan Perppu atau Kepres yang mengharuskan ada dana pemerintah yang diparkir di bank syariah. Jadi keberpihakan.

Kalau di Thailand pak?

Tidak terlampau besar, tapi di Asia itu berpikir market yang terbesar Indonesia. Bukan hanya market syariah tapi market bisnis terbesar.

–Lebih lengkap wawancara Jurnalis Dream, Ratih Wulan Pinandu bisa dilihat di www.dream.co.id)

 

 

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *