Memaknai Posisi Guru Mendidik Generasi Serba Digital

Oleh: Risa Rahmani, S.Pd, Guru Mapel Biologi dan PKWU di SMAN 1 Bengkalis

DUNIA memang sudah berubah. Batas ruang dan waktu sudah dikaburkan dengan digitalisasi kemajuan teknologi komunikasi sehingga semua bisa diakses dengan cepat. Kapan pun, dimana pun dan apa pun informasi dimaukan semua sudah tersajikan. Proses belajar pun secara perlahan tapi pasti tentu akan berubah. Buktinya, proses belajar mengajar di masa pandemi Covid-19 yang merubah seratus persen belajar tatap muka menjadi darling dan luring.

Sebagai seorang guru, berposisi diistimewakan dalam segala keadaan baik sebagai pendidik maka guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas, belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Artinya, guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi untuk membantu proses perkembangan siswa. Penyampaian materi pelajaran hanyalah merupakan salah satu dari berbagai kegiatan dalam belajar sebagai suatu proses yang dinamis dalam segala fase dan perkembangan siswa.

Oleh sebab itu, antara guru dan siswa haruslah dibina hubungan yang harmonis antara satu dengan yang lainnya. Apalagi dengan tugas guru mempersiapkan generasi manusia yang dapat hidup dan berperan aktif di masyarakat. Oleh karena itu, tidak mungkin pekerjaan seorang guru dapat terlepas dari kehidupan sosia dalam capaian untuk menjadi seorang guru yang profesional.

Penting seorang guru menjadi guru yang profesional dalam mendidik generasi serba digital disebabkan ada sebuah kreativitas dan inovasi diri untuk terus ikut dengan segala perubahan yang terjadi. Oleh sebab itu, guru profesional yang ditandai oleh empat macam kompetensi (paedagogik, kepribadian, sosial dan profesinal) menjadi sebuah persyaratan yang mutlak.

Apalagi dalam kriteria kompetensi pedadogik dan kompetensi sosial sebagaimana tersebut di atas sudah memasukan unsur teknologi digital. Pada kompetensi pedagogik sudah dimasukkan keharusan pemanfaatan teknologi pembelajaran dan pada kompetensi sosial sudah dimasukan menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional.

Namun demikian, kriteria kompetensi pedagogik dan sosial tersebut masih perlu disempurnakan karena beberapa alasan. Pertama, jarak waktu yakni tahun 2008 ketika Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 sampai dengan sekarang untuk melihat perkembangan teknologi digital sudah cukup lama, karena ekspansi dan ekselerasi inovasi teknologi digital pada setiap tahun selalu mengalami perkembangan yang luar biasa. Seseorang yang hidupnya selalu mengikuti perkembangan teknologi digital akan tidak pernah berhenti untuk menyediakan waktu, pikiran dan dana untuk mengadakan, mencari dan memburunya, karena tanpa itu, kelengkapan sarana dan prasarana kehidupannya akan terasa kurang, dan social psychologinya akan terasa terganggu, ia merasa dirinya sebagai orang yang kurang up to date.

Selanjutnya, walaupun kriteria guru profesional tersebut di atas sudah bernuansa teknologi digital, yakni menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional serta pemanfaatan teknologi pembelajaran, namun kriteria tersebut belum secara eksplisit menyebutkan teknologi digital. Kemudian kalaulah dipahami bahwa teknologi secara harfiah berarti ilmu tentang teknik. Ia merupakan aplikasi dari sintesis sains atau natural sciencies dengan teknik. Sains adalah hasil penelitian empirik berupa observasi dan eksperimen yang dirumuskan dengan bantuan akal pikiran. Sedangkan teknologi adalah aplikasi atau cara-cara penerapan sains dalam realitas kehidupan melalui eksperimen dan kegiatan piloting selama bertahun-tahun.

Disamping itu, yang harus dipahami adalah bahwa teknologi memiliki karakter dan budayanya sendiri. Sebuah cangkul misalnya, adalah teknologi tradisional yang amat sederhana. Namun ketika seseorang akan menggunakannya ia harus mengikuti logikanya, misalnya cara memegangnya, cara mengayunkannya, posisi orang yang menggunakannya, arah yang dikenai sasaran dan sebagainya. Tanpa mau mengikuti logikanya, maka cangkul yang dibuatnya itu akan menjadi senjata makan tuan. Ia tidak akan menghasilkan tanah yang gembur, melainkan kaki yang baba belur.

Demikian pula teknologi digital, walaupun ia buatan manusia, namun ia memiliki logikanya sendiri. Manusia yang menggunakannya harus mengikuti logikanya itu. Di antara logika teknologi digital adalah: Sistemik. Yakni bahwa ia dirancang dalam sebuah sistem yang canggih, yaitu suatu keadaan di mana antara satu bagian dengan bagian lainnya saling berkaitan dan berurutan. Satu sistem akan tampil dan berfungsi sebagaimana mestinya, apabila satu sistem yang lain yang merupakan patner yang merupakan pre-requisitenya sudah ada. Karena sistem tersebut selalu di up date, maka seseorang yang akan menggunakannya harus terus meng update kemampuan memahami perkembangan sistem tersebut.

Yang kedua adalah Netral. Pada dasarnya teknologi digital atau teknologi apapun bersifat netral. Ia tidak baik atau tidak buruk oleh dirinya sendiri, melainkan amat bergantung pada manusia yang merancang dan menggunakannya. Jika orang yang merancangnya memasukan sistem, program atau menu yang tidak baik, kotor, seperti gambar, video atau film porno, atau tindakan kekerasan, maka teknologi tersebut menjadi kotor, dan orang yang menggunakannya akan terkena pengaruh buruk, misalnya ia terdorong untuk melakukan perbuatan buruk tersebut.

Sebaliknya, jika orang yang merancangnya memasukan sistem, program atau menu yang baik, seperti menu bacaan atau hafalan al-Qur’an, bacaan do’a, taushiyah, kegiatan sosial keagamaan dan gambar-gambar yang membangkitkan spiritualitas, maka orang yang menggunakannya akan terdorong untuk melakukan hal-hal yang baik. Dengan karakter teknologi digital yang demikian, maka penggunaan teknologi digital tergantung pada manusia yang merancang dan menggunakannya.

Dalam kaitan ini, maka pemberian wawasan yang benar dan komprehensif tentang teknologi digital, serta landasan moral dan etik yang berbasis pada nilai-nilai agama, budaya, tradisi, dan kearifan lokal, nasional dan internasional perlu dimiliki oleh setiap orang yang menggunakannya. Ketiga adalah terbatas. Artinya, walaupun teknologi digital tersebut sudah semakin canggih dan telah dapat melayani kebutuhan manusia terutama dalam membangun komunikasi dan melakukan tukar menukar informasi, namun ia tetap saja terbatas. Ia tidak dapat berbuat sendiri, tidak bisa menentukan dirinya sendiri, ia tidak memiliki perasaan, keinginan, dan kehendak atas dirinya sendiri.

Oleh sebab itu, sehebat apapun kemampuan teknologi digital, ia tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia. Teknologi sehebat apapun tidak akan dimintakan pertanggung jawaban, yang dimintakan tanggung jawab adalah orang yang menggunakannya. Maka disinilah peran seorang guru harus mengarahkan dan memberikan pemahaman kepada anak didiknya untuk selalu menempatkan kemajuan teknologi kepada posisi yang positif. Sebab figur seorang guru tentunya akan mewarnai karakteristik-karakteristik muridnya, karena murid itu adalah tempat seorang guru. Guru pintar maka murid pun bisa menjadi pintar, akan tetapi mustahil seorang murid belajar dengan guru yang tidak pandai, karena kepandaian keahlian gurulah maka seorang anak melakukan proses pembelajaran dan anak menjadi muridnya. ***

Bagikan Artikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *