Lukman Hakim Saifudin: Aturan soal Kuota Haji Perlu Direvisi

57d0155e4403e-menteri-agama-lukman-hakim-saifuddin_663_382JEMAAH haji dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, baru saja melaksanakan wukuf di Arafah pada Minggu 11 September 2016. Wukuf sebagai puncak seluruh rangkaian ibadah haji dimulai setelah tergelincir Matahari hingga terbenam Matahari.

Setelah wukuf, Jemaah haji akan melakukan prosesi berikutnya, seperti bermalam di Mina, tahalul (mencukur rambut), lempar jumrah hingga melakukan Thawaf Wada’, atau thawaf perpisahan sebelum pulang ke negaranya masing-masing.

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifudin mengatakan, sejauh ini, penyelenggaraan ibadah haji berjalan lancar. Baik mulai dari keberangkatan, penginapan, katering hingga bus yang menjadi transportasi selama jemaah menunaikan ibadah haji.

Meski demikian, ia tak menyangkal, jika masih ada bolong di sana sini. Meski secara keseluruhan persoalan teknis itu tak mengganggu, Menag mengaku menaruh perhatian dan berjanji akan memperbaiki kondisi tersebut.

Ia menegaskan, pihaknya terus mengusahakan, agar ada penambahan kuota haji bagi Indonesia. Ia akan mendesak Pemerintah Saudi Arabia, agar merevisi aturan perihal penetapan kuota yang sudah dianggap tak relevan.

Selain itu, dia juga akan memperbaiki sistem e-hajj (sistem haji elektronik), untuk memperbaiki penyelenggaraan ibadah haji.

Demikian, penuturan pria yang menjabat sebagai Ketua Amirul Hajj ini kepada VIVA.co.id. Wawancara dilakukan di Ruang VIP Terminal 1 Bandara Internasional Soekarno Hatta, Minggu 4 September 2016, sesaat sebelum Menag terbang ke Tanah Suci.

Sebenarnya apa latar belakang penunjukkan Amirul Hajj? 

Amirul Hajj itu adalah ketentuan yang diberlakukan oleh Pemerintah Saudi Arabia terhadap semua negara yang mengirimkan warga negaranya untuk berhaji, tak terkecuali Indonesia.

Maksudnya?

Jadi, dalam Taklimatul Hajj itu ada klausul bahwa setiap negara harus menunjuk siapa yang menjadi Amirul Hajj. Artinya, siapa yang bertanggung jawab secara keseluruhan terkait dengan pengelolaan dan penyelenggaraan ibadah haji, mulai tahap persiapannya, pelaksanaannya, dan seterusnya. Itulah, makanya setiap tahun Indonesia membentuk Amirul Hajj, yang kemudian menunjuk Menteri Agama sebagai Ketua Amirul Hajj.

Selain Anda, siapa saja yang menjadi Amirul Hajj?

Amirul Hajj, terdiri dari ulama-ulama kita, yang beberapa di antara mereka adalah pimpinan lembaga, atau ormas-ormas Islam di Indonesia.

Lalu, apa tugas dan fungsi Amirul Hajj? 

Dia bertanggung jawab atas seluruh jemaah haji Indonesia di sana, termasuk juga melakukan koordinasi dan komunikasi kepada semua petugas haji, agar semua persiapan, penyelenggaraan, dan semua pelaksanaan ibadah haji di sana sesuai dengan harapan.

Selain itu?

Amirul Hajj secara kolektif bertugas membangun komunikasi dengan memenuhi undangan-undangan Pemerintah Saudi Arabia, termasuk juga dari Muasasah, baik Muasasah Asia Tenggara, maupun Muasasah Adilah yang ada di Madinah, dan sejumlah pihak otoritatif di Pemerintahan Saudi Arabia, dan beberapa misi, atau petugas haji dari negara-negara lain.

Dalam pertemuan-pertemuan itu, apa juga dibahas soal keinginan Indonesia menambah kuota haji?

Tentu itu, nanti bagian yang akan kita sampaikan. Bagaimana pendekatan proporsionalitas berdasarkan jumlah umat muslim di setiap negara yang dijadikan acuan Pemerintah Saudi Arabia selama ini dalam menentukan kuota di sejumlah negara, mungkin sudah perlu direvisi kembali. Jadi, itu mungkin perlu diperbaiki lagi, karena itu sudah tidak relevan lagi.

Buktinya?

Ada negara-negara yang tidak bisa menyerap secara maksimal kuota-kuota yang ada pada mereka. Tetapi, di sisi lain ada negara-negara lain, jangankan tidak terserap, bahkan antreannya itu sampai puluhan tahun. Jadi, perlu ada ketentuan baru. Misalnya, mungkinkah kuota-kuota yang tidak terserap maksimal itu bisa dilimpahkan, atau diserahkan kepada negara-negara yang memang antreannya panjang sekali, sehingga kemudian ada keseimbangan baru dalam pemanfaatan kuota ini.

Jadi, itu menjadi salah satu agenda Anda?

Iya, tentu. Bahkan ,itu tidak hanya dilakukan pada tahun ini. Setiap tahun, sejak 2014, sejak saya menjadi menteri.

Sejauh ini, bagaimana proses pelaksanaan haji secara keseluruhan?

Alhamdulillah. Kita sangat bersyukur dari tahun ke tahun, minimal dua tahun belakangan ini penyelenggaraan haji di Indonesia trennya membaik. Itu terbukti, dengan angka indeks tingkat kepuasan jemaah kita yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, angkanya naik dan kita harapkan tahun ini pun bisa naik. Dan, kita juga menerima banyak apresias,i tidak hanya dari jemaah haji kita sendiri, tetapi juga dari Tim Pengawas yang di Dewan Perwakilan Daerah yang di Dewan Perwakilan Rakyat RI itu juga ada peningkatan.

Sebenarnya, apa yang masih menjadi kendala dalam penyelenggaraan haji?

Dari waktu ke waktu, tentu masalahnya berbeda-beda, karena manajemen haji ini kan terus berubah dan berkembang. Yang harus dipahami terlebih dahulu adalah selain Indonesia itu sebagai negara penyumbang jemaah haji terbesar di dunia, penyelenggaraan haji itu sendiri berada di luar negeri, bukan di negeri kita. Ini yang orang sering lupa.

Karena ini gawenya negara orang, tentu regulasinya, budayanya, tradisinya berbeda. Itu dulu harus dipahami. Sehingga, pemerintah selaku penyelenggara juga memiliki keterbatasan dan tidak bisa leluasa untuk mengeksekusi apa yang bisa dilakukan. Karena, kebijakan-kebijakannya itu tidak berada pada tangan kita, dan kita harus tunduk dan patuh kepada kebijakan Kerajaan Saudi Arabia.

Selain itu?

Jemaah haji kita dari tahun ke tahun itu berbeda-beda orangnya. Jadi, tahun ini tidak kurang dari 98,4 persen dari total kuota kita yang naik haji adalah orang yang pertama kali berhaji. Kuota kita kan 155.200 yang reguler, selain itu ada 13.600 itu yang khusus. Paling sekitar 2484 orang yang sudah pernah berhaji. Artinya, jemaah haji kita itu juga baru pertama kali, bahkan jangankan ke luar negeri keluar dari kabupatennya aja banyak yang belum pernah.

Dampaknya?

Disparitas, atau kesenjangan dari karakteristik dari jemaah haji kita sangat tinggi. Ada yang belasan kali, atau beberapa kali pergi ke luar negeri, dan ada juga orang yang belum pernah pergi ke luar negeri. Ada belasan, bahkan puluhan orang yang bisa berbahasa internasional, dan banyak sekali orang yang tidak bisa. Jangankan bahasa asing, bahasa Indonesia saja, bahkan banyak yang tidak bisa. Nah, ini sangat penting dipahami kompleksitas penyelenggaraan ibadah haji itu.

(KUTIPAN LEBIH LENGKAP KLIK WWW.VIVA.CO.ID)

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *