Kenaikan Harga Rokok Bertahap

46250_64842_rokok jawapos HLJAKARTA — Dirjen Bea Cukai Kemenkeu Heru Pambudi angkat bicara soal hebohnya wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 Ribu. Menurutnya itu adalah wacana yang disampaikan salah satu kelompok kepadanya.

Kata Heru, bea cukai menampung semua usul, baik dari kelompok pro maupun kontra. Namun, dia menegaskan, jika pemerintah menuruti usul yang diajukan tersebut, industri rokok dipastikan bangkrut.

“Kalau hanya mendengarkan satu pihak (pro kesehatan, Red), ya bisa bangkrut itu (industri rokok). Selalu kalau lewat kurva optimum, ada ekses negatifnya, yaitu industrinya mati atau bermunculan yang ilegal. Jadi, tidak hanya (mempertimbangkan) yang pro kesehatan, tapi juga ada petani (tembakau),” tuturnya.

Menurut Heru, kenaikan tarif cukai rokok harus dilakukan bertahap. Apalagi, tahun lalu pemerintah baru saja menaikkan cukai rokok menjadi rata-rata 11,6 persen. Dia mengatakan, jika kenaikan terlalu besar, akan muncul dampak negatif.

“Dua setengah kali lipat (kenaikan) itu bisa berdampak negatif. Komunitas dan perekonomian yang akan merugi nanti,” imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua Gabungan Asosiasi Pengusaha Rokok Indonesia (Gapri) Ismanu Sumiran menyebut bahwa kabar harga rokok akan menjadi Rp 50 ribu per bungkus  tidak benar. Bahkan, Dirjen Bea Cukai Kemenkeu Heru Pambudi memastikan bahwa kebijakan tersebut tidak akan dijalankan dalam waktu dekat.

“Itu hoax!” tegas Ismanu kepada Jawa Pos tadi malam (21/8). “Pihak yang mengusulkan dan mengembuskan kabar itu telah menimbulkan kekacauan ekonomi dan meresahkan,” imbuhnya.

Terkait kenaikan harga, pihaknya saat ini berpatokan pada nota keuangan 2017 yang diumumkan pemerintah baru-baru ini. Di situ tercatat kenaikan cukai 5,8 persen.

Berpatokan pada hal itu, penerimaan cukai dari industri rokok menjadi Rp 149,9 triliun pada 2017 dibanding Rp 138 triliun pada tahun ini. Jika ditambah pajak, total setoran industri rokok kepada negara Rp 170 triliun. “Ibaratnya, sesungguhnya industri rokok ini BUMN yang dikelola swasta. BUMN sendiri tidak sebesar itu setorannya. Cukai dan pajak ke negara itu setara sekitar 70 persen dari omzet,” ulasnya. (gen/ken/c9/ang) 

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *